Al-Ghazālī Antara Para Pemuja dan Pengkritik

al_ghazali_yusuf_al_qaradawi

Oleh : Muhammad Hilal
Dosen IAI Al-Qolam Malang
Judul: Al-Imām al-Ghazālī bain Mādihīhi wa Nāqidīhi
Penulis: Yūsuf al-Qaradlāwī
Penerbit
: Mu’assasah al-Risālah
Tahun: 1994
Tebal
: 189 halaman


Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap Al-Ghazālī, seorang ulama besar yang pengaruhnya tetap terasa kuat di zaman sekarang? Jawaban Yūsuf al-Qaradlāwī dalam buku ini cukup normatif: sikap tengah-tengah dan moderat.

Sikap itu berarti mengakui keagungan Al-Ghazālī sebagai seorang ulama besar di masanya dan berpengaruh luas hingga masa kini. Pada saat yang sama, perlu diakui pula bahwa dia adalah manusia biasa yang tidak maksum dan berpotensi melakukan kesalahan.

Dengan demikian, Yūsuf al-Qaradlāwī menyusun buku yang memuat upaya bersikap moderat itu. Dia menyajikan puja-puji atas Al-Ghazālī sekaligus menunjukkan kritik atasnya. Puja-puji dan kritik itu tidak secara langsung datang dari Yūsuf al-Qaradlāwī, melainkan dia sarikan dari berbagai pandangan ulama dan komentator atasnya.

Para ulama setelah Al-Ghazālī melakukan puja-puji atasnya kadang secara berlebihan. Seakan-akan dia tidak memiliki cela sama sekali. Sebaliknya, para pengkritiknya juga kadang terjatuh pada kekeliruan yang sama, yakni mengkritiknya habis-habisan seolah-olah kebaikan yang sudah dilakukannya terhapus sama sekali.

Untuk itu, menyajikan sikap puja-puji dan sikap kritis para ulama itu dalam sebuah buku bisa menjadi perbandingan yang penting, agar sikap moderat dan proporsional bisa diambil. Di sinilah buku Al-Imām al-Ghazālī bain Mādihīhi wa Nāqidīhi ini penting untuk dibaca.

Di bagian apa Al-Ghazālī dipuja-puji? Yūsuf al-Qaradlāwī menyajikan puja-puji ini di bagian pertama bukunya. Dia memaparkan ucapan-ucapan para ulama tentang Al-Ghazālī sebagaimana dikutip oleh Tāj al-Dīn al-Subkī dalam kitab Thabaqāt al-Syāfi‘iyah. Tidak hanya menyajikan puja-pujian para ulama terdahulu, Al-Subkī juga membela Al-Ghazālī dari beberapa kritik yang dilancarkan kepadanya. Dia tercatat telah menjawab kritik Al-Tharthūsyī, Al-Māzirī, dan Ibn Shalāh.

Selain itu, Yūsuf al-Qaradlāwī juga berusaha menelusuri dua gelar utama Al-Ghazālī, yakni “Hujjah  al-Islām” dan “Pembaharu Abad Ke-5.” Dia bertanya, apa dasar dari penyematan gelar itu. Untuk menjawab pertanyaan itu, dia menelusuri kiprah hidup dan perjalanan intelektual Al-Ghazālī, berikut pandangan-pandangannya yang berserak di dalam karya-karyanya yang berjumlah ratusan itu.

Hasilnya, gelar itu memang tidak berlebihan, mengingat kiprah hidup dan perjalanan intelektualnya adalah saksi dari kebesaran dan keagungannya. Sosok ini tidak kalah istimewa di bidang pengaruh karya dan pemikirannya. Kitab Ihyā’-nya tetap dibaca dan dipelajari oleh umat Muslim seluruh Dunia. Bahkan para penulis Barat pun sangat mengaguminya. Itu semua adalah bukti bahwa Al-Ghazālī memang layak mendapat tempat terhormat dalam dunia Islam.

Sebagaimana disebutkan di muka, Al-Ghazālī bukanlah manusia maksum yang selamanya akan lolos dari cela dan noda. Keinsyafan akan hal ini membawa buku ini pada beberapa kritik atasnya yang dilancarkan oleh beberapa ulama terdahulu dan orang-orang zaman kini.

Lalu, di bagian apakah Al-Ghazālī dikritik? Yūsuf al-Qaradlāwī membeberkan kritik para ulama pada Al-Ghazālī. Kiranya penting disebut di sini beberapa segi kritik itu, berikut upaya al-Qaradlāwī mendudukkan beberapa kritik itu dalam porsinya yang tepat.

Pertama, Al-Ghazālī dikritik karena terlalu berpihak kepada tasawuf. Bahkan dia mengaku menemukan ketenangan hidup dalam ilmu tasawuf sebagaimana tercantum dalam otobiografi intelektualnya, Al-Munqidz min al-Dlalāl. Hal ini menjadi keberatan beberapa ulama karena tasawuf terkadang menjadi dalih sebagian orang untuk terlalu longgar dalam beragama.

Keberatan ini ditampik oleh Al-Subkī, yang didukung oleh Yūsuf al-Qaradlāwī, dengan kenyataan bahwa tasawuf yang dibela Al-Ghazālī adalah tasawuf yang lurus, yang menyeimbangkan antara batin dan zahir, antara rasa (dzauq) dan akal, antara amal dan ilmu, antara hikmah dan Al-Qur’an-sunnah. Kenyataan itu dibuktikan oleh kritik Al-Ghazālī terhadap beberapa keyakinan dan praktik sufi yang dianggapnya melenceng dari haluan agama.

Kedua, Al-Ghazālī dikritik karena membela ilmu mantik, sebagaimana tercantum dalam kitab usul fikihnya, Al-Mustashfā. Di situ dia bahkan mengatakan bahwa mereka yang tidak terampil dalam ilmu ini tidak bisa dipercaya keilmuannya. Ibn Taimiyah keberatan dengan hal ini. Baginya, ilmu mantik tidak sehebat yang digembar-gemborkan, bahkan sebenarnya tidak diperlukan oleh umat Muslim. Ibn Taimiyah menganggap, peran ilmu mantik sebenarnya bisa digantikan oleh common sense (akal sehat) semata.

Kritik Ibn Taimiyah ini sebenarnya hanya berangkat dari perbedaan pandangan antara dirinya dengan Al-Ghazālī. Pada hakikatnya, keduanya tidak menentang pentingnya peran akal dalam beragama, namun apakah pemeranan akal itu memerlukan ilmu mantik atau tidak, di situlah keduanya berbeda pendirian. Lagi pula, meskipun Ibn Taimiyah mengkritik Al-Ghazālī, dia tetap memuji peran dan sumbangsih Al-Ghazālī dalam khazanah keilmuan Islam.

Ketiga, Al-Ghazālī dikritik karena kerap mengutip hadis-hadis daif, bahkan hadis palsu dan hadis yang tidak diketahui asal-usulnya. Kritik ini tampaknya memang paling telak. Zain al-Dīn al-‘Irāqī menulis kitab takhrīj atas hadis-hadis dalam Ihyā’, berjudul Al-Mughnī ‘an Haml al-Asfār fī Takhrīj mā fī al-Ihyā’ min al-Ahadīts wa al-Akhbār, dan diketahui banyak hadis daif dan hadis tak jelas asal-usulnya di sana.

Yūsuf al-Qaradlāwī tampaknya tidak melakukan pembelaan pada Al-Ghazālī atas kritik ini. Dia seperti mengiyakan dan menyetujuinya. Namun pada dasarnya Yūsuf al-Qaradlāwī tidak keberatan dengan isi dan semangat yang terkandung dalam kitab Ihyā’. Oleh karena itu, dia berucap bahwa ada keinginan di hatinya untuk meringkas kitab Ihyā’ dengan tanpa menghilangkan semangat dan kandungannya, tapi sekadar membuang aspek hadis-hadis daif dan palsu dalam kitab itu.

Beberapa kritik lain atas Al-Ghazālī dilancarkan oleh orang-orang modern. Kritik-kritik itu berkisar dalam banyak sekali hal. Yūsuf al-Qaradlāwī memuat bagian khusus tentang kritik mengenai perhatian Al-Ghazālī tentang kemaslahatan umat, tentang plagiarisme, tentang kontradiksi dalam pemikiran Al-Ghazālī, tentang absennya Al-Ghazālī  dalam perang Salib, dan tentang tanggung jawabnya terhadap kemunduran ilmiah dalam Islam. Namun Yūsuf al-Qaradlāwī memberi jawaban atas kritik-kritik tersebut, meskipun sebagian dia setujui namun dia mendudukkannya dalam konteksnya secara proporsional.[]

Muhammad Hilal

Dosen IAI Al-Qolam. Penggemar filsafat. Penikmat kopi, buku, dan kesunyian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.