Carut-marut Mubes 2019: Mulai penundaan hingga simpang siur draft AD/ART ormawa

1
69
views

Roda organisasi berputar seiring berjalannya waktu, kini BEM berada pada ujung periode dalam jabatannya. Gembar-gembor musyawarah besar yang biasa dikenal dengan mubes terdengar hingga ke seluruh lapisan kampus. Perhelatan tersebut merupakan wadah penjaring aspirasi mahasiswa mengenai tatanan organisasi dan birokrasinya guna memperbaiki regenerasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinannya.

Tertanggal 18 juni tanpa menggunakan undangan resmi Dewan Perwakilan Mahasiswa(DPM) melalui salah satu grup whatsapp menginformasikan bahwa mubes akan di gelar pada hari rabu 26 juni 2019. Dalam lanjutan persiapan musyawarah besar tersebut sabtu, 22 juni 2019 pihak DPM membagikan draft yang akan di bahas pada musyawarah kali ini. Draft mubes berisi AD/ART ormawa civitas IAI AL-Qolam yang di gunakan sebagai acuan dan pedoman berorganisasi .

Namun banyak pihak menyayangkan mengingat draft mubes yang di bagikan adalah draft hasil mubes tahun 2016 dan draft tersebut sudah tidak berlaku lagi. Hal tersebut tentunya mengaliensi hasil mubes selama 2 tahun sebelumnya yakni 2018 dan 2019.

Ketika di konfirmasi oleh wartawan Platinum, Atiyah selaku divisi advokasi DPM memberikan pernyataan mengejutkan, bahwa pihaknya tidak mempunyai draft mubes tahun 2018. Sangat ironi mengingat draft mubes yang sedianya akan di musyawarahkan dan di lakukan pembacaan ulang terhadap poin per poin aturanya, pihak legislatif selaku pemegang otoritas tentang ad/art tidak memiliki arsipnya.

“menurut saya itu kesalahan fatal, mereka sebagai lembaga legislatif yang aturannya harus di jalankan oleh seluruh organnisasi kampus malah ndak punya AD/ART nya? Lalu mereka kerja selama ini berdasarkan apa? Kan lucu” ungkap salah satu mahasiswa yang tidak mau di sebut identitasnya.

Tak berhenti di situ, dengan alasan persiapan belum matang tertanggal 24 juni dimana H-2 perhelatan tersebut akan di gelar, pihak DPM mengumkan kembali penundaan pelaksanaan MUBES pada 3 juli 2019 secara sepihak dengan alasan kurangnya persiapan dari pihak BEM.

“Inkonsisten dan kurang terkordinirnya Mubes kali ini kelihatan dari pihak DPM dan BEM sebagai penyelenggara lemah dalam kordinasi, diawal saja sudah carut marut” ujar Luki irfan, selaku ketua UKM pagar nusa

DPM Wanprestasi perihal draft AD/ART

Setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak perihal persiapan mubes, DPM melakukan gerak cepat dan berhasil menemukan draft mubes 2018. Di salah satu pertemuan tertanggal jumat 21 juni 2019 dengan wartawan Platinum di salah satu kantin kampus, pihak DPM mengaku sudah mendapatkan Draft mubes 2018 dan segera membagikanya setelah selesai digitalisasi.

Namun hal tersebut sampai berita ini di turunkan H-1 pelaksanaan mubes 3 juli 2019, belum ada iktikad baik dari dari pihak DPM untuk segera membagikan draft mubes 2018 tersebut. Ketika di hubungi LPM PLATINUM, salah satu anggota dpm memaparkan secara tegas bahwa draft akan di bagi pada hari H pelaksanaan mubes, “nggak, draft mubes tidak dibagikan sebelum hari H, sesuai mubes sebelumnya”

Hal senada juga di utarakan oleh Arif selaku kerua DPM, dalam wawancara singkat melalui pesan singkat Arif hanya mengatakan “afwan” saat wartawan kami menagih apa yang mereka janjikan perihal draft mubes.

Keengganan pihak DPM tersebut tentu menafikan fakta di lapangan bahwa hampir 65% terverifikasi peserta delegasi mubes tidak mempunyai draft pada mubes sebelumnya. Urgensi tuntutan pembagian draft mubes sebelum hari H tentu sangat beralasan, mengingat hakikat dibagikannya draft ke seluruh mahasiswa untuk dijadikan instrumen agar esensi mubes dapat muncul saat musyawarah berlangsung demi perbaikan tata kelola organisasi mahasiswa itu sendiri.

“jelas alasan tradisi tidak bisa di terima dengan akal sehat,kenapa tidak di ganti dengan seminar saja? mereka bukan wakil mahasiswa, mereka adalah calon politikus-politikus senayan masa depan” ucap Khoirul salah satu mahasiswa yang menjadi peserta mubes.

Di era keterbukaan informasi publik saat ini ditambah urgensi dari draft tersebut, kurang bijak sekiranya DPM tetap dengan kebijakanya tanpa mau mendengarkan aspirasi dari konstituenya mengingat mereka merupakan Dewan Perwakilan Mahasiswa. Dan tentu keengganan membagikan draft tersebut akan mengurangi nilai sakral dari musyawarah tersebut. Mengingat musyawarah tersebut tidak akan menghasilkan sesuatu yang esensial jika sekiranya apa yang akan di bahas nanti tidak di pelajari terlebih dahulu. (red/lpmplatinum)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.