Inilah Alasan-alasan Kenapa Skripsi Penting Untuk Hidupmu

0
366
views
ruang penelitian skripsi
research room. credit: https://www.flickr.com/photos/bliu

Andai saja kuliah itu tidak perlu buat skripsi, tentu semua mahasiswa itu riang gembira hidupnya. Tidak perlu galau, tidak perlu ada dinding ratapan di FB. Tapi betulkah demikian?

Kenyataannya, skripsi itu sangat penting buat hidup kita. Adanya skripsi sebetulnya bukan sekadar buat kepentingan kuliah semata. Oleh karenanya, mahasiswa ada pentingnya mengetahui hal-hal berguna dari skripsi buat hidup kita.

Berikut ini akan dijelaskan lima alasan kenapa skripsi itu harus tetap kita garap hingga selesai. Alasan-alasan ini tidak cuma berhubungan dengan dunia akademis semata, namun juga menyangkut proses panjang perjalanan hidup manusia. Check it out, guys!

1. Skripsi membuat hidup makin hidup

Menggarap skripsi tidak hanya melibatkan otak kita, tapi juga keseluruhan potensi yang dimiliki manusia. Tidak jarang skripsi menjadi biang baper alias bawa perasaan.

Ketika menggarap skripsi, ada kalanya mahasiswa akan merasa jemu. Berkunjung ke kampus untuk bertemu dosen pembimbing, namun ternyata sang dosen tidak di kampus. Terpaksalah dia menunggu, lama, bahkan kadang berjam-jam. Begitulah rasa jemu tiba-tiba datang.

Rasa jengkel juga kerap datang. Saat susah payah menggarap proposal, namun dengan seenaknya dosen pembimbing mencorat-coretnya tanpa ampun, di situ rasa jengkel kadang hadir. Jengkel karena di sana ada orang yang “seolah” tidak menghargai jerih payah kita.

Kau pernah tahu rasanya putus asa? Saat skripsimu sudah kau garap 4 bab, lalu laptopmu rusak tersambar petir, dan filenya tidak terselamatkan, saat itulah putus asa akan menyiksamu. Putus asa akan hadir sebab kau tahu bahwa jerih payahmu ternyata sia-sia. Putus asa akan membuatmu lemah dan tak berdaya. Namun orang yang hebat adalah dia yang mampu bangkit setelah putus asa.

Jangan dikira tidak ada rasa cemburu dalam menggarap skripsi. Di tengah-tengah menggarap skripsi, tiba-tiba ada teman kelasmu mengunggah foto ujian skripsinya dengan gaya congkak dan pongah, di situlah rasa cemburu akan memorakporandakan hatimu.

Begitulah, skripsi akan membawa pada perasaan-perasaan ganjil dan rumit.

Banyak perasaan yang akan ikut terlibat dalam alur penggarapan skripsi sejak awal hingga akhir (baca juga: 6 Alur Birokrasi Skripsi Yang Perlu Diketahui Mahasiswa). Dan justru segala perasaan itulah yang membuat kita makin hidup. Lagian, hidup macam apa yang melulu bahagia, bukan?

2. Skripsi menyadarkanmu bahwa takdir itu nyata

Skripsi akan membawamu pada dunia yang aneh dan kadang tidak bisa ditebak. Ketika ternyata kenyataan tidak sesuai prediksimu, ketahuilah bahwa ada intervensi Tuhan di sana.

Setelah engkau mengajukan usulan penelitian, saat itulah kau akan dipilihkan seorang dosen pembimbing. Tabiat dosen akan berbeda, dan nasibmu ditentukan di situ. Kalau dosenmu ternyata membimbingmu dengan segenap kemudahan yang bisa kaubayangkan, maka beruntunglah hidupmu. Tapi, jika ternyata dosenmu adalah seorang dosen killer nan kejam, maka habislah hidupmu. Ia akan selalu hadir dalam mimpi burukmu.

Berada di ruang ujian skripsi amatlah mendebarkan, tak ubahnya seperti ruangan pembantaian. Tapi percayalah, tidak semua dosen penguji punya tipe penjagal skripsi mahasiswa. Terkadang, hal-hal yang menakutkanmu tidak terjadi di ruang ujian skripsi, dan kau akan bernafas lega seperti lolos dari ancaman maut. Begitu pula sebaliknya, terkadang muncul pertanyaan-pertanyaan tak terduga yang diajukan oleh dosen penguji, meski malam sebelum hari itu kau sudah haqqul yakin merasa menguasai isi dari skripsimu.

Semua kenyataan itu, beserta kenyataan-kenyataan lain yang akan kau temui saat menggarap skripsi, sudah selayaknya disikapi dengan arif. Tidak ada yang lebih bijaksana selain percaya bahwa takdir itu ada dan mengintaimu dari tempat persembunyiannya.

3. Skripsi membuatmu insaf bahwa manusia butuh sesamanya

Kau boleh menjadi seorang individualis yang berusaha bertumpu pada diri sendiri, namun percayalah seindividualis apapun kau masih butuh orang lain.

Saat menggarap skripsi kau butuh teman-temanmu yang mendukung proses penyelesaiannya. Teman yang melenakanmu dengan hal-hal percuma akan menjauhkanmu dari menyelesaikan skripsi. Sungguh, teman yang mendukungmu amat kauperlukan di saat kritis begitu.

Apalagi jika kau tidak punya keterampilan dasar untuk menggarap skripsi (baca juga: 5 Keterampilan Dasar Untuk Menyelesaikan Skripsi), kau tentu membutuhkan orang yang mengisi kekosongan itu. Bila kau tidak mengerti buku referensimu, kau niscaya bertanya kepada temanmu yang mengerti.

Dosen pembimbing adalah penentu keberlangsungan skripsimu. Tanda tangannya adalah kunci dari setiap berkasmu, maka tidak bisa dipungkiri kau sangat membutuhkannya. Maka menggarap skripsi tanpa sosok dosen pembimbing adalah tidak mingkin, setidaknya dalam sistem akademik yang dianut Indonesia saat ini.

Oleh karena itu, cara bijak bergaul dengan orang-orang itu adalah memperlakukan mereka seperti dirimu ingin diperlakukan. Itulah golden rule, kaidah emas yang universal itu. Nabi Muhammad bersabda, orang mukmin selalu menerapkan kaidah emas dalam setiap segi kehidupannya.

4. Skripsi adalah urusan mengendalikan diri

Skripsi itu, selain proses meneliti dan menuliskan laporannya, sebetulnya proses batin. Sikap tertentu dalam menggarap skripsi akan mendewasakan seseorang atau, sebaliknya, akan menjerumuskan pada malapetaka.

Sikap batin positif akan membawa seseorang akan disiplin menggarap skripsinya. Sejak awal, pikirannya diatur untuk menganggap bahwa skripsi adalah bagian dari pembelajaran yang harus dilaluinya. Segala yang diperlukan untuk menyelesaikan skripsinya akan dipenuhi dan dikengkapinya, dengan penuh kesabaran dan rendah hati (Baca juga: 7 Langkah Mudah Menyelesaikan Skripsi).

Sikap negatif akan mendorongnya untuk berbuat curang. Sejak awalnya pikirannya dikuasai oleh hasil serba instan: mendapat hasil tanpa proses yang wajar. Segala cara akan dilakukannya demi memuaskan nafsunya yang ingin menerabas apapun, bahkan menerabas akal sehat sekalipun.

Di sinilah, pilihan yang diambil oleh mahasiswa menjadi suatu pertaruhan, apakah sikap positif yang akan diambilnya ataukah sikap negatif. Mereka yang sanggup mengendalikan diri adalah orang paling beruntung.

Nanging sak bejo-bejone wong yoiku wongkang eling lan waspodo, kata Ronggowarsito. Waspada kepada siapa? Kepada diri sendiri!

5. Skripsi adalah karya ilmiah

Mahasiswa adalah kaum akademik. Kehidupannya di kampus bergelut dengan ilmu pengetahuan siang dan malam. Oleh karena itu, orientasi pembelajarannya adalah dia akan menghasilkan suatu karya ilmiah minimal sekali selama kuliah.

Hal ini tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 25 ayat [1]: Perguruan Tinggi menetapkan persyaratan kelulusan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi atau vokasi.

Idealnya, karya ilmiah tidak melulu berupa tulisan semata. Semua hasil kreativitas manusia semestinya bisa diakui sebagai karya ilmiah. Sebuah pertunjukan musik oleh mahasiswa kesenian bisa dianggap sebagai karya ilmiah (ini berlaku di Institut Kesenian Indonesia). Suatu aplikasi Android yang berguna bagi masyarakat mestinya layak menjadi tugas akhir mahasiswa.

Baca juga: Menristek: Mahasiswa S1 nanti tidak wajib buat skripsi

Di kampus secara umum, produk kreasi masih dibatasi pada laporan ilmiah tertulis, meski di sebagian kecil kampus ada yang sudah menerapkannya. Dan percayalah, skripsi jauh lebih mudah ketimbang produk kreasi semacam aplikasi atau pertunjukan seni itu. Juga jauh lebih murah. Jadi bersyukurlah kita masih disuruh “cuma” menggarap skripsi, bukan karya lain.

Hanya saja, mahasiswa di tahun-tahun mendatang akan menghadapi tugas akhir bukan berupa skripsi. Menristek sudah menyatakan hal ini.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here