5 Keterampilan Dasar Yang Dibutuhkan Dalam Menyelesaikan Skripsi

0
192
views
panduan menyelesaikan skripsi
thesis. credit: https://www.flickr.com/photos/jaschong

Oleh: Muhammad Hilal

Banyak mahasiswa galau dan gundah gulana karena skripsi. Itu bisa dipahami, sebab bagi kebanyakan mahasiswa mengerjakan skripsi adalah pengalaman pertama melakukan penelitian sistematis. Jadi, seperti umumnya pengalaman pertama lain, segalanya jadi tampak gelap dan ribet.

Pada dasarnya, kegalauan itu tidak akan terjadi kalau mahasiswa bersangkutan sudah memiliki beberapa keterampilan tertentu yang bisa membantunya menggarap skripsi. Beberapa keterampilan itu pada dasarnya adalah pengembangan lebih lanjut dari pelajaran yang didapat sewaktu masih SMA dahulu.

Ibarat menyetir mobil, menggarap skripsi sejatinya bisa dilatih sejak awal kuliah. Cara melatihnya adalah dengan membiasakan beberapa keterampilan di bawah ini. Jika mahasiswa sudah terbiasa mempraktikkannya dan mahir mengoperasionalkannya, bisa dijamin kelak skripsinya tidak akan sulit diselesaikan.

1. Berpikir Yang Benar

Logika menyediakan cara yang paling jitu soal berpikir benar ini. Selama sekolah kita tidak diajari logika, padahal banyak mata pelajaran di sekolah membutuhkan Logika, sehingga banyak lulusan sekolah tidak memiliki keterampilan dasar ini.

Apa yang diperlukan dari Logika dalam kaitannya dengan skripsi adalah penyimpulan yang valid dari premis-premis yang kita susun. Bila premis-premisnya keliru, bisa dipastikan kesimpulannya akan keliru pula. Namun tidak sebaliknya, premis-premis yang benar belum tentu menghasilkan kesimpulan yang valid.

Skripsi pada dasarnya adalah sebuah alur berpikir yang sistematis dan logis. Di dalamnya terdapat selaksa premis-premis yang tumpang tindih sehingga membentuk satuan argumen yang saling terhubung satu sama lain. Dengan demikian, kemampuan menyusun premis-premis yang runtut hingga mencapai kesimpulan akhir amat diperlukan di dalam menyusun skripsi.

Mahasiswa yang tidak memiliki keterampilan dasar ini akan kesulitan menggarap tugas akhir. Hal ini karena tugasnya menjadi berlipat. Di satu sisi, dia harus menyusun skripsi yang baik, di sisi lain, dia harus mempelajari Logika agar skripsinya sistematis.

2. Menulis

Semua mahasiswa tentu bisa menulis, sebab tidak ada ceritanya mahasiswa buta huruf. Namun, ada sebagian mahasiswa tidak tahu bagaimana cara menyusun sebuah kalimat.

Keterampilan dasar yang dimaksud di sini tentu bukan menulis seperti anak TK belajar menulis huruf-huruf. Lebih dari itu, menulis yang dimaksud di sini adalah yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sejak SD hingga SMA, selalu ada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi uniknya, tulisan alay di media sosial rata-rata dilakukan oleh remaja usia SMP dan SMA. Ketika menginjak usia mahasiswa, lalu dapat tugas makalah, mereka langsung lupa ingatan tentang apa itu menulis menurut kaidah yang benar. Tulisan mereka mendadak kembali seperti semasa TK dahulu.

Selain keterampilan menyusun kalimat, ada pentingnya pula mahasiswa mengerti bagaimana menempatkan tanda baca. Dia sudah tidak bingung lagi menempatkan titik (.) dan koma (,); dia tidak perlu membubuhkan titik setelah tanda tanya (?) atau tanda seru (!); dia tahu bedanya apostrof (‘) dan tanda petik (“); dan lain sebagainya. Semua kaidah itu dia taati dengan baik ketika menuliskan skripsinya.

Mahasiswa kadang tidak bisa melakukan parafrase, bahkan ada pula yang tidak tahu apa itu artinya. Padahal, parafrase amat berguna dalam meringkas konsep-konsep yang dijelaskan panjang-lebar di suatu buku. Dengan parafrase pula mahasiswa bisa mengutip secara tidak langsung dari bahan rujukannya.

Semua keterampilan dasar menulis semacam itu akan sangat berguna nantinya dalam menyusun skripsinya. Cara terbaik mempelajarinya adalah mempelajarinya sejak awal kuliah dan langsung menerapkannya dalam setiap kesempatan menulis di media sosial. Jadi, mari tinggalkan kebiasaan alay sejak dalam pikiran.

3. Membaca Cepat

Semua mahasiswa tentu bisa membaca, tapi bisa dipastikan tidak semua mahasiswa tahu caranya membaca cepat. Tahu caranya saja tidak, apalagi terbiasa dengannya.

Oleh karena itu, perlu sejak awal belajar bagaimana membaca cepat itu. Menggarap skripsi akan berurusan dengan bertumpuk-tumpuk buku rujukan. Semakin cepat kita membaca, semakin banyak kesempatan menambah refrensi kita, sehingga bisa lebih kuat skripsi kita didukung rujukan.

Setidaknya ada dua macam membaca cepat, yang dikenal dengan skimming dan scanning.

Skimming adalah membaca dengan mencari kosakata yang menjadi gagasan utama dalam sebuah paragraf. Kosakata ini adalah titik hubung antara pengetahuan yang kita cari dengan buku-buku yang kita baca. Dengan demikian, tidak perlu kita membaca buku seluruhnya kata per kata, melainkan hanya di kalimat pertama dan terakhir dalam setiap paragraf.

Adapun scanning adalah membaca per kata, bukan per huruf. Kita membaca dalam waktu lama karena memperhatikan teks dalam huruf per huruf. Lain ceritanya kalau kita membaca kata per kata, waktu yang kita perlukan akan semakin singkat dan cepat.

Baca juga: Membaca Analitis

4. Menghindari Plagiarisme

Kebanyakan plagiarisme terjadi karena ketidaktahuan penulisnya bahwa tindakannya itu plagiat. Biasanya, ketidaktahuan itu berupa kutipan tidak langsung. Tanpa perasaan bersalah, mahasiswa langsung saja mengadaptasi tulisan orang lain ke dalam skripsinya tanpa mencantumkan rujukannya.

Baca juga: Sebab-sebab plagiarisme yang saya kutemui.

Menghindari plagiarisme sebenarnya adalah keterampilan tersendiri. Keterampilan ini adalah turunan dari tiga keterampilan sebelumnya. Dia yang memiliki logika yang sehat, kemampuan menulis yang mumpuni dan terampil membaca dengan sendirinya akan emoh melakukan plagiasi.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan, lebih baik keterampilan-keterampilan di atas kita pelajari dan biasakan sejak awal-awal kuliah. Kalau sudah terampil, nanti menghindari plagiarisme akan dengan mudah dipelajari dan dibiasakan.

5. Meneliti

Meneliti adalah mengumpulkan pengetahuan secara sistematis agar didapat kesimpulan tertentu. Pada dasarnya, setiap aktivitas mencari pengetahuan secara mandiri adalah aktivitas meneliti.

Yang perlu diingat, penelitian harus dilaporkan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, sebuah tulisan sistematis yang kita buat untuk artikel koran atau majalah pada dasarnya berdasarkan suatu penelitian kecil-kecilan. Mahasiswa diharapkan sering-sering menulis artikel di media tertentu yang didasarkan pada penelitian kecil-kecilan.

Baca juga: 7 Langkah Mudah Menyelesaikan Skripsi

Seorang wartawan pun sebetulnya melakukan penelitian untuk membuat berita di koran. Dia harus menggali data mengenai suatu peristiwa, lalu menganalisisnya, lalu melaporkannya dalam bentuk tulisan berita. Mahasiswa yang kerap menulis berita tidak akan kesulitan menulis skripsi.

Membuat makalah pun sebetulnya bisa dihasilkan dari penelitian kecil-kecilan. Penelitian itu ada yang berupa penelitian pustaka dan penelitian lapangan. Makalah yang acuannya buku-buku pada dasarnya merupakan laporan penelitian pustaka.

Tentu saja, makalah yang dihasilkan dari tindakan salin-tempel bukanlah laporan penelitian apapun. Ia lebih tepat disebut hasil dari kemalasan seseorang.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here