Nisfu Sya’ban di Tengah Pandemi Covid-19

Sinta Fatimah
Sekretaris Umum LPM Platinum

Buka lembaran baru, itu yang dikatakan orang islam dalam menyambut malam nifsu sa’ban. Ya seperti biasa saya hanya manusia biasa yang tak pernah putus dari kata mengeluh.

Berbicara perihal mengeluh, hal ini berkaitan dengan wabah yang tengah marak akhir-akhir ini. Wabah corona yang disebabkan sejenis virus berinisial covid 19. Bukan main. Wabah ini memacetkan segala aktivitas yang ada. Tak terkecuali para tukang ojek, pemulung atau para pekerja harian lainnya.

Beda nasib lagi dengan seorang mahasiswa. Mahasiswa melaksanakan kegiatan kuliah nya dengan sistem daring. Semua sistem online. Tugas online. Presentasi online. Apakah tidak ada tantangan? Jelas ada.

Saya sebagai mahasiswa yang katanya “agent of change” tentunya mengkritik kebijakan pemerintah atas kebijakan pemacetan semua aktifitas termasuk prosesi perkuliahan. Namanya mahasiswa pasti ada yang namanya protes ini itu.

Lambat laun mahasiswa mulai terbiasa dengan sistem daring ini. Tapi ada salah satu dari kita yang kesulitan menjalankan sistem ini yaitu sebab biaya internet meningkat, susah sinyal dan lain sebagainya. Setiap mahasiswa punya permasalahan sendiri-sendiri. Tapi kedua permasalahan tersebut-lah yang mendominasi.

Untuk mensiasati permasalahan biaya internet yang meningkat, ada beberapa kampus yang memberikan kuota internet untuk para mahasiswa nya. Namun juga ada kampus yang hanya tutup telinga dan mata perihal subsidi kuota ini.

Kalau permasalahan susah sinyal, ya itu kembali pada diri mahasiswa bagaimana ia berjuang guna mendapatkan signal bagus. Barusan saya baca di twitter, ada mahasiswa yang rela naik bukit guna mendapatkan sinyal bagus agar tetap bisa kuliah daring.

Nah berbicara permasalahan, tentu orang tua kita pasti lebih banyak masalahnya. Ekonomi. Ya ketika semua aktifitas di macetkan banyak perputaran ekonomi yang mangkrak. Contoh kecil ketika sekolah libur, bagaimana nasib ibu-ibu kantin yang makanannya selalu menampar perut kita saat kosong? Tentu mereka tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Bagaimana nasib perekonomian keluarga mereka? Jelas macet.

Sebagian sudah ada yang berpikiran mandiri. Mereka menanam singkong di pemasangannya guna menambah bahan kebutuhan pokok. Sangat cemerlang bukan?

Banyak yang mengeluh kesana kemari, termasuk saya pribadi. Tapi kalau kita berpikir lagi, berkaca kepada masyarakat yang mandiri, sebenernya kita bisa mandiri, kita bisa tidak bergantung kepada siapapun. Ya kembali lagi kepada diri pribadi masing masing.

Pada hakikatnya, hidup adalah memandang hal luas di luar keadaan kita. Seberapa jauh pandangan kita terhadap dunia luar serta bagian mana yang kita pandang sebagai best view. Dunia luar akan menjadi pedoman kita dalam mengiringi arus hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.