Indahnya Perubahan

Sarah Asyifah
Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah
IAI Al-Qolam Angkatan 2019

pesantren
Kredit foto: thenational.ae

Kehidupan pondok pesantren memang telah banyak mengubahku. Diriku belajar banyak mengenai suka-dukanya kehidupan. Belajar menjadi seorang insan yang dekat dengan Tuhan. Belajar menjadi seorang yang selalu taat peraturan. Belajar tentang akhlak dan kesopanan. Dan belajar apapun yang mungkin tak bisa kudapat dari luar sana. Awalnya aku memang tak terima dengan keputusan sepihak dari ayah dan ibu, tapi setelah beberapa waktu Allah menyadarkanku bahwa ini adalah keputusan yang terbaik.

Namaku Marwa Maulidia, umurku 17 tahun lebih. Aku biasa dipanggil Marwa. Sekarang aku menempuh semester 2 di kelas XII MA Negeri 3 Kabupaten yang berada di desa yang sejuk, tenang, dan penuh dengan kedamaian. Sebenarnya masuk pesantren bukanlah keinginanku, namun mau tidak mau aku harus menuruti kedua orang tuaku.

Ya, angin sejuk malam ini mengingatkanku saat pertama kali aku masuk pesantren ini, pesantren Darul Huda namanya. Pesantren ini menjalin kerja sama dengan MA di mana aku sekolah, jadi banyak santri pondok ini yang bersekolah MAN 3, ya walaupun jaraknya lumayan jauh. Saat itu aku hanya memanyunkan bibirku ketika kedua orang tuaku menemui pengasuh pondok untuk menitipkanku di pesantren ini. Ingin sekali rasanya aku lari saat itu, kabur. Namun, apalah daya, desa ini tak pernah kukunjungi, jadi jika kabur pun aku pasti tersesat, maka dari itu aku mengurungkan niat bodoh itu.

“Semoga Marwa kerasan di sini ya,” ucap Bu Nyai sambil mengelus kepalaku saat itu yang hanya kubalas dengan senyum keterpaksaan. Kemudian ayah dan ibu berpamitan pulang. Aku mengantar sampai gerbang pesantren. Mobil ayah mulai berjalan menjauhiku. Air mataku ingin tumpah rasanya, kucoba menahan sekuat mungkin, namun tetap saja dia mengalir seenaknya di pipiku. Sedih rasanya, karena sebelumnya aku tiak pernah jauh dari ayah dan ibu.

Hari pertama di pesantren, rasanya kaku sekali. Ditambah lagi watakku yang pendiam dan sulit bergaul. Rasanya bingung sekali mau memulai pembicaraan dengan teman-teman yang ada di kamar, teman-teman baru. Mereka mulai menyapaku, menanyai namaku, alamatku, asal sekolah, tanya ini, tanya itu. Mereka juga memberi tahuku tentang peraturan-peraturan pesantren, larangannya, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pesantren ini. Ternyata lumayan berat juga ya menimba ilmu di pesantren.

Pada hari-hari selanjutnya aku mulai menambah teman, jadi tidak hanya teman sekamarku yang berjumlah 10 yang kukenal. Aku mulai mengenal teman dari kamar-kamar lain. Beberapa hari ini sekolah masih libur, jadi banyak waktu luang untuk beraktivitas. Aku bisa melakukan ini-itu dengan bebas. Kemudian hari-hari bebas itu berganti dengan hari-hari yang penuh dengan rasa lelah. Ditambah lagi dengan adanya aturan fullday school yang membuat kepalaku semakin pecah rasanya.

“Marwa!” teriakan Rania memecah lamunanku.

“Iya, Ni, ada apa?” tanyaku.

“Kenapa kamu? Malem-malem, sendirian lagi, ati-ati kesambet lo!”

“Ih, apaan sih. Udah ah aku masuk kamar dulu ya, aku mau tidur.” Aku meninggalkan Rania yang tadi berdiri di sampingku. Aku mulai memejamkan mataku, saatnya mengistirahatkan tubuhku yang terlalu penat agar segar esok hari.

Kring…..Kring…..Kring….. suara jam beker mengharuskanku membuka mata lebar-lebar. Ternyata sudah pukul 03.00, saatnya bangun dan memulai hari-hari penatku. Semangat Marwa, semoga hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Ya kalimat itulah yang setiap hari menyemangatiku, walaupun yang mengucapkan adalah diriku sendiri. Aku bergegas mengambil air wudu, kemudian kulantunkan doa-doa dalam setiap sujudku. Kucurahkan semua isi hati pada Rabb, Sang Penciptaku. Kupasrahkan semua urusanku pada-Nya. Setelah selesai bermunajat pada Allah, seperti biasa aku membuka Al-Qur’an dan mulai membacanya. Ya hal ini kulakukan seraya menunggu azan Subuh.

Pagi ini hujan turun dan gemericik air mulai kudengar. Kali ini, lagi-lagi lamunan memaksaku untuk ikut mengarungi setiap memori terdahulu. Aku mulai mengingat sesuatu.

Saat itu aku menangis sendirian di teras taman belakang tatkala hujan turun. Tiba-tiba Bu Nyai yang kebetulan lewat menghampiriku.

“Marwa, kenapa kamu sendirian di sini, Nak?” tanya Bu Nyai dengan lembut.

“Marwa ndak papa Bu Nyai.” kujawab pertanyaan Bu Nyai sambil mengusap air mata yang mengalir di pipiku.

“Sudahlah, Marwa, gak usah bohong. Cerita saja sama Bu Nyai. Jangan malu,” titah Bu Nyai padaku.

Akhirnya kuputuskan untuk bercerita pada Bu Nyai yang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri.

“Begini Bu, Marwa merasa lelah dengan kehidupan Marwa sehari-hari, bangun pagi, sekolah fullday, kemudian pulang sekolah mengaji, lalu kegiatan ini kegiatan itu sampai malam, ditambah lagi Marwa yang masih belum bisa mengatur waktu. Rasanya Marwa pusing, bawaannya emosi, lelah hati, lelah pikiran, lelah badan, sampai-sampai Marwa ingin rasanya mengakhiri semua ini, Bu Nyai. Padahal masih 6 bulan Marwa menjalani semua ini, tapi Marwa sangat sedih, Bu Nyai……” kuceritakan semua pada Bu Nyai.

“Owalah, begitu tah ceritanya…. Begini-begini, sekarang Bu Nyai tanya, Marwa melakukan semua ini karena apa?”

“Sebenarnya Marwa melakukan semua ini karena orang tua Marwa, Bu Nyai.”

“Lalu apa Marwa merasa terpaksa melakukan semua ini?”

“Iya, Bu Nyai, Marwa merasa menjalani semua ini dengan penuh keterpaksaan.”

“Ya, itu yang salah. Begini, Nak, niatkan segala sesuatu itu ikhlas lillahi ta’ala, jangan kamu melakukan semua itu karena keterpaksaan. Perbarui niatmu mulai dari sekarang. Kamu mencari ilmu di sini, di sekolah niati lillahi ta’ala, niati mencari ilmu yang barokah, niati memberantas kebodohan di muka bumi ini, niati untuk birrul walidain, untuk membahagiakan orang tua, karena baimanapun juga orang tua itu adalah segalanya bagi kita. Kasih sayangnya, cintanya, didikannya, kita pasti tidak bisa membalasnya sedikitpun,” tutur Bu Nyai kepadaku.

“Berarti Marwa harus memperbarui niat Marwa ya, Bu Nyai?”

“Betul sekali, jika kamu merasa lelah kembalikan semua pada Allah. Jika kamu sedih maka mengadulah pada Allah. Jika kamu ingin menangis, menangislah pada Allah. Mintalah semua yang kamu inginkan pada Allah, tapi ingat ikhtiar harus tetap dilakukan baru bertawakkal. Jika hari-harimu kauisi dengan mengingat Allah, Allah akan memudahkan segala urusanmu, InsyaAllah. Semangat ya, Marwa, ingat kata-kata Bu Nyai ini ya.”

“Iya Bu Nyai, Insyaallah Marwa akan selalu ingat nasihat Bu Nyai. Terima kasih, Bu Nyai.”

“Ya sudah, Bu Nyai, tinggal dulu ya nak, jangan nangis sendiri lagi lo ya,” ucap Bu Nyai yang kemdian pergi meninggalkanku.

Aku tersenyum sambil menjawab: “Iya, Bu Nyai.”

“Marwa,” panggil Rania. Lagi-lagi dia yang membangunku dari lamunanku.

“Ayo wudu, sudah azan Subuh lo,” ajaknya. Ternyata aku lumayan lama melamun, sampai-sampai azan Subuh pun tak kudengar. Aku hanya bisa tersenyum setelah bangun dari lamunanku. Setelah kulakukan semua nasihat dari Bu Nyai, memang benar semuanya berubah. Hari-hariku menjadi lebih tenang sekarang dan aku sangat bersyukur atas itu. Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Aku berucap dalam hati.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.