Peran Sosial Berskala Besar bagi Perempuan di Tengah Pandemi

oleh : Izzatul Ilmi

Masalah yang beranak pinak menjadi hal yang sudah lazim menjadi teman kita di masa pandemi seperti yang sedang kita alami sekarang ini. Entah itu masalah internal maupun eksternal. Yang jelas, kita harus memiliki kemampuan untuk berteman dengan masalah tersebut dan menemukan tindakan yang solutif terhadap setiap masalah.

Berbicara mengenai masalah yang muncul di masa pandemi seperti sekarang ini tentu tak lepas dari masalah yang dihadapi perempuan. Mengapa harus perempuan? Tidak, bukan karena saya bosan membicarakan ‘kebijakan pemerintah’ namun, mari kita tengok ke hal yang lebih rentan, yakni perempuan.

Ekspetasi mengenai perempuan yang jarang berjuang demi hidup dapat kita tangkis dengan realitas sebuah ungkapan “perempuan layak berjuang dan diperjuangkan.” Tidak sedikit perempuan yang kini turun langsung untuk mengais nafkah di ketiak-ketiak kaum urban maupun berdiam diri merasakan betapa semakin banyak tempaan yang harus diterima perempuan. Hal-hal yang umum dialami perempuan dalam masa pandemi yakni; stigmatisasi, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, ataupun marginalisasi (peminggiran) dan bentuk diskriminasi lainnya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Tentu saja kita kita tidak boleh terfokus pada perempuan sebagai ibu rumah tangga. Mari kita lirik peran perempuan sebagai tulang punggung keluarga yang kini tengah kesulitan menghadapi masalah perekonomian yang semakin hari kian memprihatinkan. Semua ini berdampak pada keadaan sosial, psikis, dan esensi dari diri perempuan. Bagi perempuan yang kehilangan pekerjaan dimasa pandemi Covid-19 mencoba survive dengan keadaan bukanlah suatu solusi sedang ia memang terlahir sebagai perempuan pekerja.

Mengingat akan kemampuan dan kebutuhan perempuan sangatlah beragam, jika beda tingkat sosial, berbeda pula masalah dan kebutuhannya. Tentu dari pengantar ini dapat kita kaitakan dengan kehidupan kaya akan membuat perempuan berdaya, namun kemiskinan akan membuat perempuan semakin terpinggirkan.

Sebelum masa pandemic Covid-19, perempuan pekerja juga telah mendapat perlakuan yang menurut hemat saya keadilan belum dilimpahkan. Salah satu perusahaan di Indonesia mempekerjakan para ibu hamil hingga larut yang kemudian memunculkan banyaknya keguguran pada perempuan pekerja yang tengah hamil. Beralih ke masa pandemi Covid-19 mereka yang kehilangan pekerjaan, serta suami yang belum tentu juga mendapat nasib baik dalam pekerjaan akan semakin menangis merasakan realita kehidupan.

Membawa masalah tersebut ke dalam kehidupan rumah tangga akan semakin menimbulkan konflik. Jika kita amati, urusan rumah tangga masih banyak diatasi perempuan. Perempuan dalam masa pandemi akan semakin lama bekerja di rumah dan jika suami tidak mencapai apa yang ia inginkan pada hari itu, maka yang menjadi sasaran pelampiasan emosinya adalah istri atau anak. Alasannya karena relasi kuasa suami lebih dominan daripada istri. Menghadapi hal semacam ini, psikologi perempuan akan cenderung melemah.

Berdasarkan siaran pers hasil kajian komnas perempuan tentang perubahan dinamika rumah tangga dalam masa pandemi Covid-19 menyatakan dari hasil survei daring mengidentifikasi bahwa kerentanan pada beban kerja berlipat ganda dan kekerasan terhadap perempuan terutama dihadapi oleh perempuan yang berlatar belakang kelompok berpenghasilan kurang dari 5 juta rupiah per bulan, pekerja sektor informal, berusia antara 31-40 tahun, berstatus perkawinan menikah, memiliki anak lebih dari 3 rang, dan menetap di 10 provinsi dengan paparan tertinggi Covid-19 (https://www.komnasperempuan.go.id/read-news-siaran-pers-hasil-kajian-komnas-perempuan-tentang-perubahan-dinamika-rumah-tangga-dalam-masa-pandemi-covid-19-3-juni-2020).

Lain cerita dengan ibu yang sedang menyusui. Para ibu menyusui yang tidak mampu memenuhi nutrisi untuk bayinya terpaksa membuat sebuah poster yang berisi permohonan bantuan untuk menyusui anaknya.

Bagaimana dengan perempuan yang belum menikah? Beberapa perempuan lajang masih mengandalkan pekerjaan serabutan. Beberapa perusahaan menilai kinerja perempuan lebih lambat dari laki-laki. Alasan inilah yang kemudian membuat perusahaan merumahkan perempuan. Dari konteks ini, bisa kita lihat bagaimana kebijakan perusahaan-pun layak dipertanyakan. Apakah sudah mempraktikkan kesetaraan pada pekerjanya? Atau apakah perusahaan sudah menempatkan jenis pekerjaan yang pantas untuk perempuan?

Hal tersebut dikenal dengan istilah Feminization of Labor , yakni cara dimana perempuan dijadikan pekerja dan hanya berada di posisi kedua dimana posisi perempuan sebagai ibu/ istri/ identitas lainnya tidak berhubungan dengan produktivitas ekonomi.

Menghadapi hal semacam ini memerlukan kemandirian dan pola pikir kesetaraan yang perlu untuk diperhatikan. Perempuan juga ingin mendapatkan keadilan dalam semua aspek hidupnya. Laki-laki dan perempuan mungkin berbeda secara fisik namun dalam urusan kehidupan mengapa perempuan masih merasakan ketidakadilan?

Untuk itu, pentingnya sikap mandiri dan siap atas segala resiko merupakan sebuah keharusan bagi perempuan. Sedikit menyinggung, permasalahan seperti yang dialami beberapa perempuan di tengah pandemi seperti ini berakar dari bagaimana pihak-pihak yang seharusnya dapat mengabulkan dan mengerti kebutuhan perempuan seharusnya tidak mengabaikan hal tersebut. Dan tidak membalikkan sebuah fakta bahwa perempuan memiliki banyak kebutuhan mengingat banyak perbedaan kondisi antara perempuan dan laki-laki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.