Semester Pendek, Haruskah?

0
133
views
semester pendek

Oleh: Athiyah

Program  semester pendek (SP) atau short semester (SS) sudah lumrah terjadi di berbagai kampus di Indonesia bahkan seluruh PTN (Perguruan Tinggi Negeri) atau PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Indonesia, dan biasanya SP ini menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa yang menjalaninya baik dari segi waktu maupun biaya, karena SP ini dilaksanakan pada saat libur semester ganjil/genap dan juga harus membayar sejumlah uang untuk mengikuti program semester pendek ini. Tentu saja hal ini memberatkan bagi para mahasiswa yang diharuskan mengikuti program SP ini, dikarenakan biaya kuliah yang sudah mahal dan masih harus membayar untuk biaya SP.

Sebelum kita membahas lebih panjang lagi tentang fenomena SP yang menjadi boomerang bagi sebagian besar mahasiswa, maka kita akan membahas tentang definisi semester pendek itu sendiri. Jadi Semester Pendek atau Semester Antara adalah semester yang dilaksanakan antara semester genap dan ganjil atau antara semester ganjil dan genap pada setiap tahun ajaran PTS/PTN, yang ada kalanya bertujuan untuk remedial atau perbaikan nilai, dan ada kalanya bertujuan untuk akselerasi atau mempercepat program studi (PP No.17 tahun 2010). Semester pendek biasanya dilaksanakan 2 minggu hingga 4 minggu tergantung kebijakan fakultas masing masing.

Syarat-syarat untuk mengikuti semester pendek salah satunya adalah membayar biaya untuk  setiap mata kuliah yang diikuti. Jika untuk remedial biasanya nilainya harus C-, D dan E, sedangkan jika SP bertujuan untuk akselerasi harus memiliki IP minimal 3,2. Nah biaya untuk mengikuti semester pendek ini mulai dari kisaran 100.000 hingga lebih per mata kuliah, sesuai ketentuan masing PTS/PTN. Jika satu mata kuliah memakan biaya 100.000 hingga lebih hanya untuk program kuliah selama 2 minggu, maka bagaimana jika satu mahasiswa mendapat SP lebih dari satu mata kuliah, 5 hingga 10 SP mata kuliah misalnya, maka berapa biaya yang harus dibayar setiap mahasiswa untuk biaya SP?! Tidak murah, bukan? Jadi tidak ada salahnya jika kita menyebut SP sebagai program untuk membeli nilai dan mengejar SKS. Bukan tanpa alasan, tapi dengan SP mahasiswa hanya akan terfokus pada mengejar SKS dan Nilai tanpa memperhatikan keilmuan yang mereka pelajari. Apakah kuliah memang seperti itu?

Sebagian besar mahasiswa merespon negatif terhadap pelaksanaan SP namun ada juga sebagian kecil mahasiswa menganggap jika Semester Pendek juga memiliki nilai positif karena dapat membangkitkan motivasi mahasiswa untuk lebih semangat lagi dalam mengikuti jadual perkuliahan.

Seperti halnya dua sisi mata uang, setiap hal memiliki sisi positif dan negatif. Begitu pula dengan program semester pendek yang memiliki nilai positif dan negatif, namun jika dikaji lebih lanjut, efektifkah semester pendek terhadap perngembangan dan potensi mahasiswa dalam dunia perkuliahan? Berbicara tentang efektivitas semester pendek terhadap pengembangan diri mahasiswa, maka jawabannya: “Semester Pendek kurang memiliki nilai efektivitas bagi mahasiswa”, karena dengan adanya Semester Pendek akan semakin membuat mahasiswa hanya terfokus pada “nilai nilai IPK mereka saja” hingga tak ubahnya mereka seperti siswa. Padahal harusnya seseorang yang menyandang status sebagai “Mahasiswa”, yang katanya memiliki peran sebagai agent of change, harusnya dibekali dengan ilmu-ilmu yang mengarah pada realitas dan kepedulian sosial, bukan hanya dibekali dengan angka-angka saja, hingga ketika mereka sudah mendapat ijazah dan sudah memiliki posisi tinggi yang mereka pikirkan dan pedulikan bukan hanya angka-angka saja, melainkan juga keadaan di sekitar mereka.

Peraturan tentang semester Pendek dikeluarkan oleh Kemedikbud semenjak tahun 2010 dan tak ada perubahan lagi hingga saat ini. Entah apa yang menjadi pertimbangan Kemendikbud untuk tidak mengeluarkan peraturan yang baru tentang “Semester Pendek” di PTS/PTN di tengah-tengah peraturan tentang akreditasi dan administrasi tentang PTN/PTS yang selalu diubah dan diperbaharui setiap tahunnya. Mungkinkah karena Semester Pendek sama sekali tidak memiliki efektivitas terhadap pengembangan kualitas mahasiswa hingga mereka lupa untuk memperbarui peraturannya, ataukah system semester pendek hanyalah system kapitalis terselubung dalam pendidikan perguruan tinggi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here