Doktor Husni Dan Aksaranya

0
19
views
doktor husni
Dr. Husni bersama keluarga dan tim penguji

Oleh: Muhammad Hilal

Siang itu, sengaja saya meluncur ke UIN Malang dengan sepeda motor, tidak pakai mobil bersama rombongan. Bukan apa-apa, kendaraan di Malang sudah sangat padat, saya tidak mau terjebak macet pas berangkat-pulang.

Rombongan dosen dan staf IAI Al-Qolam berangkat ke UIN Malang untuk menghadiri undangan Bapak Husni.  Dia sedang ujian terbuka untuk mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji. Sehabis ujian, Bapak Husni akan resmi mendapat gelar doktor.

Ruangan di lantai empat gedung pasca sarjana ini sudah banyak para pengunjung. Saya datang terlambat. Mereka semua duduk di kursi yang menghadap 7 orang penguji, dan di samping mereka berdiri Bapak Husni di belakang podium, bersiap menangkis keroyokan 7 orang tadi.

Judul disertasinya adalah “Strategi Kepala Madrasah Dalam Mengembangkan Budaya Mutu: Studi Multikasus Di MAN Gondanglegi, MSN Turen, dan MA Raudlatul Ulum Ganjaran Gondanglegi Kabupaten Malang”.

Para dosen dan staf Al-Qolam pun sudah duduk di sekumpulan kursi, menyaksikan pertunjukan itu. Mereka semua menunggu hasil akhir pergulatan Bapak Husni yang di depan sana sibuk berjibaku dengan pertanyaan-pertanyaan kejam para penguji.

Hingga saat para profesor penguji itu rehat untuk mendiskusikan hasil akhir ujiannya di ruang lain, semua mulai ramai berbisik dan mengobrol. Tercium kesan harap-harap cemas mengenai apa predikat yang akan diumumkan para profesor itu untuk Pak Husni.

***

Sungguh sebuah kebetulan yang manis bahwa hari penobatan Pak Husni jatuh pada tanggal 8 September. Hari itu, tentu saja, adalah Hari Aksara Internasional (HAI). Jika kita percaya pada kaidah nothing happens by accident, kita bisa bilang bahwa ada tangan tak-kasat mata yang mengatur promosi doktoral Pak Husni bertepatan dengan keaksaraan. Ada pesan tersurat di balik kebertepatan ini.

International Literacy Day yang kemudian diindonesiakan menjadi Hari Aksara Internasional pertama kali ditetapkan oleh UNISCO pada 17 November 1965. Saat itu, utusan menteri seluruh anggota PBB berkumpul di Teheran, Iran, dan menyepakati 8 September sebagai hari aksara. Sejak itu, tiap tahun diadakan peringatan di semua negara anggota PBB, yang dilakukan dengan berbagai kegiatan dan didanai oleh negara dengan tema berbeda-beda.

Tidak terkecuali di Indonesia. Tahun lalu, tema HAI yang diusung Indonesia adalah “Aksara dan Budi Pekerti”, yang puncaknya diadakan di Karawang Jawa Barat. Tema itu sedikit berbeda dengan tema yang diusung oleh UNISCO, Literacy and Sustainable Society.

Tahun ini apa temanya dan diadakan di mana? Usut punya usut, ternyata peringatan HAI bertema “Aksara dan pembangunan Lingkungan”, puncak acaranya akan diadakan di Palu, Sulawesi Tengah, pada tanggal 10 Oktober. Jadi peringatannya sangat terlambat sekali, tidak tepat dengan hari penobatan Pak Husni sebagai doktor.

***

Seorang pembawa acara mengatakan bahwa waktu rehat sudah selesai, dan dia mempersilakan para penguji untuk memasuki ruangan. Juga Pak Husni, dia diminta untuk berdiri di depan para penguji. Pengumuman gelarnya sudah akan disampaikan.

Berdiri di situ, saya membayangkan ada bercokol dalam benaknya sebuah kenangan. Kenangan tentang upaya kerasnya menyelesaikan kuliah doktoralnya. Empat tahun sudah, dan saat itu adalah penentuannya, apakah kuliahnya akan genap saat itu atau tertahan kerikil yang membuatnya harus lanjut.

Suara ketua sidang akhirnya terdengar. “Dengan ini,” katanya, “Saudara Muhammad Husni sudah resmi menyandang gelar doktor dengan predikat memuaskan.” Semua peserta bertepuk tangan.

Kini, kita sudah bisa memanggilnya Doktor Husni.

***

Aksara berasal dari bahasa Sansekerta, berarti “abadi”. Secara lughawi, ia terdiri dari dua kata: “a” berarti tidak dan “kshara” berarti termusnahkan. Ini adalah istilah yang sangat bagus menggambarkan bahwa keabadian sangat berkaitan dengan huruf-huruf dan bahasa.

Lalu kita sontak akan teringat pada ucapan Pramoedya Ananta Toer yang sangat terkenal itu, “menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Ucapannya yang lain: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Tepat di titik inilah saya ingin memaknai kebertepatan itu. Bahwa gelar doktor Pak Husni didapatnya bertepatan dengan HAI bisa kita tafsirkan sebagai cermin utuh tentang asa yang bernafas panjang: keberaksaraan atau literasi.

Anggapan bahwa keberaksaraan hanya urusan membuat orang bisa membaca adalah salah kaprah. Sekadar melek huruf sejatinya hanyalah tahap paling primitif dari keberaksaraan. Agar bisa disebut beraksara, ada tahapan-tahapan lebih lanjut yang harus dicapai. Dengan tahapan lanjutan inilah kaitan aksara dengan kebutuhan riil masyarakat akan terlihat dengan sangat gamblang.

Dan Dr. Husni adalah contoh nyata dari tahapan lanjutan itu. Gelar doktor semata tidak berarti apa-apa tanpa aksara yang dia tulis dan pertahankan. Justru dalam disertasinyalah tanggal 8 September itu bermakna sangat penting.

Perayaan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional begitu relevan dengan ujian disertasi Dr. Husni. Dia sangat beruntung, sebab pada saat bersamaan, ujian disertasinya menjadi sebuah perayaan HAI. Dan bukan sembarang perayaan, Dr. Husni mempertontonkan cara perayaan yang sangat elegan, tanpa hiruk-pikuk, tanpa pesta pora. Dia cukup merayakannya dengan tulisan yang dia buat sendiri.

Jika kelak ada yang mengenang Pak Husni, maka dia akan dikenang karena disertasinya, sebab disitulah dia bubuhkan aksaranya: keabadiannya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here