Tradisi Jenang Yang Mulai Dianggap Usang

0
21
views

Fitrotul Hikmah
Dosen IAI Al-Qolam Malang

jenang sumsum
Jenang Sumsum. Sumber gambar: yogyakarta.panduanwisata.id .

Tulisan ini merupakan ramuan renyah dari sudut pandang penikmat makanan yang “gelisah” akan tradisi yang sudah mulai luntur dan hilang di kalangan masyarakat Jawa modern.

Jenangbagi masyarakat Jawa merupakan jajanan tradisional yang sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari. Jenang dan berbagai macam ragamnya terkadang disuguhkan pada peristiwa-peristiwa penting dalam daur kehidupan seseorang ataupun bulan-bulan yang dikultuskan dalam penanggalan Jawa. Selain itu, jenang juga dipercayai mempunyai khasiat tertentu berkaitan dengan kesehatan seseorang.

Bahan dan pembuatannya pun cukup mudah, tidak terlalu mahal dan rumit. Jenang Grendul itu hanya ada dan disuguhkan di bulan Sapar (Shafar). Jenang Abang selalu disiapkan berkaitan dengan pemberian nama seseorang. Jenang Sumsum dipercayai dapat memberikan sensasi dingin dan lembut pada bagian perut bagi siapapun yang menyantapnya. Jenang-jenang itu akan dapat disantap setelah dilakukan doa bersama-sama dalam kegiatan kenduren yang ada di teras masjid ataupun di dalam rumah yang dianggap sesepuh kampung. Jajanan jenang memang datang turun-temurun dari orang tua terdahulu. Diwariskan tanpa tulis dan kata, namun secara massal orang tua akan membuat dan menyajikan, serta orang-orang di sekitarnya dengan suka cita akan menyantapnya. Kebiasaan itu akan berulang-ulang dan terbentuk puluhan tahun sehingga menjadi kultur yang sangat lekat.

Nah, makanan-makanan yang ringan itu perlahan-lahan sudah mulai hilang keberadaannya ketika bulan-bulan penting itu datang. Jenang-jenang itu satu per satu mulai tersingkir keberadaannya dan hanya tinggal satu, dua, ataupun tiga dalam takaran penyajiannya.

Jenang yang mulai luntur dalam penyajiannya tampak digerus dengan rotasi aktivitas manusia yang bergeser dari individu penuh longgar ke individu yang penuh budaya kontemporer. Kesibukan individu dengan rutinitas setiap hari memaksanya untuk tidak mau memasak dan menyajikannya. Budaya simpel dan tidak mau repot juga menjadi penyebab jenang tidak muncul dalam bulan-bulan sakral. Jajanan luar yang menjadi tolok ukur dalam tren kuliner seperti Burger ala Amerika, Kebab bernuansa Arab, Takoyaki berbau Jepang dan sebagainya menjadikan jajanan jenang mulai tersingkir di meja saji.

Kekhawatiran ini pun bukan tanpa alas an. Tradisi jajanan jenang jika tidak dilestarikan secara marak maka akan terkikis dari ingatan masyarakat pemiliknya. Jajanan jenang lambat laun akan punah seiring dengan budaya urban yang mulai menyesaki dan menggeser budaya lokal.

Perlu pelestarian secara massif supaya jajanan jenang sebagai bagian kecil dari budaya Jawa bisa tetap dikenali oleh generasi penerusnya. Tak ayal, keusangan suatu tradisi akan hilang jika pelanggengan itu menjadi objek yang perlu dikedepankan. Pelestarian itu dapat dilakukan dalam berbagai lini kegiatan ataupun even-even tertentu yang juga mengikutsertakan jajanan jenang dapat terhidang dengan sedap selayaknya makanan impor lain.

Penghujung tulisan ini, penulis berangan dan berandai jika ada ribuan festival makanan tradisional dikemas secara kekinian, salah satunya adalah jajanan jenang, maka selera menyecapnya akan timbul.

Tabik!

Pitoe
Senin, 14 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.