Karl, Liona dan Rumah Pohon

1
41
views

Tuan Putri berdiri di balkon atas pagi ini. Kulihat, sayup angin menerpa rambut tebalnya yang menjuntai manja di depan dahi. Semalam, semua warga istana termasuk aku terkejut atas perjodohan yang berlabel pemaksaan itu. Siapa yang ingin menikah dengan orang yang tidak disukainya? Kurasa meski tikus yang berlarian di lorong ruang bawah tanah juga tidak ingin menikah dengan betina yang tak disukainya.

Aku mengintip Tuan Putri dari tembok kamarnya. Kurasa, ia mengetahui keberadaanku setelah pintu terbuka yang kujadikan benteng itu dengan tidak sopannya mengeluarkan suara setelah ditiup angin. Aku tercekat dan berjalan cepat menuju ruanganku.

Di dalam kamar, aku kaget dengan wujud seseorang yang duduk di atas kasurku sambil menatap jendela keluar.

“Siapa di sana?” aku berusaha mengusir pikiran anehku.

“Apa kau sudah lupa dengan janjimu?”

Suara itu tak asing bagiku. Namun saat ingatan ini berusaha mengingatnya, mengapa sakit sekali?

“Aku menunggumu di tugu perbatasan kota malam itu. Namun kau tidak datang, Karl.”

Jika kalian pernah melihat lubang hidung raksasa Hutan Arnold di hutan yang suka memakan manusia, sebesar itulah saat ini mulutku menganga. Aku kembali pada ingatan waktu itu. Lima tahun sebelum momen ini terjadi. Orang tuaku mengusirku dari rumah dan aku hanya boleh pulang saat menemukan perempuan yang mau kuajak menikah.

Rumahku ada di seberang hutan Arnold dekat sungai Missi. Waktu itu, aku tidak tahu harus kemana untuk melangkah. Akhirnya ada kakek tua yang menghampiriku sambil bertannya hendak kemana bujang tampan malam-malam. Aku menjawab tidak tahu. Diambillah sebuah ranting dari pohon cemara yang hampir roboh. Kemudian kakek tua itu mengayunkan ranting tersebut ke arah sungai Missi.

Betapa terkejut diriku ketika ada seorang gadis muncul di hadapanku.

“Bawa dia pulang, anak muda. Orang tuamu berharap kau segera menikah untuk melanjutkan kehidupan mereka,” dia mengerti kalau aku disuruh oleh orang tua mencari gadis yang bisa kunikahi.

Namun, tidak semudah itu aku menerimanya. Aku masih berpikir dua kali. Jika aku menolak gadis ini, maka akan ada dua hati yang tersinggung. Satu kakek tua tersebut dan sudah dipastikan yang kedua adalah gadis di depanku ini. Dan bagaimana jika ini adalah sebuah kutukan jika aku tidak menerima gadis ini?

“Kek, bolehkah aku untuk berpikir sebentar?” tanyaku kemudian.

“Nak, kau boleh tanyakan itu pada gadis ini. Kalau aku, itu terserah kamu. Namun, lebih baik kau bertanya pada gadis ini.” Kakek itu menjawab dengan tersenyum.

“Maaf, kita belum berkenalan.” Kataku gugup sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman. “Aku Karl, seorang penebang pohon biasa. Tidak punya harta dan jabatan. Hanya punya sejuta harapan yang masih bergantungan, salah satunya cinta sejati.”

“Hai Karl, aku Cherry. Tenang saja, aku bisa memberimu harta, jabatan, dan harapanmu yang menggantung itu akan jadi kenyataan,” ujarnya.

“Namun, bolehkah aku minta waktu untuk kupikirkan lagi? Maksudku untuk kita berkenalan lebih jauh lagi. Karena aku tidak mungkin memilih pasangan yang belum aku kenal sekalipun kau keluar secara ajaib.”

“Baiklah. Tunggu aku besok malam di perbatasan kota, Karl. Kau akan aku ajak perkenalan lebih jauh.”

Gadis ini kemudian berjalan menjauh dengan kakek tersebut. Kini, tinggal aku sendirian di malam gelap sambil takut dimakan beruang madu.

Tanpa sadar, aku semalam tertidur di bawah pohon cemara tersebut. Dan kini, alam menjelma cerah dengan suara burung camar di mana-mana. Aku duduk dan berpikir, ke mana aku harus pergi. Kuputuskan untuk pergi ke arah selatan di mana ada bukit indah dengan puncaknya yang landai.

Bukit tersebut sudah di depan mata, dan hendak tergapai ketika seekor panda menghampiriku. Dia menyodorkan makanannya sambil menunjuk ke atas. Rupanya, dia ingin batang bambu lagi untuk dimakan. Kuambilkan batang bambu itu dan kutinggal pergi setelahnya.

Betapa terkejut diriku ketika mendapati pemandangan luar biasa di depanku. Sebuah kota tenang yang tak banyak mengeluarkan suara berisik rasan-rasan tetangga. Dan apa yang lebih mengejutkanku adalah sebuah istana besar berdiri di tengah-tengah dua bukit. Di kala aku melamun, tiba-tiba rombongan prajurit menabrakku. kemudian salah seorang prajurit itu menarikku berdiri sambil berkata, “Ayo, kapten, kita akan kehabisan makan saat tiba di istana nanti.”

Omong kosong apa yang barusan orang itu katakan? Batinku dalam hati. Aku pun ikut rombongan mereka dengan pikiran yang masih bingung. Baiklah, mungkin setelah ini aku akan menemukan keluarga dan tempat tinggal. Untuk permasalahan menemukan perempuan atau tidak itu masalah nomor seribu.

Gerbang istana terbuka. Di hadapanku saat ini ada banyak orang sedang memasak dan orang-orang yang duduk memakan masakan tersebut. Sampai-sampai aku tidak menyadari ada seseorang yang melihatku dari kejauhan. Dia sedang duduk di bawah payung warna biru langit, berambut pendek, serta mempunyai alis tebal segaris.

Kulihat, tidak ada seorang-pun yang berani menghampiri jajaran yang duduk di bawah payung-payung di tengah halaman. Dan kuterka, merekalah para raja, ratu dan anak-anaknya. Masih aneh kulihat pandangan gadis itu namun segera kutepis karena salah satu prajurit merangkulku kemudian mengajakku ke kamarnya. Sungguh, mimpi apa aku semalam?

Belum tepat satu minggu, aku sudah mengenal banyak orang di kawasan istana ini. Seluruh teman prajurit dan juga pembantu istana. Mengenai pekerjaanku di sini, aku hanya bekerja untuk raja jika beliau memerintahkan. Jika tidak, aku biasa memasak dengan bibi-bibi istana. Ya, meski dirasa tindakanku ini aneh dan selalu mengundang pernyataan aneh dari teman-teman. Kata mereka aku mengejar Putri Liona untuk kemudian menikahinya. Yang benar saja, batinku.

Hingga ada hal yang sudah kulupakan. Yaitu perjanjianku dengan Cherry untuk menemuinya di perbatasan kota malam hari tepat seminggu lalu. Bagaimana nasibnya? Aku tidak peduli. Aku sudah sejak awal tidak ingin dengannya. Hanya saja untuk mengutarakan itu aku takut ia tersinggung. Aku tak mencari seseorang yang bisa mewujudkan mimpi-mimpiku. Karena yang bisa mewujudkan mimpiku hanyalah diriku sendiri. Aku sudah melupakan siapa diriku di masa lalu dan sekarang sudah siap untuk hidup yang baru.

~~~

Pada suatu malam, aku melihat bayangan dengan suara isak tangis ditahan. Aku memerhatikan dari balik tembok karena penasaran siapa yang sedang terisak. Dari belakang, terlihat siluet rambut pendek dengan postur tinggi. Ia berlari setelah menginjak sesuatu. Aku segera bersembunyi sambil menunggu ia menjauh dari tempatku sekarang. Dan ketika ada cahaya yang menerangi bayangan tadi, ternyata itu adalah Putri Liona. Aku memungut sesuatu yang ia injak tadi. Ternyata sebuah cincin dengan permata warna biru langit.

Aku menyimpan cincin tersebut dan membawanya ke kamar. Dan saat diriku hendak merebahkan tubuh di atas kasur, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamar dengan keras. Kubuka pintu, dan muncullah Putri Liona di hadapanku.

“Apakah kau yang tadi memungut cincinku?” ia bertanya dengan nada sedikit membentak.

“Mohon maaf, Putri. Ini cincinmu.” Kuserahkan cincin yang kuambil dari saku bajuku pada Putri Liona.

“Apa kau ingin berpetualang denganku, Karl?” Putri Liona bertanya padaku. Suatu hal yang membuatku kaget sekaligus.

“Mohon maaf, Putri. Aku tidak bisa.”

“Ini termasuk perintah, Karl. Tenang saja semua orang sudah tertidur. Aku akan tunjukkan tempat bagus di hutan Arnold.” Putri Liona menarik tanganku menuju luar istana.

Sesampainya di hutan, kami berdiri di depan pohon besar dengan kolam ikan alami di sekitarnya. “Karl, mari kita membangun sebuah rumah pohon di atas pohon ini. Aku tak perlu memberitahumu apa alasanku melakukan semua ini padamu. Cukup dengar dan lakukan perintahku.”

Aku tak bisa menjawabnya. Aku turuti saja perintah Putri Liona. Padahal dalam hati, ingin sekali kubertanya. Mengapa harus ada saat seperti ini dan mengapa diriku yang ia ajak kesini.

Lambat laun, aku dekat dengan Putri Liona. Sudah bisa kalian tebak dari awal jika akhirnya kami akan dekat. Ya, setiap malam jika kami sedang tidak ada pekerjaan maka hutan Arnold adalah tempat kami menghabiskan waktu hingga dini hari. Apa yang kami lakukan di sana hanyalah membangun sebuah rumah pohon. Tidak lebih.

Hingga sebuah rumah pohon pun berdiri dengan sangat indah di atas pohon besar. Dan pemandangan dari jauh terlihat menakjubkan. Kami duduk di teras rumah pohon. Dan saat itulah Putri Liona angkat bicara untuk waktu yang lama.

“Karl, pada suatu hari nanti kita pasti akan menemukan sebuah takdir yang entah itu bisa kita terima atau tidak. Ada jutaan alasan mengapa kita bisa hidup dengan takdir itu. Kau paham, kan?”

Bulan berganti tahun. Sudah empat tahun lebih aku meninggalkan orang tuaku. Bagaimana kabar mereka? Aku juga tidak tahu. Aku juga belum bisa pulang untuk saat ini karena aku belum bisa membawakan mereka calon menantu. Dan sudah lama aku tidak ke rumah pohon bersama Putri Liona. Karena berdasar berita yang aku dengar Putri Liona akan dijodohkan dengan pria dari Liben, daerah luar kekuasaan istana.

Aku sadar diri siapa diriku. Namun, haruskah aku mengakui jika aku menginginkan Putri Liona? Ah, sudahlah. Lagipula aku bukan siapa-siapa. Dan mari kita kembali pada cerita hari ini malam ini di kamarku dan ada seorang penyusup di atas kasurku, Cherry.

Kembali dengan pertanyaan Cherry kemana aku malam itu, 5 tahun lalu yang tak menemuinya di perbatasan kota.

“Aku takut ini sebuah kutukan. Kau tahu? Itulah alasan utamaku menjauhimu secara halus, Cherry. Kau boleh mengutukku sekarang. Silakan, entah itu aku tidak akan menemukan pasangan, atau kau kutuk aku jadi batu, aku tak masalah.” Kataku sambil menaruh sebuah buku di atas meja.

“Karl, kata siapa aku ingin mengutukmu. Kau kira kita ini hidup di negeri dongeng anak? Ah, yang benar saja. Kau akan temukan kebahagiaan, Karl. Atas usaha yang telah kaulakukan selama ini. Cukup kautahu itu dariku.”

Kata-kata Cherry jujur saja membuatku semakin bingung dengan semua keadaan yang kualami.

“Sampai jumpa di dunia kebahagiaan, Karl.” Dia pamit. Ya, entah kemana dia menghilang dari pandanganku.

Hingga aku menoleh pada buku yang tadi kutaruh di atas meja. Dan aku baru mengetahui fakta bahwa Putri Liona menyimpan banyak buku di rumah pohon. Maklumi saja aku tidak tahu karena aku tak pernah masuk ke dalam rumah pohon sebelumnya. Setelah selesai membangun, aku hanya duduk di teras sambil melihat pemandangan dari sana. Itulah yang selalu aku lakukan. Alasan lain adalah karena Putri Liona mengunci rumah pohon tersebut.

Hingga malam tadi aku berusaha membobol rumah pohon itu karena aku penasaran dengan isinya. Tenyata, sebuah ruangan penuh buku. Dan ada satu buku yang membuatku penasaran. Buku yang ditaruh di atas meja dengan tulisan rapi serta gambar ilustrasi yang sangat jelas bahwa ilustrasi itu adalah gambaran aku dan Putri Liona di awal pertemuan hingga terakhir kali kita bertemu. Yaitu pada saat Putri Liona dipaksa masuk kamar sedang aku berjalan menuju ke arahnya.

Aku pun mengetahui jawaban yang selama ini terbenam pertanyaan di pikiranku. Ternyata Putri Liona juga memiliki perasaan yang sama. Tak berani mengungkap, hanya berharap pada takdir. Dan inilah takdirnya. Bagiku sendiri, Putri Liona sudah ada yang bisa membuatnya bahagia, mungkin.

Ada ketukan keras dari luar. Spontan, kubuka pintu kamarku dan kudapati adik Putri Liona, Putri Aster.

“Ada apa tuan Putri?” aku bertanya dengan sopan.

“Cepatlah ke lantai bawah, paman. Ada yang menunggumu.”

Aku berjalan menuju lantai bawah bersama Putri Aster. Bayanganku, mungkin seluruh penduduk istana disuruh berkumpul untuk mengiring Putri Liona bersama calon pangeran dari Liben. Ternyata aku salah. Di tempat inilah, halaman utama istana. Aku menemui Putri Liona terakhir kali, dengan tubuh bersimbah darah dengan sepucuk surat di genggamannya.

Raja tak berani mendekati mayat anaknya. “Coba kau tarik kertas itu, Karl, yang ada di genggaman Liona.” Kucoba menariknya. Dan betapa terkejut ketika melihat bahwa surat itu ditujukkan untukku.

To : Karl
Kau akan menemuiku di kehidupan selanjutnya. Kita akan lebih bahagia di sana. Terima kasih untuk pertemuan-pertemuan kita yang luar biasa. Pulanglah, karena ada seseorang yang menantimu di rumah selain orang tuamu. Dia akan menyayangimu lebih dari inginmu.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.