Menengok Desa Santri

0
38
views

Oleh Muhammad Madarik PENETAPAN DESA SANTRI Dua tahun yang lalu, tepat pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2016, Desa Ganjar, Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang dinobatkan menjadi “Desa Santri”. Seperti dimuat dalam Timesindonesia, pengukuhan “Desa Santri” itu, langsung ditetapkan oleh Wakil Bupati Malang, H Sanusi dan dihadiri oleh jajaran Muspika Gondanglegi, puluhan para ulama serta santri setempat, pada hari Jumat, 21 Oktober 2016 di masjid Asy-syafi’iyah Ganjaran. (Timesindonesia, 22-10-2016) Alasan ditetapkan menjadi Desa Santri karena di desa tersebut terdapat 18 pondok pesantren. Desa tersebut dinilai sebagai salah satu desa yang terbanyak pondok pesantrennya dibanding desa lainnya yang ada di wilayah Malang selatan. “Desa Ganjar yang banyak pesantrennya itu sudah banyak melahirkan para kiai dan santri yang banyak berkontribusi kepada negara dan bangsa Indonesia,” jelas KH Hamim Kholili, yang juga bagian dari pengasuh salah satu pondok pesantren di Desa Ganjaran itu. _-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_ BERKAH PESANTREN Keberadaan pesantren-pesantren di desa tersebut merupakan berkah bagi warganya. Sebab kemunculan lembaga pendidikan Islam di tengah-tengah masyarakat yang rata-rata petani tebu itu, menambah populasi penduduk dengan kedatangan para santri dari berbagai daerah, baik dari dalam wilayah Malang maupun dari luar kota dingin itu. Bahkan sebagian mereka berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat dan luar Jawa. Tidak kurang dari seribu orang penuntut ilmu yang berdiam di asrama pesantren. Secara sederhana, hal ini bisa ditilik dari kenyataan bahwa pada saat tertentu ruas jalan protokol desa Ganjaran lebih banyak diwarnai anak-anak pesantren, khususnya ketika pagi dan sore hari. Fakta ini tentu saja dimanfaatkan penduduk asli desa dengan menawarkan ragam jualan. Prediksi raupan aset yang menjanjikan di masa depan, membuat sebagian besar warga tergerak untuk mengembangkan usaha. Maka tidak heran jika di antara mereka ada yang membuka toko dan lapak penjualan. Dibandingkan desa-desa sekitar, para penjual dengan ragam tawaran di desa Ganjaran lebih ramai. Apalagi grafik santri di beberapa pesantren menunjukkan jumlah yang kian menanjak, tidak luput dari perhatian masyarakat. Sehingga kecendrungan ini dianggap sebagai momen tepat bagi sebagian warga desa Ganjaran untuk mengeruk pundi-pundi dari kantong para pencari ilmu. Alhasil, eksistensi pesantren di tengah-tengah kaum nahdliyin ini merupakan berkah tersendiri untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat. _-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_ MASIH SIMBOL TANPA MAKNA Di luar kesejahteraan dan ekonomi masyarakat yang meningkat sebab terbantu oleh kehadiran pesantren-pesantren, tetapi dalam pandangan sebagian pihak, kondisi ritual keagamaan mereka dinilai belum mencerminkan nama yang dilekatkan pada desanya. Dari aspek esensi, keberagamaan memang tidak diukur semata-mata dari pelaksanaan ibadah ritual belaka, substansi juga menjadi pertimbangan penting sebuah ibadah di terima atau tidak. Sekalipun begitu, Al-Qur’an menyebut dalam banyak ayat mempersandingkan antara iman dan amal shaleh. Cakupan amal shaleh meliputi segala macam kesalehan individu dan sosial. Pengamalan ajaran agama merupakan salah satu bagian dari pertanda terbentuknya kesalehan tersebut sekaligus menjadi indikator syiar Islam yang kuat. Pada sisi ini, gelagat ketaatan terhadap ajaran agama masyarakat desa ini belum terlihat maksimal. Hal ini bisa dicermati dari beberapa kenyataan yang antara lain dapat diungkapkan fakta-fakta: > Semangat melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah agak lemah. Hal ini ditandai dengan adanya tempat-tempat ibadah yang kurang semarak. > Penggunaan waktu yang dimiliki sebagian besar masyarakat belum sepenuhnya dimanfaatkan secara efektif. Hal ini bisa dicermati dari lokasi-lokasi kongkow yang semakin hari kian ramai. > Penerapan aturan-aturan syariat Islam secara individu terlihat meluntur. Hal ini dapat dilihat dari cara berpakaian kaum hawa yang cenderung memamerkan aurat. > Angka remaja berpendidikan asal desa Ganjaran yang tidak berbanding lurus dengan jumlah lembaga pendidikan yang dipunyai desa ini. Walaupun grafik anak putus sekolah belum terdeteksi secara pasti, namun grafiknya disinyalir kian meningkat. Sekelumit fakta semacam di atas, memperlihatkan kepada kita bahwa desa Ganjaran dengan status desa santri masih berwujud sebagaimana namanya dan belum sesempurna seperti harapan banyak pihak. Lebih-lebih, nilai-nilai kejujuran dan tanggungjawab belum seluruhnya menjadi karakter penduduk desa dalam berbagai aspek kehidupan, utamanya pada ranah praktik-praktik kerja atau tindakan yang bersifat transaksional. Alhasil, status desa santri yang di pajang pada batas desa masih berupa papan nama belaka. _-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_ Sedikit fakta ini merupakan gambaran kecil dari sekian banyak kenyataan-kenyataan yang belum mencerminkan nama tersebut. Inilah PR (Pekerjaan Rumah) yang perlu di fikir, didiskusikan sekaligus selayaknya di konsep secara matang oleh semua pihak di desa ini. Apabila semuanya menghimpun semangat dan kebersamaan, bukan tidak mungkin desa Ganjaran menjadi miniatur kampung berkemajuan yang berbasis norma-norma kepesantrenan. —————————————— Semoga berkah.[] * Staf Pengajar IAI Al-Qolam Gondanglegi Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here