Untukmu

0
39
views
untukmu

Anisa, maaf kamu tidak bisa ikut ujian semester ini, tunggakan kamu masih begitu banyak. Kamu hanya bisa ikut ujian jika kamu bisa melunasinya,” ucap seorang perempuan setengah baya pada Anisa.

“Bu, tolong izinkan saya ikut ujian,” Anisa memohon.

“Maaf tidak bisa, ini sudah kebijakan kampus!” Perempuan itu menekankan.

Sore harinya, terlihat Anisa yang tengah duduk terdiam di teras rumah. “Ada apa? Kok murung gitu, Dek?” Tanya Zahra, Anisa tak menjawab. “Besok ujian semester ya?”

“Anisa enggak ikut ujian, Kak.”

“Kenapa?” Zahra terkejut.

“Tunggakan Anisa terlalu banyak, Kak. Jadi Anisa enggak boleh ikut ujian sebelum melunasinya.”

“Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin, Dek?”

“Aku enggak tega sama Kakak!”

“Kamu ini, Nis. Ya sudah kakak pergi dulu.” Zahra beranjak dari tempat duduknya.

“Kakak mau kemana?”

“Kamu enggak usah khawatir. Kamu besok harus ikut ujian.”

Keesokan harinya, “Kenapa kakak dari semalam enggak pulang?” Anisa kebingungan. “Assalamualaikum.” Terlihat seorang laki-laki berseragam menghampiri Anisa. “

Waalaikumsalam. Ada apa, Mas?”

“Benar kamu yang bernama Anisa?”

“Ya, benar.” Anisa mengangguk.

“Kakakmu, Zahra, menitipkan ini untukmu,” laki-laki itu memberikan sebuah bingkisan berwarna kuning pada Anisa. Dengan perlahan ia buka bingkisan itu dan membuka lipatan kertas yang terselip di dalamnya.

Assalmualaikum, adikku sayang. Maafkan kakak saat kamu menerima pemberian kakak ini kakak tak bisa berada di hadapanmu. Hari ini kamu bisa ikut ujian, sayang, dan jaga dirimu baik-baik. Semua kakak lakukan hanya untuk kamu, jadilah kamu kebanggaan kakak. Wassalam

“Apa maksud semua ini? Kak Zahra di mana?”

“Kakakmu semalam tertabrak, dan ia tak mampu bertahan, sebelum ia menutup matanya ia sempatkan menulis ini dan ia juga sudah menjual semua organ tubuhnya pada rumah sakit.”

“Apa? Tidak mungkin, aku enggak percaya kalau Kak Zahra meninggal!” Anisa menjerit histeris. “Pasti kamu bohong!” Anisa menangis tanpa henti.

“Ikhlaskan kakakmu, Nis, itu semua tidak lepas dari kehendak-Nya. Kamu jangan kecewakan dia.” Laki-laki itu meninggalkan Anisa.

Anisa menjerit meratap. Dia sudah kehilangan kakak tercintanya dan tak akan pernah kembali.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here