Survey, Pengaruh Covid 19 terhadap perkuliahan Mahasiswa Al-Qolam

2020 menjadi era baru bagi dunia untuk memberhentikan segala aktivitas warganya diluar rumah, disebabkan wabah Corona Virus Deaseas (Covid-19) yang menjadi pandemi global dan menjadi momok bagi seluruh warga dunia. Bagaimana tidak, sebanyak 168 lebih negara yang positif terkena covid-19 mulai menerapkan aktifitas dari rumah seperti China, Italia, AS, Spanyol, Iran, serta Indonesia.

Penyebaran virus corona terus meluas dilansir dari peta penyebarannya. Jumlah pasien yang sembuh tercatat sebanyak 107.247 orang. Sementara itu, jumlah kasus virus ini di seluruh dunia telah mencapai 417.582 lebih kasus dengan korban meninggal dunia lebih dari 18.612 orang. Mudahnya penyebaran virus ini, menyebabkan peningkatan angka ODP (Orang Dalam Pengawasan) dan juga PDP (Pasien Dalam Pengawsaan) di seluruh Indonesia. Itulah salah satu alasan pemerintah-pemerintah di dunia memberlakukan lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Hal ini yang menjadikan ekonomi dunia stagnan, dan parahnya melumpuhkan seluruh komponen perekonomian.


Dengan adanya kebijakan Social Distancing memberikan efek domino yakni membuat perekonomian Indonesia menjadi terganggu. Selain dalam tatanan makro banyak investasi dan sirkulasi pasar modal yang macet dalam tatanan mikro pun tak kalah terpengaruh. Bagaimana tidak harga barang pokok serta alat kesehatan seperti masker terus melonjak tinggi, sementara pendapatan para pekerja informal (dengan gaji yang tidak menentu seperti halnya para pemandu wisata, pedagang, tukang becak) terus mengalami penurunan dan para pekerja formal (pekerja dengan penghasilan tetap) pun tak kalah miris. Dilansir dari CNN News tertanggal 13 April 2020 Jumlah pekerja yang dirumahkan tembus 2,8 juta jiwa akibat perusahaan-perusahaan mengalami penurunan penjualan secara drastis di tengah pandemi Covid-19. (https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200413165953-92-493114/phk-dan-pekerja-yang-dirumahkan-tembus-28-juta-karena-corona)

Dampak Covid-19 kini juga telah dirasakan oleh dunia pendidikan. Hal ini telah diakui oleh organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) bahwa wabah virus corona telah berdampak terhadap sektor pendidikan. Hampir 300 juta siswa terganggu kegiatan belajarnya di seluruh dunia dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan. Dengan tujuan mengurangi mobilitas sebagai upaya pencegahan terhadap penyebaran virus ini seluruh pendidikan mulai sekolahtingkat dasar hingga perguruantinggi dirubah metodenya, dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring.

IAI Al Qolam Malang sebagai kampus berbasis pesantren pada 18 maret 2020 meluncurkan surat edaran pertama untuk menunda segala aktivitas perkuliahan sampai waktu yang ditentukan. 27 maret 2020 kembali, Setelah masa berlaku surat edaran, pihak kampus kembali menyebarkan surat edaran yang ke-2 untuk memberlakukan seluruh kegiatan mahasiswanya secara online. Sontak edaran yang kedua ini memberikan efek kejut tersendiri. Bagaimana tidak, sistm perkuliahan yang sedianya sebagai pengganti pembelajaran ini bukan tanpa masalah. Banyak sekali permasalahan-permasalahan yang dikeluhkan mahasiswa mulai susahnya akses, kurang memahaminya materi, hingga minimnya refrensi.

Disisi ekonomi pun demikian adanya, perbincangan mengenai subsidi kuota hingga permintaan pemangkasan biaya kuliah juga sama menyeruaknya. Hal tersebut dikarenakan ditengah ekonomi serba sulit seperti ini tidak ada kebijakan apapun terkait pembiayaan kuliah oleh pihak kampus. Hal tersebut berbanding terbalik dengan tidak banyak digunakanya fasilitas kampus yang tentunya mengurangi jumlah biaya perawatan serta oprasional seperti fasilitas wifi, listrik serta perawatan fasilitas lainya. Dalam beberapa kesempatan bahkan permasalahan-permasalahan diatas membuat banyak meme-meme, tulisan, serta perdebatan antara dosen dengan mahasiswa di WAG sehingga nampak isu perkuliahan ini menjadi menjadi trending topic.

Dari beberapa permasalahan diatas LPM Platinum mencoba melakukan penelitian terhadap mahasiswa Al Qolam terkait “Pengaruh pandemi Covid-19 terhadap sistem perkuliahan mahasiswa IAI Al Qolam Malang”. Penelitian ini melibatkan 130 koresponden dengan pengambilan sample secara random dari seluruh prodi yakni TBI, TBING, HES, AS, MATEMATIKA, KPI, PAI, dan PIAUD. Mulai tanggal 2 april 2020 kuisioner ini dibagikan melalui media sosial, hingga tanggal 8 april 2020.
Data yang kami dapat menunjukan 92% responden mengalami kendala dalam diberlakukannya kuliah online dan 7,8% lainnya tak memiliki kendala. Dari berbagai kendala tersebut menyebutkan 43,3% responden mengalami kesulitan dalam pemahaman materi, 12,6% kesulitan mencari refrensi dan 43,3% mengalami lebih dari satu kendala. Selain dalam teknis pembelajaran, 51,2% responden mengalami keterbatasan kuota, 31% responden menjawab kesulitan akses jaringan dan 8,5% dari mereka tak memahami teknis aplikasi. Dalam internal pembelajaran menyebutkan 42,6% responden mengaku hanya diberikan tugas online saja 26,4% dosen hanya memberikan bacaan materi saja, 25,6% selain memberikan materi dosen juga memberikan jawaban responsif dan 5,4% dosen hanya memberikan penjelasan saja.

Mengenai tanggapan umum mengenai sistem kuliah daring ini menyebutkan 72% responden menganggap bahwa mekanisme perkuliahan online ini belum siap diberlakukan pada mahasiswa Al Qolam. 53,5% sistem ini cukup efektif dilakukan, 38% sama sekali tidak efektif dan 8,5% efektif dilakukan.
Pada Sektor ekonomi mahasiswa, data yang kami peroleh menyebutkan 72% responden tak mempunyai pekerjaan sampingan dan 86% orang tua responden berprofesi sebagai pekerja lepas (informal). 60% responden menganggap pandemic covid-19 ini berdampak signifikan terhadap pembiayaan perkuliahan mereka,

Dari penelitian diatas, secara umum menyebutkan bahwa kebanyakan dari responden belum siap dan mengalami kendala dalam menerapkan mekanisme pembelajaran kampus dan menganggapnya kurang efektif hal tersebut . kendala yang responden keluhkan diantaranya pemahaman yang sulit didapatkan akbibat komunikasi yang hanya satu arah diamana tugas yang diberikan tidak sebanding dengan fasilitas materi serta diskusi yang diberikan.
Selain itu keterbatasan kuota juga menjadi kendala mahasiswa. Hal tersebut tidak dikarenakan akses terhadap aplikasi yang menjadi satu-satunya instrumen pembelajaran yakni Google Classroom yang membutuhkan kuota minim namun lebih ke pencarian refrensi serta penambahan materi dimana selain fasilitas materi yang kurang dari dosen banyak fasilitas umum seperti perpustakaan yang tidak dapat di akses mahasiswa. Sekitar 2000 mahasiswa IAI Al-Qolam yang berasal dari pedesaan kabupaten Malang dan luar Jawa, kesulitan dalam mengaakses internet juga menjadi salah satu kendala dalam perkuliahan online ini.
Dalam sektor ekonomi pun demikian, ditengah wabah Covid-19 ini secara signifikan membuat mahasiswa meresahkan pembiayaan kuliah. Hal tersebut dikarenakan mayoritas orang tua mahasiswa bekerja pada sektor informal yang terdampak secara langsung oleh wabah ini. Selain itu, tidak adanya pekerjaan sampingan membuat dampak ekonomi terhadap pembiayaan kuliah mahasiswa tidak cukup terbantu.

Dari penelitian diatas para mahasiswa berharap diadakanya perbaikan dalam sistem kuliah yang tentunya dapat mengakomodir berbagai kendala yang dialami mahasiswa mulai dari pengayaan materi, diskusi serta penyesuaian terhadap tugas yang diberikan ditengah berbagai keterbatasan. Hal tersebut sebagai upaya memaksimalkan segala potensi yang ada guna memaksimalkan sistem belajar mengajar yang ada. Dimana secara konseptual tercantum dalam Undang-Undang Perguruan Tinggi nomer 12 tahun 2012, pasal 31 tentang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang menjelaskan bahwa PJJ merupakan proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi. PJJ akan memberikan layanan Pendidikan Tinggi kepada kelompok Masyarakat yang tidak dapat mengikuti Pendidikan secara tatap muka atau reguler; dan memperluas akses serta mempermudah layanan Pendidikan Tinggi dalam Pendidikan dan pembelajaran. PJJ diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

Selanjutnya pada sektor ekonomi seyogyanya pihak kampus juga memberikan subsidi keringanan terkait pembiayaan kuliah bisa dalam bentuk subsidi kuota atau yang lainya. Seperti halnya terjadi di banyak kampus lain di Malang seperti UM, Universitas Brawijaya, Universitas Islam Malang (UNISMA) dan beberapa kampus lainya. Hal tersebut selain berbagai alasan yang sudah dipaparkan diatas sebagai bentuk implementasi empati terkait wabah ini subsidi juga di perlukan dalam rangka merespon Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Islam nomor: 697/03/2020, pada nomor 1 poin c yang berbunyi “Pimpinan perguruan tinggi keagamaan Islam melakukan upaya dan kebijakan strategis, terutama dalam penanganan paket kuota dan/atau akses bebas (free access) bagi mahasiswa dan sivitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam masing-masing dengan penyedia jasa telekomunikasi.” Yang mengharuskan kampus untuk menindaklanjuti himbauan tersebut.

(Div litbang LPM Platinum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.