Doktor Antropolinguistik Itu Bernama Gusdur

0
56
views
abdurrahman-said-wakil-rektor-i-iai-alqolam

Inilah untuk pertama kali saya tidak bisa menghadiri acara Sidang Terbuka Promosi Doktor sesama dosen IAI Al-Qolam. Saya sangat menyayangkannya, juga membuat saya insyaf. Saya insyaf bahwa zaman telah berubah. Saya tidak segesit dulu lagi.

Saya tidak bisa hadir karena terlambat datang ke kampus. Listrik di rumah saya padam, wifi juga ikut mati. Koneksi internet terputus, sehingga saya kehilangan informasi mengenai persiapan berangkat bareng ke UIN Malang dari Al-Qolam.

Saya tahu bahwa acara Sidang Terbuka Promosi Doktor Gusdur, sapaan akrab bapak Wakil Rektor I kita, diadakan jam 15.00 hingga 17.00. Namun karena saya harus menggendong anak dulu karena ibunya kecapaian akibat menjemput orang tuanya pulang haji semalam, saya bisa berangkat ke Al-Qolam jam 3 sore.

Sesampainya di Al-Qolam saya hanya mendapati gedung kampus yang kosong melompong. Kesimpulannya jelas, saya terlambat. Berangkat ke Batu dengan sepeda motor rasanya sulit, sebab langit terlihat mendung. Saya tidak bawa mantel.

Dengan demikian, saya putuskan balik lagi ke rumah, dengan penyesalan tiada terperi karena saya tidak bisa menghadiri acara Sidang Terbuka itu. Saya pulang sembari berpikir mengenai catatan ini.

***

Meskipun saya tidak bisa hadir ke Sidang Terbuka itu, saya bertekad akan tetap menuliskan catatan mengenainya. Dan inilah untuk pertama kali saya menuliskan catatan mengenai Sidang Terbuka Ujian Doktoral yang tidak saya hadiri.

Sudah sejak lama saya bertekad akan menulis semua Sidang Terbuka yang dilakukan oleh para dosen IAI Al-Qolam. Cara ini saya anggap sebagai sebentuk tasyakuran, sebab dengan bertambahnya jumlah doktor di kampus maka itu semakin baik.

Baca juga: Doktor Husni dan Aksaranya

Dalam benak saya, tidak ada tasyakuran yang lebih manis daripada mengabadikannya dalam suatu tulisan. Tulisan-tulisan itu kelak akan menjadi jejak-jejak sejarah proses terbentuknya Al-Qolam menjadi kampus yang lebih baik. Saya membayangkan di masa depan saya akan membaca tulisan-tulisan itu sambil tersenyum, lantaran teringat upaya bersama mengebut peningkatan kualitas kampus dalam berbagai aspek.

Kita tahu bersama bahwa di bidang pengarsipan dan kepenulisan, kampus kita masih harus dibenahi secara serius. Barangkali, tulisan-tulisan itu bisa menjadi sumbangan kecil terhadap upaya itu.

***

Oleh karena tidak hadir di acara Sidang Terbuka itulah saya memperoleh informasi yang terbatas mengenai isi disertasi Gusdur. Saya mendapat informasi mengenai Sidang Terbuka itu hanya melalui pantauan di media sosial. Di FB, WA dan Telegram saya mengamati postingan teman-teman yang menghadiri acara tersebut.

Seandainya saya bisa hadir, saya bisa membaca ikhtisar disertasinya dan menyampaikan pikiran saya mengenai isinya. Sayangnya tidak bisa.

Yang bisa saya sampaikan adalah Sidang itu dilaksanakan dalam Bahasa Arab sepenuhnya. Ini bisa dimaklumi, sebab program studi yang dimasuki Gusdur adalah Pendidikan Bahasa Arab (Ta’lim al-Lughah al-Arabiyah).

Juga berhasil saya ketahui bahwa Promotor Gusdur adalah Dr. Muhammad Ainain dan Dr. Syuhada. Selebihnya adalah para penguji, yakni Dr. Mulyadi, Dr. Aurel Bahruddin, Dr. Imam Asrori, Dr. Sutomo, dan Dr. Umi Mahmudah.

Disertasi yang Gusdur pertahankan berjudul At-Tafâhum ats-Tsaqâfî fî at-Ta’bîr Wa Ta’lîmuh fî al-Mujtama’ al-Ma’hadî: Dirasah Antrubulijiyah Lughawiyah Fî Ma’had Dâr al-Lughah Wa ad-Da’wah Banqîl Bâsuruwân Jâwâ asy-Syarqiyah (Pemahaman Lintas Budaya dalam Ekspresi Kebahasaan dan Pengajarannya Dalam Komunitas Pesantren: Studi Antropolinguistis Di Pesantren Darul Lughah Wadda’wah Bangil Pasuruan Jawa Timur).

Terakhir, berkat video yang diterbitkan secara live dalam laman FB IAI Al-Qolam, saya bisa tahu bahwa hasil ujian yang diterima oleh Gusdur adalah mumtâz alias exellent alias sempurna. Kita sering mendengar bahasa Latin dari istilah itu: cum laude.

Keren!

***

Studi Etnografi terhadap pesantren sebenarnya sudah banyak dilakukan. Namun meskipun begitu, Pesantren masih menjadi lahan yang amat kaya untuk dieksplorasi secara etnografis.

Pendekatan Antropolinguistik pada pesantren masih amat langka. Lebih-lebih pada fenomena kultural pembelajaran bahasa Arab di pesantren, itu tak ubahnya seperti hutan yang belum tersentuh alias virgin forest. Seorang antropolinguis yang mendatangi pesantren untuk meneliti akan mengalami ketakjuban bertubi-tubi, sebab ada banyak sekali hal unik di sana, persis seperti seorang biolog yang takjub melihat ribuan spesies flora-fauna baru saat mendatangi virgin forest untuk meneliti.

Dengan demikian, tepatlah apa yang tertulis di Harian Radar Malang saat memberitakan Sidang Doktoral Gusdur itu, kelahiran seorang Antropolinguis pesantren memberi angin segar terhadap Pesantren Studies secara umum.

Pesantren memanglah keseharian kita. Bagi mereka yang belum pernah belajar di pesantren pun tidak sulit menjumpai fenomena pesantren, entah itu melalui teman-temannya, televisi atau media sosial.

Namun dalam kajian akademis, pesantren masih jadi barang langka. Masih ada banyak hal yang belum tereksplorasi dari kekayaan multidimensional pesantren. Dalam dunia antropologi, pesantren ramai dibicarakan aspek sejarahnya, aspek pendidikannya, aspek politiknya, aspek manajemennya, dan hal-hal lain yang sifatnya mudah kita temui.

Uniknya, di bidang Linguistik masih jarang ada riset serius mengenai antropologi pesantren. Padahal aspek kebahasaan tergolong amat mudah ditemui, setiap hari dilakukan dan amat dekat dengan kehidupan sehari-hari komunitas pesantren.

Barangkali, jarangnya riset bidang Antropolinguistik pesantren itu karena saking sehari-harinya fenomena kebahasaan sehingga banyak pengamat yang menganggapnya kurang penting. Sama seperti Bahasa Indonesia, kebanyakan penuturnya enggan mempelajarinya secara serius sebab setiap hari kita sudah menggunakannya dalam kehidupan kita.

Nah, di tengah langkanya penelitian Antropolinguistik di pesantren inilah Gusdur dengan cerdik masuk di dalamnya.

Namun lagi-lagi harus saya keluhkan di sini: saya belum baca ikhtisar disertasinya. Aduh kah![]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here