Marsinah: Sebuah refleksi perjuangan !

Beberapa hari yang lalu (10 april 2020) nampak di banyak status whatsapp serta media sosial lain mulai betebaran foto ucapan selamat ulangtahun kepada seorang perempuan yang dari tampilannya nampak masih muda, siapakah dia?

Namanya adalah Marsinah,wanita kelahiran nganjuk 10 april 1969 ini kini dikenal sebagai simbol perjuangan kaum buruh dalam memperjuangkan hak-haknya serta perlawanan terhadap beragam ketidakadilan. Seorang yang peduli dengan nasib kawan-kawannya sesama buruh serta dengan lantang berani menyuarakan harus mengahiri kisah hiupnya dengan kata ‘’dibunuh”. Kemudian yang menjadi pertanyaan kenapa ia harus dibunuh?

Marsinah dibunuh saat usianya masih sangatlah muda yakni 24 tahun. Hal itu bermula dari keterlibatanya dalam pemogokan buruh PT Catur Putera Surya (CPS), pabrik jam tangan di Siring, Porong, Jawa Timur pada 3 Mei 1993. Pemogokan tersebut didasari oleh gaji yang tidak sesuai dengan UMR regional waktu itu serta berbagai masalah lain yang menyertainya. Tercatat terdapat 12 tuntutan yang Marsinah dan kawan-kawan ajukan, mulai tuntutan kenaikan gaji sesuai UMR hingga pembubaran SPSI ditingkat pabrik yang mereka nilai bukan representasi buruh. Menurut mereka dalam banyak hal SPSI sering kali kedapatan mengambil kebijakan yang kontradiktif dengan kepentingan kolektif buruh itu sendiri dan cenderung menguntungkan pengusaha.

Tepat hari itu juga berbekal daftar buruh yang terlibat mogok kerja beberapa aparat militer langsung menuju rumah Yudo prakoso, yang ditenggarai menjadi tempat bekumpulnya para provokator aksi. Dalam rumah Yuda aparat mendapati sekitar 18 buruh yang berkumpul disana dan membawa mereka ke markas koramil setempat. “kalian menghalangi orang lain untuk bekerja, itu sabotase!, itu cara-cara PKI” ujar salah satu petugas koramil. Setelah para buruh dipersilahkan pulang Yudo Prakoso mendapat surat panggilan untuk menghadap kapten Sugeng , Pasi Intel Makodim 0816 Sidoarjo, 4 maret 1993.

Keesokan harinya mogok kerja kembali berlanjut dengan kosentrasi massa yang bertambah besar. Meskipun suasana memanas dan penuh dengan teriakan aparat dengan menyebut para buruh dengan sebutan “PKI” aksi hari itu berahir dengan perundingan antara perwakilan buruh termasuk Marsinah dengan perusahaan yang dimediator i oleh aparat hadir pula dinas tenaga kerja dan juga petugas kecamatan siring. Dalam perundingan tersebut semua tuntutan buruh dikabulkan kecuali pembubaran SPSI yang dalam hal ini perusahaan menilai bukan kewenanganya.

Sore harinya harinya 12 buruh mendapat pemanggilan yang sama dengan Yudo yang datang pada pagi hari, mereka diminta menemui kapten Sugeng di markas Kodim 0816 Sidoarjo.

Bertempat di ruang data Kodim Sidoarjo ke tiga belas buruh termasuk Yudo diintrogasi dan dipaksa untuk mendatangani surat pengunduran diri dengan alasan mereka sudah tidak diperlukan oleh perusahaan. Dalam surat pengunduran itu tercatat bahwa ketiga belas buruh itulah yang menghasut para buruh lain untuk melakukan aksi mogok kerja. Dalam kondisi tertekan dengan berbagai intimidasi surat pengunduran diri itupun di tanda tangani oleh 13 buruh yang di panggil di markas Kodim Sidoarjo tersebut.

Mengetahui rekan-rekanya di PHK sepihak, Marsinah pun menulis surat yang berisi penyataan bahwa ia akan menuntut Kodim Sidoarjo dengan bantuan saudaranya yang berada di Kejaksaan Surabaya. Marsinah juga sempat klarifikasi hal tersebut ke Kodim Sidoarjo bersama beberapa rekan yang tidak termasuk dalam daftar panggil. Sepulangnya dari sana sekitar pukul sembilan tigapuluh marsinah berpisah dengan kawan-kawanya dijalan dan pada saat itu pula Marsinah terahir kali terlihat dalam kondisi hidup.

Tepat beberapa hari setelahnya yakni 8 maret 1993 Marsinah ditemukan di sebuah gubuk tepi awah di desa Jagong, Nganjuk. Dalam hasil visum Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk menyebutkan bahwa telah terjadi kekerasan pada jenazah Marsinah. Setelah dimakamkan jenazah Marsinah diotopsi kembali oleh dokter dari RSUD Dr Soetomo Surabaya. Menurut hasil visum tersebut menyebutkan bahwa, hampir seluruh tulang kemaluan Marsinah hancur, tulang usus kanan terpisah tulang selangkangan patah hingga pendarahan dalam rongga perut.

Kambing hitam, penyiksaan hingga rekayasa kasus

Berdasarkan hasil investigasi YLBHI yang bertajuk “Marsinah campur tanagan militer dan politik perburuhan” menyebutkan terdapat beberapa orang perusahaan PT CPS termasuk Yudi Santoso yang menjabat sebagai direktur, tanpa surat penangkapan gelandang ke markas Detasemen Intel Kodam V Brawijaya. Dengan penuh intimidasi dan penyiksaan mereka di paksa untuk mengakui sebagai pelaku pembunuh marsinah. Disetrum dibagian penis, di kencingi, dipaksa beradu otot dengan tahanan lain hingga ditelanjangi dan di hajar merupakan makanan sehari-hari orang-orang tersebut.

Pada 21 Oktober 1993, aparat Kodam V Brawijaya menyerahkan mereka ke Polda Jatim. Meskipun dengan intensitas yang terbilang lebih rendah disana para tahanan masih kerap kali mendapat intimidasi dan penyiksaan.

Tak berhenti disitu, dalam berapa kali persidangan banyak ditemukan kejanggalan-kejanggalan semisal seluruh terdakwa tidak mengakui hasil BAP yang di ajukan oleh jaksa penuntut umum, kejanggalan barang bukti, putusan banding yang menyalahi logika hukum dan lain sebagainya. Namun hal tersebut tak membuat para terdakwa bebas, mereka dinyatakan bersalah dan divonis penjara oleh pengadilan tinggi surabaya kecuali Yudi Susanto yang telah memenangkan gugatan praperadilan sebelumnya.

Dalam laporanya Amnesty Internasional menuliskan “Persidangan dimaksudkan untuk mengaburkan militer tanggung jawab atas pembunuhan itu,” (Indonesia: Kekuasaan dan Impunitas: Hak Asasi Manusia di bawah Orde Baru).

Pada 3 Mei 1995, Mahkamah Agung (MA) bebas seluruh terdakwa karena dinyatakan tidak terbukti terlibat dalam pembunuhan aktivis buruh tersebut. Hal itu tercantum dalam penelitian Iyut Qurniasari dan I.G. Krisnadi yang termuat di Jurnal Publika Budaya Universitas Jember berjudul “Konspirasi Politik dalam Kematian Marsinah di Porong Sidoarjo Tahun 1993-1995”.

Seluruh terdakwa sudah bebas, lalu pertanyaanya siapakah pembunuh marsinah? Hingga kini para pelaku masih menghirup udara bebas. Dengan sederet fenomena impunitas hukum dimulai dengan masih bebasnya pembunuh Marsinah, Wiji tukul, kasus talangsari hingga kematian penulis epilog laporan YLBHI tentang kematian marsinah, yakni Munir juga masih menyisakan banyak pertanyaan.

Hingga kini para pelaku masih bebas berkeliaran dan sangat berpotensi membungkam siapa saja yang dianggap lantang bersuara. Melihat dalam banyak hal negara selalu menjadi alat pembungkam dan tak jarang pula menghianati amanat undang-undang dasar dengan menjadi pelindung kepentingan pasar. 

Sejatinya Marsinah, Munir dan para martir lainya merupakan refleksi bagi rakyat hari ini bahwa negara tidak bisa menciptakan ruang aman bagi warganya, hal tersebut mengharuskan terlahirnya Marsina-Marsinah baru Munir-Munir baru yang akan menjadi pemantik utama gerakan rakyat dalam perjuangan mempertahankan hak-haknya.

Ditengah ancaman PHK masal, hak-hak buruh yang belum terpenuhi, konflik agraria berkepanjangan, serta dilanjutkanya pembahasan undang-undang yang jelas merugikan rakyat seperti omnimbuslaw ditengah pandemi coronavirus seperti hari ini maka kepada lagi harapan itu ditujukan?

Ditengah liberalisasi dan komersialisasi pendidikan, ditengah kian pragmatisnya para pejabat pendidik. Nampaknya kampus masih menjadi salah satu harapan akan terlahirnya sosok-sosok ini. Berbekal pengetahuan yang dimiliki, sikap kritis, serta idealisme seorang pemuda maka sudah menjadi tanggung jawab moral, mahasiswa dituntut untuk kembali bersama masyarakat. Bukan sebagai pemimpin yang menganggap terlalu tinggi untuk melebur namun sebagai pengorganisir dan pejuang hak-hak rakyat seperti pendahulu-pendahulu seperti Marsinah yang namanya coba dihapus dalam ingatan sejarah.

“Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini?”

(Victor Serge, Bolshevik)

Oleh: ahmad khoirul mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah IAI Al-Qolam Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.