Sepucuk Senja

Ikrimatus Sa’adah
Mahahasiswa IAI Al-Qolam Angkatan 2018

magic_garden
Sumber gambar: di sini.

Malam yang dingin aku berjalan di samping trotoar menapaki jalanan yang penuh liku dengan penuh kesedihan dan hujan pada saat itu turun semakin deras. Aku berlari dengan tangis yang mendalam. Masih kuingat akan hal itu, kesedihan yang sangat luar biasa yang tak pernah kurasakan. Betapa bodohnya diriku yang tak pernah bisa mengerti keadaan hingga semua berubah menjadi sirna, hingga seseorang itu pergi entah ke mana. Aku hanya bisa melihat bayangan itu dari kegelapan. Tidak ada sepercik senja pun di sekelilingku karena senja itu berpendar dari dirimu. Kau tak bisa melihatnya, hanya orang lain yang bisa. Aku tidak tahu di mana aku akan menempatkan senjamu itu. Dan aku menutup mataku berharap senja itu mampu memberikan seulas senja yang indah. Kamu hanya bisa memberiku sebuah senja tapi tak  kauberi sebuah keterangan. Hanya sepercik terang yang dapat kulihat darimu. Hanya sebuah senja yang jadi saksi kita yang tak tahu ujungnya, ada hakikatnya kau tatap senja itu di sudut timur yang hangat akan semangat.

Senja itu mulai menunduk perlahan. Ia membuat lukisan senja di langit dan menghiasi angkasa dengan kesempurnaanya. Lembar demi lembar telah kauhabiskan untuk segera sampai di ujung penantian sampai kau tak paham apa arti senja itu. Bahwa kesempurnaan senja itu hanyalah ketukan keterasingan dari ruang tubuh tersekap kebencian juga getar rasa memabukkan kesendirian. Segenggam debu kesakitan berhamburan dari beratus-ratus jalan hati. Keraguan mengancam pemburuan demi pemburuan tiada akhir. Berhembus dari arah ketidaksempurnaan, senjamu merangkak mencari makna keabadian dari patahan-patahan tawa, berderak cepat seperti kilat yang merobek mulut langit, seperti kegelapan yang tak pernah kautemukan. Senjamu memintaku untuk memohon berjuta harapan, supaya menjumpai keabadian yang lain. Apakah kau masih berharap untuk terlahir kembali, seperti senja yang memancar dari rahim sepi sebab makna kian tiada, untuk menampung kegelisahan berlumut biru otak sekeras batu?

Kamu berkata kamu suka senja, tapi kamu mencari perlindungan ketika matahari bersinar. Sungguh egoisnya dirimu yang tak pernah bisa memegang perkataan yang kauucapkan, hingga membuat semua orang tak akan pernah percaya bahwa ada senja juga bisa bersinar seperti matahari. Hingga sebuah hujan membuktikan bahwa mendung yang takkan bisa cerah tanpa kehadiran senja dalam hidupnya, awan yang senantiasa menetralisir mendung agar tidak hujan. Saat siang hari, langit terlihat begitu terang karena matahari yang menyinarinya hingga malam hari datang langit pun perlahan menjadi gelap, namun senja, bulan, bintang-bintang di langit serta lampu-lampu di sepanjang jalan dan rumah- rumah membuat malam menjadi menyala indah. Tanpa senja, siang dan malam hanyalah hitam tanpa keindahan, tanpa senja mata pun tak dapat melihat apa-apa.

Dengan senja itulah kita bisa melihat keindahan, hingga pada akhinya aku sadar aku menyukai senja. Senja yang bisa membuatku belajar dan membuatku bisa memahami arti kegelapan. Harusnya aku belajar banyak pada senja yang tak lagi menanti awan. Matahari yang enggan berlama-lama menunggu hujan yang tak pasti. Dan kini kubiarkan senja menetap dalam jiwaku, hingga senja melebur dan hilang bersama waktu. Pada akhirnya senja hanya semakin menjauh, namun sanggup melenyapkan cinta yang paling diam dari pandangan mata, apalagi hati. Lalu aku hanya menunggunya saat malam tiba. Senja tak pernah salah, hanya kenanganlah yang membuatnya basah. Dan pada senja, akhirnya aku mengaku salah. Senjaku mulai menepi peraduannya. Sekalipun hanya sejenak, namun senja pergi meninggalkan rasa hidup ini amat-teramat singkat. Hingga malam membuatku ingin menulis rindu, bukan untuk kaubaca. Karena rindu yang sesungguhnya telah kau tinggal di tepian senja. Mungkin kelak akan ada senja yang sepi untukmu, satu per satu kenangan mulai kauingat, dan tersenyum ketika giliranku lewat. Senja mengajarkan bahwa sesuatu yang berakhir tak selamanya tak indah, karena senja termasuk salah satu suguhan ternikmat yang disajikan. Mentari senja, pancaran sinarmu menyejukan kalbu. Entah, mata ini tak berkedip memandang sinergimu dan kuharap kau selalu ada. Ada jingga yang tampak mesra melukis di antara waktu dan kau ada di antaranya begitu indah. Cuaca di mataku dingin menatap kehilangan, lengan sehangat tenunan senja di pelupuk langit. Bangku panjang di ujung beranda senja yang meremang, semilir angin yang menggetarkan dedaunan, hal yang penuh kesenantiasaan, menunggu sebuah kepulangan. Mungkin senja pun tahu, bila apa yang telah pergi tak akan dapat kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.