Eksis Gak Harus Seksis

0
81
views

Sebuah penelitian menyoroti bahasa atau gambar di belakang bak truk dari sudut pandang feminisme. Hasilnya, ternyata bahasa atau gambar-gambar itu cenderung seksis. Penelitian itu dilakukan oleh Eggy Fajar Andalas & Arti Prihatini yang kemudian dipublikasikan dalam Jurnal Satwika Vol. 2, No. 1 tahun 2018 silam.

Korban dari perilaku seksis di sini adalah kaum perempuan. Perempuan yang direpresentasikan sedemikian rupa dalam tulisan atau gambar bak truk itu menjadikan perempuan (1) sebagai objek seks laki-laki, (2) dilabeli stereotip negatif, dan (3) terdiskriminasi.

Selama ini saya menganggap gambar-gambar atau tulisan-tulisan di belakang bak truk sebagai lucu dan kreatif belaka. Para pemilik truk itu menampilkan dirinya sebagai para seniman yang menghiasi truk mereka dengan karya mereka, yakni kata-kata atau lukisan. Pemandangan itu mirip seperti meme yang bertebaran di internet. Tujuannya untuk lucu-lucuan semata.

Namun di situlah persoalan seksisme itu muncul. Bahasa yang bertujuan lucu-lucuan belaka atau humor terkadang terjebak dalam perilaku seksis yang mendiskreditkan dan mendiskriminasi gender tertentu—kebanyakan adalah perempuan.

Hingga kini, para supir truk adalah kaum lelaki. Jadi wajar jika candaan yang mereka lontarkan dalam bentuk tulisan atau gambar di bak truknya terkadang menyentuh tema perempuan. Namun bagaimana perempuan direpresentasikan dan dihadirkan dalam candaan mereka di belakang truk adalah persoalan lain. Representasi tidak hanya persoalan pemaknaan harfiah semata, namun juga melibatkan pemaknaan non harfiah yang terkadang justru menyiratkan suatu pra anggapan tersembunyi terhadap apa yang direpresentasikannya. Pra anggapan itu tersembunyi karena terkadang penutur sebuah ujaran tidak menyadari keberadaannya. Dalam konteks pembicaraan kita saat ini, pra anggapan itulah yang disebut sebagai ideologi seksisme.

Ideologi seksisme adalah paham yang menganggap bahwa pemilik jenis kelamin tertentu adalah lebih superior ketimbang yang lain. Paham ini bisa menjangkiti siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Jangan dikira korban dari ideologi ini hanya perempuan, laki-laki pun bisa juga. Hanya saja, sepanjang sejarah umat manusia, perempuan adalah korban paling sering dari ideologi ini.

Hal itu tidak lain karena kebanyakan masyarakat Indonesia menganut sistem patriarki; sistem masyarakat yang lebih mengunggulkan laki-laki di atas perempuan dalam berbagai hal, baik secara zahir maupun batin. Patriarki pada dasarnya adalah sistem sosial, namun pada gilirannya akan memengaruhi pikiran individu per individu anggotanya. Pikiran itulah yang kemudian melahirkan perilaku seksis yang mendiskreditkan dan mendiskriminasi perempuan dalam berbagai bentuk, terutama bahasa dan simbol-simbol lainnya.

Humor adalah sebentuk bahasa yang kerap mengandung unsur seksisme. Dalam amatan sepintas, humor seolah menawarkan sekadar kelucuan dan kekocakan semata. Namun jika dikuliti secara lebih mendalam lagi, humor terkadang menyembunyikan pra anggapan tertentu—terutama pra anggapan seksis—yang kerap menyebar di luar kesadaran penuturnya.

Ambil contoh humor dalam komedi tunggal (stand-up comedy). Komedi tunggal seringkali mempertontonkan humor yang cerdas dan kekonyolan yang serius. Mereka betul-betul manusia yang mendedikasikan hidup dan waktunya untuk membuat orang lain tertawa dengan sehat. Namun tidak jarang humor yang mereka tampilkan terjangkit penyakit seksisme itu, yakni secara tidak sadar mendiskreditkan dan mendiskriminasi perempuan secara tidak adil.

Ketidakadilan, itulah alasan kenapa seksisme menjadi persoalan dalam budaya patriarki. Sepanjang pembedaan (diskriminasi) dan pelabelan terhadap gender yang berbeda tidak melanggar keadilan, tentu tidak ada masalah di sana. Namun protes keras terhadap seksisme terjadi karena ketidakadilan kerap berlaku kepada pemilik identitas gender tertentu, sedangkan pemilik identitas gender lainnya mendapat privilese tertentu dengan bebas.

Alasan lainnya adalah karena seksisme bisa mengubah humor menjadi sebentuk kekerasan verbal. Kekerasan verbal bisa bermacam-macam. Kadang berupa perundungan, kadang pula pelabelan, yang paling parah adalah ujaran kebencian.

Dari sini, protes terhadap perilaku seksis bisa kita pahami alasan dan tujuannya. Namun ada perdebatan juga mengenai ukuran dan standar suatu perilaku disebut seksis atau tidak. Standar dan ukuran ini bermacam-macam, dan itulah kenapa muncul perdebatan seru di kalangan kaum pro keadilan gender.

Kini kita sudah mulai menerima bahwa tindakan men-suit-suit-i perempuan adalah sebentuk kekerasan verbal. Di Indonesia baru-baru ini sudah ada peraturan yang melarang tindakan semacam itu, dan pelakunya bisa dianggap kriminal. Dulu tindakan itu dianggap biasa oleh kaum lelaki.

Yang agak runyam adalah candaan. Candaan apa yang termasuk seksis dan bukan terkadang sulit dibedakan. Ada sebagian orang yang memang terbiasa membuat candaan tentang lawan jenisnya dan itu dianggap perangai yang biasa saja oleh kawan-kawannya. Namun jika candaannya itu didengar oleh orang yang baru dikenalnya, dia bisa dianggap seksis.

Mungkin begitu pula awalnya segala tulisan dan gambar di belakang bak truk itu. Awalnya hanya diniatkan sebagai candaan belaka. Namun karena ia bisa dibaca oleh siapa sepanjang truk itu melintas, tentu pemaknaan dan penafsirannya menjadi sangat beragam, seberagam jumlah manusia yang membacanya. Itulah kenapa analisis feminis bisa menyimpulkannya sebagai candaan seksis.

Pada dasarnya, candaan bisa didesain cerdas sehingga tidak menimbulkan kesan seksis. Ungkapan yang sangat terkenal bisa menjadi patokan untuk menghindari segala bentuk perilaku seksis: perlakukan lawan jenis Anda sebagai manusia.[]

Sumber gambar: nasional.kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.