Masalah Dan Keberkahan Hidup

1
40
views

Ahmadi
Mahasiswa IAI Al-Qolam

islamic school
Sumber gambar: east.education

Yang namanya hidup itu memang harus dimulai dengan suatu masalah karena dengan masalahlah, insyaallah, kita menemukan suatu kebaikan dan bertambah pengatahuan hidup. Suatu masalah yang saya hadapi sendiri di pesantren adalah mengatasi santri-santri baru dan dari masalah inilah saya mendapat banyak pengatahuan, di antaranya bisa tahu cara mengatasinya. Saya juga bisa mengalirkan ilmu yang saya dapat dari guru-guru.

Begitupun hikmah yang saya peroleh ialah bisa menggugurkan kewajiban kewajiban saya yang dituntut wajib oleh agama, yaitu mengamalkan ilmu-ilmunya Allah pada teman santri yang masih baru mondok. Alhamdulillah, dengan semua ini kita bisa berpengalaman lebih untuk hidup ke depannya.

Saya sendiri hidup di lingkungan pesantren. Tentunya saya mengalami banyak hal yang perlu dihadapi dan perlu ditingkatkan supaya saya tidak mengecewakan orang tua yang sedang menunggu kesuksesan saya di sana.

Kalau menurut saya sendiri, manusia itu memang harus selalu sabar terhadap masalah-masalah yang ada, karena yakinlah bahwa setiap masalah pasti ada hikmah yang dapat kita ambil. Yakinkanlah pula bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya karena Allah sendiri mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu tidak memberikan kita suatu beban melainkan dengan kesanggupan kita masing-masing.

Ketika saya sedang banyak masalah, terkadang saya putus asa untuk melakukanya. Tapi terkadang pula ketika saya sudah putus asa dengan masalah yang ada, saya langsung pergi ke makam dan di sanalah saya berdoa kepada Tuhan dan mengharap berkah para kiai al-marhüm al-mahgfur lah.

Di sana pulalah saya merasakan dan mengkhayal beliau-beliau semua pasti mendoakan kita atas apa yang kita perjuangkan. Maka dari itu, saya sendiri tidak mau mengecewakan dan meragukan doa-doa beliau. Dan di sana pulalah saya mulai berpikir kembali atas masalah-masalah yang saya hadapi karena saya yakin atas doa beliaulah dan usaha saya. Inyaallah, Tuhan pasti memberikan kita petunjuk yang lurus.

Perlu kita ketahui, di samping kita banyak dosa tentunya kita mengharap doa-doa dan berkah dari para kiai, baik yang masih ada ataupun yang sudah almarhum.

Dikarenakan beliau itu termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah, tentunya doanya dikabulkan oleh Allah. Berangkat dari sinilah saya mulai yakin sama Allah dan doa-doa para guru saya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya sebagaimana firman Allah,

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

Allah tidak akan memberikan suatu beban melainkan sesuai dengan kesanggupanya masing-masing.

Dengan ayat di atas sudah jelas bahwasanya Allah itu tidak akan memberikan kita sebuah masalah yang terlalu berat. Tetapi selaku kita manusia biasa, kita wajib berusaha dan tidak wajib mendapatkan hasilnya karena semua itu Allahlah yang berhak mengatur segalanya, baik kegagalan ataupun kesuksesan hidup.

Apalagi masalah-masalah yang kita hadapi, seberat apapun, kita wajib mengerjakanya. Adapun berhasil atau tidaknya, biarlah Allah yang mengaturnya.

Suatu contoh, saya adalah orang Kalimantan yang pergi ke tanah Jawa, tidak lain hanyalah untuk mencari ilmu dan kesuksesan di tanah Jawa ini. Sekarang saya sudah menjadi seorang santri, tentunya saya pribadi harus bermandiri untuk menghadapi rintangan berbagai macam masalah, tetapi tidak juga harus berhasil atas masalah yang kita hadapi. Hanya saja, tujuannya adalah mengambil suatu hikmah dan pengetahuan hidup supaya saya tidak bergantung pada orang lain. Tapi kesemuanya ini hanyalah Allah yang dapat memberikanya dan tidak lepas dari doa dan berkah para guru kita juga dan kedua orang tua kita di rumah. Menurut saya pribadi, kesuksesan itu dari kita sendiri, sedangkan orang tua dan guru itu hanyalah jembatan untuk kita sukses.

Selain masalah yang saya ungkapkan di atas, ada juga masalah yang akan saya uraikan sebagai berikut. Ketika dulu saya baru mondok, saya sering menangis dan menyendiri di tempat yang tidak ada teman-teman santri. Terkadang, mau melaksanakan ibadah salat nangis, ketika mau makan nangis, pergi ke masjid nangis.

Tapi, Alhamdulillah, setelah lama-kelamaan saya mulai punya teman banyak. Di situ saya mulai sering bergurau dengan teman-teman pada waktu kosong, seiring dengan langkah saya semakin betah di pondok pesantren. Akhirnya saya mulai belajar mengikuti kegiatan dan menghafal serta mengikuti semua kegiatan pondok pesantren.

Di situlah saya tidak lagi memikirkan lingkungan rumah. Akhirnya, dengan semua masalah ini, saya mondok berjalan tiga bulan dan saya sudah menghatamkan nazam Imrithi dan ini merupakan suatu hikmah untuk pengalaman kita ke depanya.

Pertanyaanya, kenapa saya bisa menghatamkannya? Karena saya pikir, saya harus balas dendam terhadap semua air mata yang saya teteskan, lebih-lebih tetesan air mata kedua orang tua saya di rumah.

Masa demi masa saya hafalan Imrithi adalah masa-masa yang pahit sekali, di antaranya kalau tidak salah waktu itu saya kena penyakit pondok, yaitu pekonyok dan cacar. Waduh, kalau ingat masa itu … hmmmm….

Tapi itu semua merupakan hal yang biasa bagi santri seperti kami. Tak lama kemudian, akhirnya saya ikut lomba yang, alhamdulillah, menjadi pemenang dalam bidang muhafadhah imrithi. Ketahuilah bahwa dari ini semualah saya bisa merasakan hidup itu memang harus berawal dari permasalahan hingga kita bisa mengambil suatu hikmah dan pengatahuan lebih.

Tak lama kemudian, saya melanjutkan hafalan saya, yaitu menghafal tasrifan dalam jangka setengah bulan. Alhamdulillah, sudah jebol, baik tasrifan istilahi maupun tasrifan lughowi. Dan dari sinilah saya mulai paham tentang ilmu Nahwu dan Sarraf.

Akhirnya, lama-kelamaan betapa senangnya saya belajar ilmu Nahwu dan Sarraf. Sangking cintanya saya pada ilmu Nahwu dan Sarraf, saya langsung melanjutkan hafalan nazam Maqshud. Dalam jangka satu bulan lebih, saya jebol nazam Maqshud ini.

Kemudian, bebeapa bulan selanjutnya saya istirahat dulu tidak hafalan lagi, melainkan men-tikrar atau mengulang-ulang hafalan saya semua agar menyatu dengan darah-daging saya. Kata para ustaz saya, hafalan itu harus bisa hingga di luar kepala.

Akan tetapi perlu digarisbawahi bahwa semua ini berawal dari permasalahan. Yang saya harapkan hanyalah ingin mencari rida para guru dan orang tua, sehingga saya mendapatkan keridaan Sang Ilahi Rabbi. Dengan demikian, kia semua pada akhirnya bisa mencapai suatu hikmah dan pengatahuan lebih dari berbagai macam masalah yang kita sudah alami. Semoga berkah dan manfaat. Amin, amin ya rabb al-alamin.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.