Dia Enggan Menyerah

0
72
views
Afif Al-Fariq
Sumber gambar: www.facebook.com/afifalfariqfr

Kedatangan Afif Al-Fariq, seorang penggiat literasi asal Kalimantan Barat, membuka banyak wawasan tentang kondisi literasi kaum santri di bumi khatulistiwa itu. Wawasan itu bisa disimpulkan sebagai harapan. Harapan itu tidak saja meningkatnya para penggiat literasi di sana, namun juga terbukanya pintu kerjasama antara penggiat literasi di sana dengan di Malang.

Mari sejenak kita berkenalan dengan Afif Al-Fariq ini. Di sela-sela itu, kita bicarakan apa yang dimaksud dengan harapan di atas.

Afif adalah penulis muda kelahiran Sui Ambawang, Kalimantan Barat. Karyanya terbilang banyak: 10 novel sudah diterbitkannya. Dia mengaku sudah sembilan tahun menggeluti dunia literasi. Hal-hal di atas adalah bukti bahwa pemuda ini serius dalam proses kekaryaannya.

Penulis memiliki rumahnya sendiri, kata seseorang yang saya lupa namanya. Tak peduli dari mana dia lahir, hidup dalam lingkungan seperti apa, atau apa latar belakang pendidikannya, seorang penulis akan tetap memijakkan kakinya dengan mantap. Demikianlah kiranya Afif Al-Fariq ini. Walaupun dia hanya mengenyam pendidikan pesantren yang non formal, juga hidup di sebuah perkampungan sunyi di Kalimantan Barat sana, proses kreatif yang dia jalani tetap penuh gelora dan sarat dedikasi. Barangkali hanya situasi yang benar-benar gawat saja yang akan menghentikannya untuk menulis.

Tidak mengherankan bila dia dan teman-temannya di Kalimantan Barat mendirikan komunitas yang dia beri nama Sanja, akronim dari Santri Jalanan. Komunitas ini, menurut pengakuan Afif Al-Fariq baru berdiri 4 bulan yang silam, namun jejaring yang dia sulam sudah sangat menjanjikan. Dia terjun ke bawah, mengajak anak-anak SMA di pesantren-pesantren untuk menggeluti dunia buku dan literasi. Dia juga mempromosikan hasil karya komunitasnya dengan cara menjemput bola, tidak seperti orang-orang di lingkungannya yang cenderung menunggu bola. Bila dia dan kawan-kawannya konsisten, komunitas ini bukan tidak mungkin akan membuahkan masyarakat yang melek literasi.

Alhasil, Afif Al-Fariq dan komunitasnya di Kalimantan Barat sana adalah sebuah harapan. Harapan bahwa kondisi masyarakat kita akan lebih baik. Dia berdiri sebarisan dengan kaum muda lain yang bersedia mengulurkan tangannya untuk merawat kebaikan dan mendobrak kebuntuan masa lalunya. Tentu, tidak ada harapan yang lebih baik ketimbang adanya kaum muda yang seperti dia, bukan?

Saya sering berjumpa dengan kaum muda yang rela pulang kampung demi memajukan lingkungan sekitarnya. Mereka memalingkan muka dari janji-janji palsu yang ditawarkan kota metropolitan. Dan setiap kali perjumpaan itu, ada firasat sangat kuat bahwa harapan akan masa depan yang lebih baik seharusnya digantungkan kepada mereka. Orang-orang ini berjuang di jalan kesunyian, tanpa lampu blitz kamera foto, tanpa sorotan kamera video, tanpa gegap gempita publikasi, namun mereka bergerak berderap dengan tangguh, menantang aral yang menghadang dengan kepercayaan kuat akan hari depan. Mereka berjejaring satu sama lain di bawah penglihatan orang banyak. Merekalah sebetul-betulnya motor perubahan.

Bila Taufik Ismail berupaya memperkenalkan sastra ke siswa-siswi sekolah, maka Afif Al-Fariq melakukannya di pesantren-pesantren. Dia bukan orang pertama yang melakukannya memang, tapi untuk kasus Kalimantan Barat Afif Al-Fariq dan komunitasnya adalah pelopor. Dia mengaku sudah menjalin kerjasama dengan 48 pesantren di sana, dan hingga kini sudah ada belasan pesantren yang dia singgahi untuk diajak bergiat di jagad literasi. Upayanya masih tergolong “kemarin sore”, tapi segala hal besar memang harus dimulai dari langkah pertama, demikian kata pepatah Cina.

Asyiknya pula, Afif Al-Fariq berkomitmen akan menulis novel tentang pesantren. Komitmen ini bukan tanpa alasan. Ada seorang dosen sastra pernah berkata kepadanya bahwa novel tema perkampungan dan, apalagi, pesantren tidak akan laku di pasaran. Perkataan itu telah menyinggung titik paling sensitif dalam hidup Afif Al-Fariq: identitas. Ini bukan sekadar pesantren atau perebutan pasar, namun lebih dari itu. Dia adalah santri. Orang tuanya pun santri. Semua orang dekatnya serba santri. Identitas kesantrian telah melekat dan menjadi kebanggaan hidup Afif Al-Fariq. Sekali identitas itu disinggung, maka saatnya untuk membuktikan bahwa santri tidak bisa diremehkan. Terus menulis adalah cara pembuktian paling efektif. Kemarin Afif Al-Fariq bercerita bahwa dia sudah memberikan “serangan balik” pertama. Dia berkunjung ke dosen itu, dia sodorkan novel terbarunya, lalu dia bilang, “mana karya bapak?” Sebuah serangan balik yang kejam!

Tapi itu masih pemanasan. Afif Al-Fariq masih harus terus berkarya, masih harus terus meningkatkan kapasitas pribadinya, baik sebagai penulis maupun sebagai manusia. Pada hakikatnya, seorangan penulis adalah seorang pembelajar di sekolah kehidupan. Tantangan yang dihadapinya, saya yakin, tidak akan berhenti di situ saja. Kata orang, menjadi fisikawan hanya perlu tahu fisika, menjadi astronom hanya perlu tahu ilmu astronomi, begitupun seterusnya, seorang ilmuwan hanya perlu tahu disiplin ilmu tertentu semata. Adapun menjadi penulis sastra haruslah mengetahui semua ilmu.

Pengalaman semacam itu, yakni pengalaman tersinggung identitas keakuan seseorang, tak pelak akan mendewasakan siapapun. Afif Al-Fariq terbilang beruntung mengalaminya dan, yang lebih dari itu, dia mampu membuat penyikapan yang tepat. Afif Al-Fariq berhenti menyerah. Dia menyikapinya dengan terus belajar dan berkarya.

Kemarin (25/02/17), novel terbarunya yang berjudul “Assalamualaikum Setan” dibedah di IAI Al-Qolam.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here