Mempertanyakan Kembali Integritas SEMA dan DEMA IAI Al-Qolam Periode 2018-2019

3
46
views

Terhitung empat bulan sudah gelaran Musyawarah Besar (MUBES) terlaksana. Dalam musyawarah tersebut menyisakan segudang pekerjaan rumah bagi beberapa stakeholder yang menjadi pelaksana amar putusan MUBES. Beberapa diantaranya adalah akibat hukum dari status diterima bersyaratnya laporan pertanggungjawaban Dewan eksekutif mahasiswa (DEMA) periode 2018-2019. 

Tercatat pada Musyawarah besar tertanggal 3-4 juli 2019, setelah melewati perdebatan yang cukup panjang didasari kurang maksimalnya kinerja Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) periode 2018-2019. Maka forum tertinggi organisasi mahasiswa tersebut (MUBES,red) sepakat bahwa laporan pertanggungjawaban DEMA dinyatakan diterima bersyarat. 

Hal tersebut bukan tanpa alasan, dalam masa bakti 2018-2019 hampir mayoritas mahasiswa menyatakan tidak puas terhadap kinerja mereka. Hal tersebut terbukti dari mayoritas perwakilan organisasi mahasiswa (ORMAWA) yang hadir dalam forum tersebut mendukung status diterima dengan bersyarat. (Lihat lpmplatinum.alqolam.ac.id/2019/07/musyawarah-besar-2019-revolusi-organisasi-reaktif-menjadi-proaktif/ )

Dalam status “diterima dengan syarat” secara lugas menerangkan bahwa laporan pertanggungjawaban lembaga yang sebelumnya bernama BEM tersebut dapat di terima apabila yang bersangkutan memenuhi apa yang disyaratkan oleh forum MUBES.

Dengan status “diterima dengan bersyarat”, pada dasarnya para perwakilan mahasiswa dalam forum mubes masih memberi kesempatan untuk DEMA periode 2018-2019 untuk memperbaiki reputasi merah mereka. Namun nampaknya kesempatan yang diberikan oleh MUBES tersebut tidak dimanfaatkan baik oleh DEMA periode 2018-2019. Setelah menyatakan kesanggupan untuk melaksanakansyarat dengan tempo waktu secepatnya terhitung setelah gelaran MUBES usai, hingga tulisan diturunkan belum ada iktikad baik dari DEMA periode 2018-2019 untuk melaksanakan apa yang menjadi tuntutan dari forum.

Dengan tidak adanya itikad untuk melaksanakan apa yang sudah menjadi keputusan forum, maka secara otomatis akan menambah lembaran baru raport merah lembaga eksekutif tersebut. Melihat hal demikian tentu berbanding terbalik dengan slogan-slogan yang mereka gaungkan pada masa kampanye dan pekikan sumpah setia yang mereka ucapkan saat pelantikan diawal masa bakti. Dimana masing-masing pengurusnya disumpah atas nama Tuhan akan melaksanakan sebaik-baiknya apa yang menjadi tugas mereka.

Berbanding lurus dengan eksekutif, legislatif pun demikian adanya. Setelah menorehkan rentetan kinerja kurang maksimal (lihat http://lpmplatinum.alqolam.ac.id/2019/07/mengukur-kinerja-dewan-perwakilan-mahasiswa-2018-2019/ ) Senat Mahasiswa (SEMA) terlihat masih akan menambah daftar panjang tersebut. Dengan bergemingnya DEMA terhadap tuntutan forum MUBES, SEMA sebagai lembaga yang mempunyai fungsi pokok pengawasan dan….. nampaknya juga adem ayem. Wanprestasi, mungkin adalah ungkapan yang cukup untuk mewakili keadaan hari ini. Dimana pada MUBES secara tegas pihak SEMA menyatakan berkomitmen penuh untuk mengawal putusan forum termasuk pelaksanaan syarat pada status “diterima bersyarat” laporan pertanggungjawaban DEMA 2018-2019.

“Kami kecewa dengan sikap SEMA dan DEMA hari ini, perwakilan UKM kami yang menghadiri MUBES beberapa bulan lalu memberi penilaian diterima bersyarat dengan alasan kami masih percaya pada mereka, harusnya kami tolak laporan pertanggung jawaban mereka pada waktu itu” ujar salah satu pegiat Unit Kegiatan Mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya.

“berorganisasi itu tidak hanya untuk menambah daftar pengalaman di CV saja, harus ada integritas dan tanggung jawab yang menyertainya terlebih organisasi yang menjadi mandataris mahasiswa pada umumnya” imbuhnya.

Kekecewaan publik hari ini memenang sangat beralasan, namun hal tersebut sepenuhnya belum bisa dikatakan terlambat, disisa ±3 bulan masa bakti SEMA , selain untuk menuntaskan program kerja yang belum terlaksana alangkah baiknya SEMA juga kembali menekan DEMA untuk melakasanakan apa yang sudah menjadi tugas mereka. Ketika ada pengawalan secara kongkrit dari Senat Mahasiswa dan pada ahirnya tuntutan dari forum tersebut terlaksana, selain hal tersebut berarti tuntasnya tanggungjawab juga menghasilkan efek domino yang positif bagi kedua lembaga tersebut.

Pada SEMA, setidaknya di sisa periode kali ini publik merasa bahwa yang mereka pilih menjadi wakilnya dalam Senat berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan apa yg menjadi keinginan konstituennya, dimana walau tanpa dijabarkan secara gamblang sekalipun hal tersebut merupakan tugas utama seorang Senat.

Disisi DEMA, setelah apa yang menjadi amanat forum mereka laksanakan. Laporan pertanggung jawaban dengan status “diterima bersyarat” tersebut akan secara otomatis mempunyai catatan bahwa syarat yang di ajukan sudah selesai dilaksanakan. Dan hal tersebut juga walaupun belum bisa dikatakan sepadan, setidaknya bisa disebut upaya pertaubatan sekaligus penebusan dosa terhadap amanah yang sudah di percayakan kepada mereka.

Nah patut kita tunggu bagaimana perkembangan yang terjadi selanjutnya. Apakah dua lembaga tersebut akan berahir dengan khusnul khotimah ataukah malah akan tercatat dalam sejarah dua lembaga tertinggi dalam trias politika kampus periode 2018-2019 merupakan lembaga yang mempunyai integritas rendah terhadap apa yang mereka ucapkan pada pengambilan sumpah saat awal mereka dilantik. (red)

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.