Demokrasiku yang Sakit

0
83
views

Di masa sekarang ini, pendidikan menjadi tolak ukur dalam banyak hal. Mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal penting yang menjadi pondasi pelaksanaan sebuah konstitusi. Pendidikan sering juga menjadi bahan pertimbangan yang tidak bisa dianggap remeh. Bahkan dalam kehidupan bersosialisasi orang yang dianggap berpendidikan memiliki derajat lebih tinggi –terdengar berlebihan memang- dibandingkan mereka yang mengandalkan pengalaman dalam kehidupannya. Tidak sedikit para orang tua yang mencarikan putra putri mereka jodoh seseorang yang memiliki pendidikan tinggi –mungkin juga orangtua kita berfikir seperti itu-.

Selaras dengan itu, pendidikan juga memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Mulai dari perangkat, peraturan, sistem hingga unsur-unsur pembentuk pendidikan itu sendiri. Saat kita mendengar kata pendidikan, yang terlintas di benak kita pertama kali adalah siswa, guru, buku, pelajaran dan semua yang pernah kita lewati di dunia sekolah. Namun ada satu hal dari pendidikan yang unik untuk dibahas, satu fase pendidikan yang problematikanya tak akan habis dibahas hanya dalam satu tulisan saja. Ya! Mahasiswa!

Dalam KBBI disebutkan, mahasiswa adalah orang yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sedang kemahasiswaan adalah seluk beluk mahasiswa yang bersangkutan dengan mahasiswa. Mahasiswa dan kehidupannya selalu menarik untuk diperbincangkan. Mahasiswa dipandang sebagai golongan peserta didik yang memiliki banyak keistimewaan dibandingkan dengan peserta didik di jenjang yang berbeda. Mahasiswa dianggap sebai orang-orang yang memiliki jiwa bebas dalam berekspresi dan berkreasi. Mahasiswa dikenal sebagai golongan dengan ambisi dan keinginan kuat nan menggelora dalam jiwanya.

Bila bicara demokrasi, kampus sudah seharusnya menjadi contoh sistem demokrasi yang sesungguhnya. Mengapa? Dalam kampus akan melahirkan direksi dan elite pemerintahan yang akan datang. Dalam intensitas nasional pun demikian, pro-aktif mahasiswa dalam menyuarakan amanat rakyat melalui aksinya sudah menandakan kalau masyarakat kampus sudah menjadi bagian tegaknya demokrasi. Masih terekam dengan baik di benak kita seberapa besar peran mahasiswa dalam proses perjalanan demokrasi di negara kita. Bagaimana mahasiswa bersatu-padu bergandengan tangan meruntuhkan kekuasaan otoriter dan bersama-sama pula membangun demokrasi yang kerakyatan. Mahasiswa juga memegang peran penting dari lahirnya reformasi. Sehingga tidak heran bila orang mengatakan bahwa “Masyarakat kampus (mahasiswa) adalah jantung pertahanan demokrasi”.

Namun ironisnya, peran penting mahasiswa dalam proses demokrasi agaknya belum sepenuhnya bisa dilaksanakan oleh para mahasiswa itu sendiri. Pemira (Pemilihan Raya) agaknya telah menjadi ajang bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan, bukan lagi hajat dari masyarakat itu sendiri. Dapat kita lihat bersama bila saja di kampus ini partai pengusung berasal dari lembaga eksekutif dan legislatif yang mengadakan sistem koalisi satu sama lain (baca: HMJ). Sedangkan bila dicermati aplikasinya, partai pengusung terlihat menjadi hak ‘bendera’ ekstra kampus. Kaum mayoritas menduduki panggung, sedangkan minoritas tetap dengan demam panggung. Korban intervensi akan diderita masyarakat kampus karena senioritas yang berlaku bukan lagi tentang ‘mengarahkan’ tetapi lebih pada ‘mengatur’.

Mengingat MUBES merupakan rapat tertinggi serta awal pesta demokrasi ditingkatan Organisasi Intra Kampus, nampak lucu sekali apabila terdapat peraturan yang sangat tidak masuk akal seperti pada “AD/ART BEM dan DPM tentang Organisasi Kemahasiswaan Bab V Pengelolaan Organisasi Kemahasiswaan pasal 12 ayat 2 poin d , di mana dalam pasal itu tertulis salah satu persyaratan presiden mahasiswa adalah mahasiswa yang pernah menjadi anggota Badan Pelaksana Harian BEM” bisa lolos pada forum besar seperti ini. Pasal kolot ini dapat menciptakan suatu sistem oligarki kekuasaan yang sangat sistematis yang tentunya sangat membahayakan demokrasi di kampus kita. Silahkan dianalogikan kalau saja yang bisa jadi presiden di negara itu cuma menteri dan anak buah Jokowi? Pasal ini akan melanggar pasal lain yang menerangkan bahwa setiap anggota BEM (seluruh mahasiswa) mempunyai hak politik memilih dan dipilih. Dampak yang hanya akan terlihat adalah kampus tidak bisa menerapkan student governance dan student government dengan baik. Kemudian layak kah dipertanyakan, dimana para wakil wakil mahasiswa yang di tangan mereka hak-hak antar mahasiswa lain di perjuangkan? Di mana para peninjau? Para bapak ibu dosen, bukankah mereka juga pernah melalui fase reformasi pada waktu itu? Mau di bawa kemana demokrasi kampus tercinta kita? Orde Baru? Di manakah kesadaran kritis kita sebagai mahasiswa ,peletup utama api reformasi?

Demokrasi kampus yang seperti apa yang di maksud nampaknya belum sepenuhnya mencerminkan demokrasi dalam makna sesungguhnya. Demokrasi kampus nampaknya belum dilaksanakan sesuai dengan apa yang biasa mereka gembar-gemborkan, yang biasa mereka teriakkan dan yang biasa mereka perjuangkan. Tak perlu jauh memandang atau mengkritisi demokrasi kampus-kampus besar diluar sana. Mengoreksi demokrasi dalam kampus kita pun nampaknya belum menjadi hal yang biasa dilakukan. Sungguh naif apabila teman-teman pergerakan di kampus kita menjadi corong suara rakyat ketika negara abai terhadap demokrasi seperti pada demo tentang UU MD3 yang masih hangat di telinga kita, namun kenyataannya harus menelan pil pahit bahwa di internalnya sendiri demokrasi kampus mereka sedang sakit parah.

Intinya, demokrasi adalah pemerintahan dimana semua warganya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan dan mengizinkan warganya berpartisipasi dalam perumusan, pengembangan, pembuatan dan pengawasan terhadap hukum serta mementingkan dan mendahulukan segala kebutuhan untuk warganya. Maka dari itu sebuah perlulah adanya peran pengawasan dan pengawalan yang dilakukan oleh rakyat –masyarakat kampus dalam hal ini-. Seperti dalam pepatah “di atas lantai satu masih ada lantai dua, dan diatas lantai dua masih ada lantai sebelas” (yang pernah menginap di hotel pasti tau).

Oleh : Khoirul, Kholifatul dan Issatus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.