6 Alur Birokrasi Skripsi Yang Perlu Diketahui Mahasiswa

Untuk mengurus dan menyelesaikan skripsinya, mahasiswa harus berhadapan dengan birokrasi kampus. Mengetahui alur birokrasi itu amat penting, agar mahasiswa tidak bingung dan kehabisan energi untuk menghadapinya. Ketimbang energinya habis buat menghadapi birokrasi, mending dihabiskan untuk menulis skripsinya agar hasilnya baik dan berkualitas.

1
337
views
wisuda setelah menyelesaikan skripsi
The Graduates. credit: www.flickr.com/photos/philia17

Berurusan dengan birokrasi kadang bikin mumet. Kita merasa dilempar ke sana atau di suruh datang ke bagian anu. Menunggu hingga jemu. Bingung. Capai. Kesal. Kepingin banting apapun yang ada di tangan. Semua campur aduk jadi satu.

Tidak terkecuali saat mengurus skripsi. Sejak awal hingga penghabisan, kita berhadapan dengan birokrasi. Tenaga yang seharusnya digunakan buat menulis skripsi kadang terkuras untuk menghadapi birokrasi yang terasa tiada juntrungannya itu.

Tapi sebetulnya perasaan itu tidak perlu sedramatis itu jika kita mengerti alur dan kepada siapa saja kita perlu menghadap dalam mengurus skripsi. Saat menghadap salah satu bagian dari birokrasi, kita sudah melengkapi apa saja yang perlu kita bawa dan diserahkan kepadanya. Jika segalanya sudah dipersiapkan dengan baik, kita tidak akan canggung menghadapi birokrasi.

Untuk itu, berikut ini akan dipaparkan secara sekilas alur birokrasi yang perlu diketahui oleh mahasiswa dalam mengurus skripsi. Selamat membaca.

1. Mengajukan Usulan Penelitian

Banyak mahasiswa salah kaprah bahwa tahap awal ini disebut dengan pengajuan judul. Yang lebih  tepat sebetulnya adalah pengajuan usulan penelitian, sebab yang seharusnya diajukan bukan hanya judul, namun juga beberapa unsur lain yang terdapat di dalam suatu penelitian.

Unsur-unsur yang harus tercakup dalam pengajuan penelitian adalah: (1) Judul, (2) Latar belakang masalah/konteks penelitian, (3) Rumusan masalah/fokus penelitian, (4) Tujuan penelitian, (5) Manfaat penelitian.

Ada dua pihak yang harus mahasiswa datangi untuk mengajukan usulan penelitian:

(a) Kepala Bagian Administrasi. Dengan mendatangi pihak ini bertujuan untuk memastikan bahwa:

  • dirinya sudah menempuh minimal 80% mata kuliah,
  • tidak punya nilai E,
  • tidak punya nilai D lebih dari Satu,
  • lulus minimal B- MK Metode Penelitian Kualitatif,
  • lulus minimal B- MK Metode Penelitian Kuantitatif,
  • lulus minimal B- MK Metode PTK,
  • lulus/sedang KKN,
  • lulus/sedang PPL,
  • status mahasiswa sedang aktif,
  • kelengkapan administrasi.

(b) Kepala Program Studi. Dengan mendatangi Kaprodi, usulan penelitian yang diajukan oleh mahasiswa diperiksa beberapa aspek berikut:

  • Topik Penelitian.
  • Unsur inovasi dalam topik penelitian.
  • Kejelasan topik penelitian dalam latar belakang/konteks penelitian.
  • Rumusan masalah/fokus penelitian.
  • Kegunaan penelitian.
  • Teknik penulisan naskah usulan.

Baca juga: 7 Langkah Mudah Menyelesaikan Skripsi

Setelah usulan penelitian sudah diterima, mahasiswa akan diberikan Pembimbing Penelitian oleh Kaprodi. Pemilihan Dosen Pembimbing ini berdasarkan fokus dan topik, serta jenis penelitian mahasiswa. Dalam hal ini, mahasiswa diperkenankan memilih sendiri Dosen Pembimbing yang dianggapnya cocok buat penelitiannya.

Apabila semua ini sudah dilalui, mahasiswa bersangkutan harus berkomunikasi dengan Dosen Pembimbingnya dan berkonsultasi perihal penelitiannya tersebut. Konsultasi awal ini akan berujung pada pembuatan proposal penelitian oleh mahasiswa yang bersangkutan.

2. Seminar Proposal

Setelah semua ini, nasib mahasiswa berada di bawah Dosen Pembimbing. Oleh karena itu, segenap urusan birokrasinya berkaitan dengan Dosen Pembimbing semata.

Saat mengerjakan proposal pra seminar, mahasiswa perlu berkonsultasi dan menunjukkan kemajuan proposal yang dilakukannya. Pada saat inilah semua unsur proposalnya dipertimbangkan; bagaimana kerangka teorinya, bagaimana metodologinya, bagaimana keaslian penelitiannya, juga rujukan yang diperlukan apa saja, dan lain sebagainya. Tukar tambah pengetahuan antara si mahasiswa dan Dosen Pembimbingnya dimaksimalkan di sini.

Apabila proposallnya sudah putuskan selesai, tinggal prosesi Seminar Proposal. Prosesi ini diharuskan menghadirkan Dosen Pembimbing, Dosen Pembanding, dan para undangan. Para undangan terdiri dari mahasiswa, baik teman sejawat maupun adik kelas mahasiswa bersangkutan. Semakin banyak jumlah undangan, prosesi Seminar Proposal akan semakin baik, sebab segenap undangan juga akan dimintai masukan terkait perbaikan yang perlu dilakukan dalam proposalnya.

Namun yang lebih penting dari itu, dan ini perlu ditekankan, mahasiswa diharapkan menyaring masukan-masukan yang diterimanya sesuai dengan kebutuhannya. Oleh sebab itu, mahasiswa harus paham betul yang dimaui dengan proposalnya dan, dengan demikian, bisa menyaring sendiri mana masukan yang relevan dan mana yang tidak.

3. Proses Penelitian/Penggarapan Inti Skripsi

Setelah mahasiswa melakukan Seminar Proposal, tugas selanjutnya adalah menggarap Inti skripsinya, berupa penggalian data dan menganalisisnya sesuai dengan metode yang ditulisnya di dalam proposal. Bagian ini juga di bawah arahan Dosen Pembimbing. Jadi, konsultasi dengannya tetap berlangsung dalam beberapa kali untuk menunjukan kemajuan yang telah dicapainya dan mendapat bimbingan dari sang dosen.

Di tahap ini, urusan birokrasi sama sekali tidak melibatkan kampus, kecuali dalam satu hal: keterangan penelitian dari kampus bagi mahasiswa yang melakukan penelitian lapangan. Surat keterangan ini penting, sebab sebagian instansi meminta surat keterangan dari kampus bersangkutan. Oleh karena itu, bagi peneliti lapangan, sangat direkomendasikan untuk mengurus surat keterangan tersebut ke pihak kampus.

Setelah proses penelitian sudah rampung dan laporan penelitiannya (atau naskah skripsinya) sudah ditulis lengkap, tinggal berkonsultasi tahap purna dengan Dosen Pembimbing. Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa naskah skripsi mahasiswa sudah lengkap. Kelengkapan tersebut terdiri dari:

  • Halaman judul.
  • Pernyataan keaslian.
  • Halaman persetujuan.
  • Halaman Pengesahan.
  • Pedoman transliterasi (jika diperlukan).
  • Kata Pengantar.
  • Abstrak.
  • Daftar isi.
  • Daftar table (jika ada).
  • Daftar gambar (jika ada).
  • Daftar pustaka.
  • Lampiran-lampian, berupa: panduan wawancara (untuk penelitian lapangan), panduan observasi (untuk penelitian lapangan), dokumen proses (untuk PTK), angket/kuesioner (untuk penelitian kuatitatif), surat keterangan lokasi (untuk penelitian lapangan), lembar konsultasi, biodata mahasiswa.

Jika semuanya sudah lengkap, mahasiswa tinggal melakukan ujian skripsi.

4. Ujian Skripsi

Dalam hal berokrasi, ada dua pihak yang harus ditemui oleh mahasiswa sebelum melakukan Ujian Skripsi. Kedua pihak itu adalah Kabag Administrasi dan TU Prodi.

Dengan Kabag Administrasi, mahasiswa dipastikan mengenai hal-hal berikut:

  • Menempuh semua mata kuliah.
  • Tidak punya nilai E.
  • Tidak punya nilai D lebih dari Satu.
  • Status mahasiswa aktif.
  • Selesai administrasi keuangan.
  • Administrasi pengajjuan skripsi

Adapun TU Prodi akan memastikan mahasiswa sudah melengkapi hal-hal berikut:

  • Pernyataan keaslian sudah ditandatangani dan dibubuhi materai 6000.
  • Halaman persetujuan sudah ditandatangani.
  • Lembar konsultasi sudah diisi lengkap.
  • Nilai Kaprodi sudah terisi dengan lengkap.

Apabila semua kelengkapan itu sudah terpenuhi, mahasiswa akan memasuki tahap Ujjian Skripsi. Di dalam Ujian Skripsi, mahasiswa akan “dikeroyok” oleh tiga orang dosen (Penguji Utama, Pemimpin Sidang, dan Sekretaris Sidang) dan dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan.

Inti dari ujian skripsi bukanlah kemampuan mahasiswa menjawab semua pertanyaan seperti zaman ujian di SMA dulu, melainkan kemampuan mahasiswa mempertanggungjawabkan penelitiannya. Oleh karena itu, pertanggungjawaban mahasiswa adalah di seputar validitas dan kesistematisan penelitian, sejak awal naskah hingga pungkasannya, dari A hingga Z.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa saat Ujian Skripsi adalah sikap dalam presentasi, sikap dalam sesi tanya-jawab, dan busana dalam sidang. Ketiga hal ini tidak berhubungan dengan naskah skripsi namun juga dinilai oleh para dosen penguji.

5. Merevisi Skripsi

Idzâ tamm al-amr badâ naqshuhu, kata pepatah Arab. Jika sesuatu sudah rampung, tampaklah kekurangannya. Oleh karena itu, jangan heran bila di setiap ujian skripsi, ada saja kekurangan yang perlu direvisi oleh mahasiswa.

Nah, dalam proses revisi ini mahasiswa akan berada di bawah petunjuk dosen Penguji Utama. Secara birokratis, dia hanya berurusan dengan Dosen Pembimbingnya yang baru itu. Oleh karena itu, segenap seluk belum perubahan dan berbaikan yang diperlukan dalam naskah skripsinya harus dikonsultasikn kepada Dosen yang kemarin menjadi Penguji Utamanya.

Segenap perubahan dan perbaikan sebetulnya sudah dicatatkan oleh Sekretaris Sidang. Namun, jauh lebih baik jika mahasiswa sendiri mencatat dan menandai di bagian mana dari skripsinya yang harus dia revisi.

6. Pengesahan Skripsi

Inilah tahap akhir dari proses penggarapan skripsi mahasiswa. Pada tahap ini, satu langkah saja dilewati maka skripsinya sudah dianggap selesai. Langkah itu adalah membubuhkan tanda tangan di Halaman Pengesahan dan menjilid skripsinya.

Yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah alurnya. Tanda tangan yang harus dibubuhkan dalam Halaman Pengesahan berjumlah 4, yakni Pemimpin Sidang, Sekretari Sidang, Penguji Utama dan Rektor. Pembubuhan tanda tangan ini tidak serta merta dibubuhkan sekaligus, melainkan ada alurnya.

Alur yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Bubuhkan tanda tangan tiga penguji dahulu, yakni: Ketua Sidang, Sekretaris Sidang, dan Penguji Utama.
  2. Gandakan skripsi menjadi tiga dan jilid sesuai standar yang berlaku di kampus.
  3. Bubuhkan tanda tangan rektor.

Alur ini sering tidak diketahui oleh mahasiswa sehingga kerap terdengar keluhan tentang hal ini. Seolah  mahasiswa dilempar sana-sini, birokrasinya dipersulit atau lain sebagainya. Namun bila dipahami proses ini, dan dibaca Buku Bimbingan Skripsinya, maka keluhan semacam itu tidak perlu dilontarkan lagi.

Penutup

Perlu dipahami, alur birokrasi yang disebutkan di atas hanya berlaku di IAI Al-Qolam semata. Bisa dipastikan, alur birokrasi di kampus lain akan berbeda.

Alur birokrasi di atas sebetulnya bisa dilihat di Buku Bimbingan Skripsi yang diberikan kepada mahasiswa pada saat mengajukan usulan penelitian. Oleh karena itu, penting kiranya mahasiswa membacanya dan memahaminya tepat setelah mendapatkannya. Hal itu agar mahasiswa tahu kepada pihak siapa saja di kampus dia berurusan dalam setiap tahap penelitiannya.[]

Disarikan dari Buku Bimbingan Skripsi
Institut Agama Islam Al-Qolam Malang

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here