Esensialitas Nisfu Sya’ban

Izzatul Ilmi
Pimred LPM Platinum

Bulan Rajab telah lewat, dan bulan Ramadhan akan segera kita sambut. Namun, setelah melewati bulan Rajab dan akan menginjak Ramadhan kita akan melalui bulan Sya’ban yang berada di tengah-tengah kedua bulan mulia tersebut. Pada bulan inilah, umat manusia berbondong-bondong memperbanyak ibadah. Tak hanya di bulan Rajab saja kita melakukan puasa sunnah yang tak asing kita laksanakan, namun di bulan Sya’ban juga-lah kita akan mendapatkan banyak pahala dari kebaikan yang kita lakukan.

      Keutamaan bulan Sya’ban ini lumrah kita sebut sebagai Nisfu Sya’ban yang jatuh pada tanggal 15 Sya’ban.  Suatu waktu, Nabi pernah bertanya pada para sahabat, “Apa kalian tahu mengapa dinamai bulan Sya’ban (cabang-cabang)?” . Mereka menjawab “Allah dan Rosulnya yang lebih tahu” Rosul berkata “Karena bulan ini bercabang (يتشعب dari asal kata شعبان ) kebaikan yang sangat banyak”

      Secara bahasa, Sya’ban berasal dari kata “Syi’ab” yang berarti jalan di atas bukit, makna jalan tersebut adalah jalan umat muslim menuju bulan Ramadhan. Seberapa jauh kesiapan kita untuk menghadapi serta melaksanakan kewajiban di bulan Ramadhan. Pada bulan Sya’ban, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah karena pada saat itu Allah me-rekapitulasi amal-amal kita.

      Essensi bulan Sya’ban tertuang dalam sebuah riwayat dari sahabat anas bin malik dari Nabi SAW, Beliau bersabda “Alloh memberi kabar gembira bahwa barangsiapa hamba sholat pada bulan sya’ban maka Alloh akan memerintahkan salah satu malaikat ciptaannya yang dua sayapnya membentang dari ujung timur sampai ujung barat, kepalanya berada di bawah arsy dan ujung kakinya tembus bumi lapis ke tujuh untuk menyelam ke dalam laut yang dalam dan keluar membawa tetesan-tetesan air laut dari bulu sayapnya. Lalu Alloh menciptakan dari tiap-tiap tetesan air laut itu malaikat-malaikat yang terus memohonkan ampun bagi seorang hamba yang sholat di bulan sya’ban tadi hingga kiamat.”( Dari kitab dzurrotun nashihin yang dinukil dari kitab zubdatul wa’idziin).

      Yang kedua, esensi dari nisfu sya’ban sendiri, diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra.bahwasanya Nabi bersabda ” pada waktu itu jibril datang padaku pada malam nisfu sya’ban dan dia berkata, wahai Muhammad inilah malam yang dibuka didalamnya pintu-pintu langit dan pintu-pintu rohmat. Maka berdirilah untuk sholat dan angkat kepala dan kedua tanganmu ke langit. Aku bertanya, “jibril, sebenarnya malam apa ini ?” Dia berkata lagi ” inilah malam yang dibuka di dalamnya 300 pintu rohmat. Lalu Alloh SWT mengampuni seluruh orang yang tidak menyekutukannya dengan apapun. Kecuali para penyihir, dukun, orang yang melanggengkan mabuk dan zina, pemakan riba, pendurhaka orang tua dan pemutus silaturrahmi. Mereka-mereka itu yang tak diampuni sampai mereka tobat dan meninggalkannya.” Kemudian Nabi keluar dan sholat serta menangis dalam sujudnya. .”( Dari kitab dzurrotun nashihin yang dinukil dari kitab zubdatul wa’idziin).

      Nisfu Sya’ban menjadi sebuah peringatan tersendiri bagi kaum muslim untuk memperkaya ibadah mereka. Diantara amalan-amalan yang utama pada malam nisfu Sya’ban adalah berdo’a. dalam sebuah hadits yang artinya : “(rahmat) Allah SWT turun ke bumi pada malam nisfu Sya’ban. Dia akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan kebencian (kemunafikan),”(HR. Al-Baihaqi).

      Amalan kedua adalah membaca dua kalimat syahadat sebanyak-banyaknya. Kalimat ini menjadi tonggak utama umat islam sebagai tonggak keimanannya. Oleh karena kita akan menghadapai bulan suci Ramadhan, iman harus kita perkuat dengan membaca 2 kalimat syahadat di bulan Sya’ban.

      Terakhir, membaca istighfar sebanyak-banyaknya. Sebagai makhluk yang tak pernah luput dari dosa, seyogyanya merasa tak berdaya dan mengakui segala dosa yang telah diperbuat adalah wajib. Maka dari itu, di bulan Sya’ban inilah kita mendapat kesempatan besar untuk merenungi kembali kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat serta memohon ampunan kepadaNya yang maha Pengampun lagi Pengabul do’a.

Lazimnya, sebelum bulan ramadhan hal yang kita lakukan adalah berbelanja kebutuhan lebaran, padahal mempersiapkan bekal akhirat lebih penting daripada kebutuhan finansial yang belum tentu hal tersebut memuaskan hasrat kita. pemandangan umum tersebut sudah tidak terasa asing lagi di kehidupan kita. namun, marilah kita renungi kembali kalau umur yang Allah berikan kepada kita bukan semata-mata pemberian kesempatan untuk kita dalam hal pemenuhan kebutuhan material namun yang terpenting adalah kebutuhan spiritual yang harus mulai kita celengi sejak sekarang.

15 Sya’ban 1441 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.