Absurditas

0
70
views
pementasan teater dara penuh absurditas

Oleh: Muhammad Hilal

Hidup itu absurd. Melawan absurditas, hanya ada dua pilihan: bunuh diri atau melawan!
– Albert Camus.

Di tengah banyak tersingkapnya ragam kepalsuan akhir-akhir ini, kita semakin tersadarkan bahwa problem multidimensi yang diidap oleh negeri ini sudah sangat kronis. Mulai dari ranah politik, hukum, pendidikan, ekonomi, hiburan, birokrasi, bahkan tak terkecuali ranah agama pun di negeri ini diselimuti oleh kepalsuan. Media sudah meliputnya secara besar-besaran.

Pementasan teater bertajuk “Perhitungan” yang dilakukan sekelompok mahasiswa di IAI Al-Qolam, Gondanglegi, Rabu (10/6/15) kemarin menjadi sangat relevan untuk dilihat sebagai media alternatif untuk menyoroti ragam problematika tersebut. Kita mafhum, seni mampu menyajikan perspektif secara lebih mendalam dan filosofis sehingga bisa mengajukan sudut pandang yang berbeda dalam membedah suatu persoalan.

Nuansa kritik sosial sudah terasa sejak permulaan pementasan itu. Seonggok empat mayat diceritakan bangkit dari kuburnya untuk menghadapi interogasi dari malaikat penjaga kubur. Keempat-empatnya adalah para pegundal di kala masih hidup. Pekerjaannya adalah dosa demi dosa, kekejian demi kekejian setiap hari.

Namun sebelum sang malaikat interogator datang, para mayat itu berbicara dan mengeluh satu sama lain. Menyalahkan ‘keadaan’ semasa mereka hidup yang memaksa mereka untuk berbuat keji dan jahat. Mereka adalah orang-orang yang dipaksa keadaan untuk mencuri, berbohong, berbuat curang, korup, munafik dan lain-lain keburukan. Singkat kata, para mayat itu menyesali perbuatan mereka sewaktu masih hidup, namun pada saat yang sama tidak mau disalahkan sepenuhnya sebab menurut mereka ‘keadaan’-lah yang menyebabkan mereka berbuat demikian.

Sejurus kemudian, salah satu mayat menyanggah sendiri protes mereka kepada keadaan. Dia bertanya, apa yang dimaksud ‘keadaan’? Kenapa kita begitu mudah menyerah kepada sesuatu yang disebut sebagai ‘keadaan’ tersebut? Selemah itukah kita? Seperkasa itukah ‘keadaan’?

Keadaan yang kerap disebut dalam pertunjukan itu tentu adalah kondisi kemiskinan, ketidakadilan ekonomi dan hukum, keterbelakangan pendidikan, ruwetnya birokrasi, dan kondisi-kondisi lain yang kerap memaksa seseorang untuk berbuat curang dan jahat. Kondisi-kondisi struktural itu seolah menjadi kambing hitam bagi berbagai macam persoalan yang terjadi belakangan ini, sehingga menjadi dalih bagi perilaku tak etis yang dilakukan oleh masyarakat.

Dengan demikian, para mayat itu seolah mengajak penonton melakukan kritik sosial sekaligus refleksi terhadap kedirian masing-masing. Di tengah-tengah kondisi krisis multidimensi seperti saat ini, selain diperlukan sikap kritis terhadap keadaan yang serba tidak beres, juga perlu dilakukan sikap mawas diri. Mawas diri berarti melakukan kritik ke dalam, sebab bukan tidak mungkin masing-masing diri kita adalah bagian dari persoalan yang sedang diprihatinkan bersama. Jika begitu, berarti kita tidak akan beranjak ke mana-mana. Kita akan selalu di dalam lingkaran persoalan.

Menyuarakan Wong Cilik

Kritik terhadap relasi antara masyarakat dengan pemerintah juga mengemuka dalam pementasan ini. Seperti diketahui bersama, terlalu dominannya peran pemerintah kerap menjadi persoalan tersendiri terhadap masyarakat. Terutama orang-orang kecil dan marjinal, masyarakat yang sudah terhimpit keadaan ini selain suaranya tidak terdengar, juga kerapkali dipaksa untuk menerima kondisinya secara begitu saja. kritisisme cenderung dibungkam.

Hal ini bukan barang baru di negeri kita. Pola hubungan patron-klien, pola kebijakan top-down, serta pemaknaan jabatan sebagai prestise dan bukan sebagai janji publik, tak pelak telah mempertahankan mental inlander warisan masa kolonial. Prinsip menginjak-injak yang lemah untuk meningkatkan kedudukan pribadi masih menjadi tren di kalangan pemerintah dan birokrat kita. Kondisi ini tampaknya gayung bersambut dengan mental masyarakat yang kurang lebih mirip, yakni cenderung inferior menghadapi para petingginya.

Hal ini ditunjukkan dengan bagus oleh pentas Teater Dara. Setelah sang malaikat interogator yang hendak memperhitungkan amal para mayat sudah muncul, mulailah dialog yang kocak antara dia dan para mayat itu. Para mayat mulai menyuarakan protes-protes lucu, seolah mereka ingin mendapat grasi dari Tuhan agar amal-amal mereka tidak diperhitungkan saat itu dan diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Alasannya jelas, sebab amal buruk yang dulu mereka lakukan bukan semata-mata kesalahan mereka, melainkan ada peran ‘keadaan’ juga. Kemiskinan, kebodohan, struktur ekonomi dan politik yang tidak adil, serta hukum yang tebang pilihlah yang menyebabkan semua kejahatan mereka semasa masih hidup. Kalau boleh, pinta mereka, sebaiknya mereka diberi kesempatan lagi.

Si malaikat langsung murka. Suaranya menggelegar saking marahnya. Para mayat busuk itu tidak tahu diuntung. Tidak mau bersyukur. Anugerah apa yang tidak mereka dapatkan kala di dunia? Negeri yang indah luar biasa, sangat subur, kekayaan lautnya melimpah melebihi negara manapun, tapi masih saja mengambinghitamkan keadaan. Justru kerena kebodohanlah yang membuat mereka mendapatkan keadaan buruk itu. Selain keadaan itu mereka sambut akibat kebodohan yang membutakan, diperburuk pula dengan tindakan jahat mereka yang serba merusak. Sekarang malah protes menuntut pengampunan dari Tuhan. Enak betul!

Teater Dara memberikan metafor yang menarik dalam pertunjukannya itu. Dialog yang kocak antara para mayat dengan malaikat penjaga kubur analog dengan kondisi yang tak seimbang antara rakyat dengan pemerintah. Harapan agar para wakil rakyat bisa memperjuangkan aspirasi mereka menjadi pupus karena justru para wakil mereka menjadi bagian dari masalah yang melilit keseharian mereka. Saat mereka mau protes, rakyat malah mendapat hardik dan murka pemerintah.

Namun pada saat yang sama, pertunjukan itu juga merupakan ajakan agar rakyat bisa reflektif ke dalam dirinya. Keadaan serba buruk memang sedang menimpa mereka, namun sikap apatis dan apolitis justru masih menjadi tren di masyarakat, dan sikap seperti ini akan menjadi bumerang bagi rakyat. Di tengah kondisi pancaroba yang serba tak pasti ini, sikap apatis dan apolitis sama dengan bunuh diri, dan itu bukan penyelesaian masalah.

Ajakan untuk tidak bersikap apatis dan apolitis senada dengan falsafah hidup yang diutarakan oleh Albert Camus, filsuf berkebangsaan Prancis, di atas. ‘Keadaan’ yang dikeluhkan oleh para mayat itu mirip seperti absurditas hidup yang ditangkap oleh Camus. Namun, meski begitu, bukan bunuh diri yang ditawarkan oleh Camus, melainkan melawan dan memberontak terhadap absurditas.

Pertunjukan yang dilakukan oleh Teater Dara memang tergolong sarat kejutan. Namun, uniknya, pesan yang ingin disampaikan amat gamblang dan mudah dicerna. Meskipun kesan surealisme begitu kuat dalam pertunjukan itu, namun dialog di antara setiap lakon sangat sehari-hari.

Selain itu, sungguhpun instrumen yang digunakan sangat sederhana, sekadar berbekal pencahayaan, kostum, alat musik serta koreografi seadanya, namun dengan tepat pengarahnya menekankan pada kekuatan dialog, sehingga mampu membuat penonton bertahan di tempat duduk tanpa rasa bosan. Berbalut humor yang cerdas, pertunjukan itu menjadi sangat efektif.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here