Meneguhkan Kembali Kampus Riset Di IAI Al-Qolam

0
18
views
kampus riset
Gedung IAI Al-Qolam. Doc: Platinum

Oleh: Muhammad Hilal

BEBERAPA saat yang silam (27/7/16), diadakan halalbihalal di IAI Al-Qolam. Acara ini sekaligus menjadi ajang sosialisasi beberapa hal bagi para dosen dan staf guna dilaksanakan pada tahun ajaran baru yang menjelang.

Yang menarik untuk diikuti, acara ini merupakan momentum evaluasi bersama terkait beberapa hal agar visi-misi IAI Al-Qolam makin membumi. Yang terdengar saat itu, ada evaluasi di bidang penguatan pelayanan, di bidang penguatan jaringan alumni dan peneguhan identitas kampus sebagai kampus berbasis pesantren. Pada tulisan ini izinkan saya menjelentrehkan evaluasi kampus di bidang riset, sebab dalam visi-misi tercantum itikad menjadikan kampus kita sebagai kampus riset.

Apa yang perlu dievaluasi dari riset kita? Menurut saya: penguatan infrastruktur riset.

Secara umum di kampus-kampus dalam negeri, infrastruktur penelitian memang salah satu yang kerap dikeluhkan oleh berbagai pihak, baik pihak pemerhati maupun praktisi riset. Banyak pelaku riset anak negeri yang terpaksa menyeberang keluar negeri karena di sana infrastrukturnya lebih memadai—dengan mengabaikan faktor lain selain infrastruktur. Ada pula tudingan bahwa lemahnya aspek riset di perguruan tinggi karena minimnya segi infrastruktur ini.

IAI Al-Qolam berusaha menjawab tantangan lemahnya riset di perguruan tinggi itu dengan memulainya bahkan dari hilir: sejak dari visi. IAI Al-Qolam menyatakan dirinya—atau sekurang-kurangnya bercita-cita menjadikan dirinya—sebagai kampus riset. Oleh sebab ia adalah kampus riset, maka berbagai kegiatan di dalamnya adalah kegiatan riset atau berdasarkan kegiatan riset.

Selain itu, berbincang soal infrastruktur riset berarti berbincang tentang dua hal: perangkat kasar dan perangkat lunak. Ibarat sebuah komputer, riset memerlukan dua piranti ini agar kinerjanya bisa berlangsung baik. Keduanya pun harus diupayakan seimbang dan kompatibel. Speck perangkat lunak yang tinggi jika digunakan dalam perangkat keras rendah tidak akan menghasilkan performa yang bagus; komputer itu akan lemot. Pun speck perangkat keras yang tinggi jika hanya menggunakan perangkat lunak krucuk-krucuk tidak akan menunjukkan kinerja baik, sebab akan ada fasilitas yang mubazir tidak terpakai.

Ilustrasi komputer untuk menggambarkan situasi riset kita kiranya bisa membantu.

Apa yang saya maksud dengan perangkat kasar dari infrastruktur riset kita, terutama, adalah literatur dan laboratorium. Pada hakikatnya, kita sudah memiliki pangkalan literatur berupa perpustakaan yang bisa diakses oleh seluruh sivitas akademika. Hanya saja, kondisi perpustakaan kita kerap dikeluhkan karena kurang menyediakan kebutuhan sivitas akademika dalam kegiatan riset. Rupanya, inilah tantangan ke depan dan panjang IAI Al-Qolam untuk mengaktualisasikan visinya sebagai kampus riset.

Apa yang diperlukan dalam upaya itu bukanlah sebuah perpustakaan yang berisi segalanya, namun setidaknya memuat dengan baik dan memadai bidang-bidang ilmu yang sedang digeluti tiap komponen sivitas akademis kita. Hanya saja, oleh sebab kita mencita-citakan sebuah kampus riset, dan rasa ingin tahu orang tidak bisa dibatasi pada sekat-sekat disiplin ilmu tertentu, dalam jangka panjang ke depan akan dibutuhkan juga sebuah perpustakaan yang memadai untuk menyalurkan rasa ingin tahu itu.

Adanya fasilitas keterhubungan internet di kampus kita adalah modal yang sangat besar. Internet seharusnya bisa menutupi keterbatasan literatur ini. Jika kita kesulitan menyediakan literatur cetak, buku elektronis bisa menjadi alternatifnya. Saat ini di kampus kita sedang dikembangkan ketersediaan buku elektronis. Satu per satu buku-buku maya itu sedang dientri ke dalam suatu perpustakaan digital. Prakarsa ini tak disangsikan lagi adalah jalan membentang yang bisa melempangkan cita-cita tersebut. Pihak sivitas akademika sebetulnya sudah bisa mengakses literatur ini, namun sosialisasinya masih sangat terbatas.

Perangkat kasar lain yang tak kalah penting adalah insentif bagi para periset kita. Selama ini sebetulnya sudah ada insentif per tahun dari LP3M kita untuk para peneliti di kampus kita, baik dari kalangan dosen, mahasiswa maupun kolaborasi antara keduanya. Kuota per tahun memang tidak sama, jumlahnya pun tidak serupa.

Ketersediaan ini sekiranya bisa membangun iklim riset yang lebih baik di kampus kita. Hanya saja, ketersediaan itu belum tersosialisasi dengan penuh terkait, misalnya, mekanisme pengajuan, ketersediaan, penuh-tidaknya, mekanisme pelaporannya, kapan dan di mana pendaftarannya, dan lain sebagainya. Semuanya masih tampak gelap. Hal ini layak dijadikan bahan evaluasi.

Apakah prakarsa LP3M semata cukup untuk membangun dan sekaligus menampung iklim riset kita? Barangkali sekarang masih dirasa cukup. Tapi di kemudian hari, seiring meningkatnya iklim itu, bertumpu kepada LP3M semata jelas tidak akan memadai. Prakarsa itu masih perlu ditambah dari fakultas/prodi, pusat studi, Lembaga Jaminan Mutu (LJM), atau apapun. Bahkan pihak kampus juga perlu memperluas jaringan dengan berbagai pihak luar dalam bidang ini. Inilah tantangan kita ke depan.

Di samping perangkat keras, kita juga memerlukan perangkat lunak infrastruktur riset. Dan apa yang dimaksud dengan perangkat lunak adalah kultur. Kultur di sini dimaksudkan sebagai mindset kita dalam mengakumulasi pengetahuan. Sebuah pola pikir yang dibangun di atas fondasi tertentu belum tentu mendukung iklim riset. Dan sebagai sebuah bahan evaluasi, kultur riset merupakan tantangan lain yang juga niscaya untuk dihiraukan.

Kultur riset dibangun di atas mindset akumulasi pengetahuan. Pola akumulasi pengetahuan dimaksud adalah pola mengarsip hasil analisis. Ada dua kata kunci dari kalimat sebelumnya, yakni “arsip” dan “analisis.” Analisis adalah kegiatan menghubungkan dua variabel sehingga tercapai suatu kesimpulan. Analisis paling sederhana, yang bisa kita lakukan dalam obrolan warung kopi, adalah menghubungkan teori dengan realitas. Analisis dalan riset umumnya membutuhkan alur yang lebih banyak lagi selain teori dan realitas.

Selain analisis, pola akumulasi pengetahuan yang perlu dibangun adalah pengarsipan. Pengarsipan yang dimaksud di sini tidak perlu seperti yang dilakukan oleh kerja sekretaris, namun lebih kepada kegiatan pelaporan tertulis dari kegiatan ilmiah. Pelaporan itu disimpan sebagai bahan bagi praktisi atau peneliti selanjutnya. Dengan demikian, semakin iklim pengarsipan ini dibangun, semakin akan terbentuk suatu rentetan riset yang berkelanjutan. Itulah tujuan pengarsipan.

Pengarsipan yang paling umum di lingkungan ilmiah adalah dengan artikel atau buku. Seiring perkembangan media pengarsipan, video, fotografi dan audio kini sudah bisa diakui.

Arsip ini akan memenuhi perpustakaan kita agar bisa diakses luas oleh para praktisi dan peneliti lain. Ini cocok sekali dengan adagium, “jika perpustakaanmu terbatas, maka isi sendiri, tidak perlu menunggu sumbangan pihak luar.”

Akumulasi pengetahuan yang polanya menghafal semata jelas tidak mendukung kultur riset. Menghafal adalah tindakan menyimpan informasi dalam memori. Padahal, riset menuntut kebaruan dan produksi hal baru, bukan mereproduksi informasi secara berulang-ulang.

Terkait dengan pengarsipan ini, perlu digalakkan lagi terbitan kampus. Bila yang hendak kita bangun adalah suatu kerja pengarsipan yang bisa diakses oleh siapapun, maka terbitan oleh kampus sendiri adalah kebutuhan tak terelakkan. Sejauh ini, IAI Al-Qolam sudah memiliki Q Press, lembaga penerbitan oleh kampus sendiri, dan sudah terdapat beberapa produk cetak yang sudah dihasilkan. Kita juga sudah memiliki Jurnal Pusaka, sebuah jurnal ilmiah yang terbit per semester dan menampung artikel-artikel ilmiah di bidang studi keislaman. Media-media ini kiranya merupakan salah satu pintu yang bisa menghantarkan kepada visi di atas.

Di kalangan mahasiswa sendiri, banyak penulis temui buletin-buletin yang diterbitkan oleh mahasiswa sendiri, oleh BEM, UKM ataupun klub diskusi tertentu. Buletin semacam ini diterbitkan dan dikonsumsi oleh kalangan mahasiswa sendiri, dan pada tingkat tertentu merupakan arena diskusi mereka.  Tersebarnya buletin semacam ini akan membangun budaya peer review antar sesame mahasiswa, dan kelak pada gilirannya akan terbentuk budaya diskusi dan debat ilmiah yang melibatkan karya tulis mereka sendiri. Budaya semacam ini jelas menopang kultur riset yang IAI Al-Qolam hendak bangun. Oleh karena itu, memfasilitasi buletin-buletin semacam ini sejatinya adalah bagian dari upaya membumikan visi itu sendiri.

Berikutnya, barangkali ada pentingnya pula kita perbincangkan sekadarnya soal apa yang perlu dihindari dari upaya meningkatkan kedua perangkat riset itu. Hal ini akan jadi tema tulisan ini sebelum penutup.

Mulai kini, kita perlu mensosialisasikan bahaya dan imbas negatif dari plagiarisme terhadap keberlangsungan visi-misi ini. Tidak banyak yang bisa kita harapkan dari kampus ini—dan perguruan tinggi pada umumnya—bila plagiarisme masih menjadi kebiasaan membuat makalah atau tulisan lain. Ia akan menjadi semacam kanker yang menggerogoti kesehatan iklim riset yang hendak dibangun di kampus ini.

Dalam jangka pendek, barangkali akan bermanfaat bila gerakan anti plagiarisme itu kita sosialisasikan di dalam kampus semata. Semuanya dibikin bersepakat untuk membuang jauh-jauh kebiasaan plagiat dalam bentuk apapun. Namun, untuk jangka panjang, sosialisasi di kampus semata tidak akan memadai. Sejauh pengamatan penulis, plagiarisme menjadi kebiasaan karena sejak masa sekolah belum ada pelajaran yang menuntut siswa menulis dengan baik. Padahal, siswa-siswa yang belum belajar menulis inilah yang kelak akan memasuki kampus yang mencita-citakan iklim riset yang kuat. Karena tak pernah bikin tulisan sejak masih siswa, solusi yang terpikir dalam benak adalah plagiat. Dengan demikian, ada perlunya juga IAI Al-Qolam melakukan sosialosasi ke wilayah yang lebih luas hingga mencapai ranah anak sekolah, dengan cara luring maupun daring.

Aspek lain terkait membuang plagiarisme ke bak sampah ini adalah tugas akhir mahasiswa. Perlu dibangun tata kelola, mulai dari pendaftaran judul skripsi hingga pengarsipannya di perpustakaan, yang menghindari plagiarisme. Lemahnya tata kelola ini menyebabkan banyak sekali skripsi yang belum terlacak orisinalitasnya.

Yang jauh lebih menakutkan dari pembuatan tugas akhir ini adalah kenyataan bahwa banyak predator yang mencari laba dari jasa pembuatan skripsi. Para predator ini akan menawarkan jasanya kepada mahasiswa tingkat akhir dengan tarif tertentu. Lemahnya kemampuan menulis dan tenggat waktu yang mengejar si mahasiswa menjadikan tawaran itu sangat menggiurkan. Hingga kini, adanya predator ini sudah tertangkap sinyal radar kampus, namun titik koordinatnya masih belum terdefinisikan.

Kenyataan ini jelas sangan relevan dengan evaluasi kampus kita sebagai kampus riset. Yang niscaya dibenahi adalah tata kelola internal kita di bidang tugas akhir. Bila tata kelola kita masih menoleransi tugas akhir hasil garapan predator ini, bisa dipastikan terbentuknya kampus riset masihlah angan panjang. Kampus riset perlu mengelola tugas akhir sebagai cerminan riset yang berguna buat pengembangan lebih lanjut, baik secara teoritis maupun praktis.

Lalu, barangkali kini sudah saatnya kita tutup tulisan singkat ini. Patut diakui bahwa tulisan ini terlalu lambat dihasilkan, sebab halalbihalal yang disebutkan di atas sudah lama berlalu. Namun, sebagai sebuah sumbangan bahan evaluasi, penulis berketetapan hati agar tetap menyelesaikannya dan menghidangkannya ke hadapan sidang pembaca sekalian.

Diskusi lebih lanjut tentu penulis sangat harapkan, baik melalui obrolan hangat maupun melalui tulisan balasan. Penulis percaya, dengan seringnya visi kampus riset diwacanakan akan lahir gagasan-gagasan kreatif untuk dieksekusi secara praktis. Visi adalah upaya mewujudkan realitas yang belum maujud. Sekadar mengulang cara lama, wujud baru itu hanyalah tinggal cita-cita belaka, bukan?[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here