Hanya Ingin Merdeka

Sumber Gambar : Editor LPM Platinum

Penulis : Izzatul Ilmi

Senja menjelma menjadi semakin gelap hitam. Aku ayunkan kaki-ku di atas trotoar yang berlubang dengan sisa-sisa tenaga selepas kerja. Tak sengaja, aku menginjak sebuah brosur yang tadi siang aku bagikan cuma-cuma kepada siapa saja yang lewat di sepanjang jalan dekat toko kue tempatku bekerja.

Ketika aku sedang khusyuk meratapi diri malangku, klakson keras ditekan oleh seseorang yang tak bertanggung jawab di dalam mobil Jazz kuning. Mobil itu berhenti disamping trotoar seraya membuka jendela mobilnya.
“oh, ternyata bukan.” dia berkata sambil menyipitkan kedua matanya. Syahdan, dia berlalu.

“aku pulang…” kedua adik kecilku, Roma dan Gery berhambur menuju tas kecil yang kutenteng. “hari ini kakak hanya membawa sisa nasi di toko yang lupa tidak dibuang teman kakak. ” aku menjelaskan dahulu sebelum mereka ber-ekspektasi hingga Bulan. Raut wajah kecewa terlihat di wajah mungil mereka namun mereka tetap makan nasi tersebut dengan lahap dengan lauk pauk bikinan ibu tadi pagi.

Bruk! Kutaruh tumpukan sisa brosur yang kusebar hari ini di atas meja disusul tubuhku yang kurebahkan di atas kasur. Lelah seharian ini semoga ada kebahagiaan yang menjemput esok hari. Sambil menatap langit kamarku yang tampak lesu karena cahaya lampu dop aku kembali memikirkan nasib orang-orang yang mungkin saja sama denganku.

Malam di supermarket
“Esti, tolong dong ke supermarket beliin pulsa listrik. Sebentar lagi habis.” Suara bos ku membangunkan lamunanku. Sontak aku menyahuti sambil mengelap tanganku yang basah pada celemekku. “Baik pak.”

Sesampainya di meja kasir aku mengatakan apa yang hendak aku beli. “totalnya 150 ribu mbak. Karena hari ini ada promo jadi didiskon 50%. ” aku menyahut hanya sebatas ucapan terimakasih karena aku sedikit tidak peduli dengan yang kasir tadi ucapkan. Aku lebih peduli lagi pada seorang laki-laki yang berumur di bawahku lima tahunan. Dia sedang mencari-cari popok bayi di rak barang dan sepertinya dia bingung. Masih kuperhatikan ia sampai seorang perempuan menghampirinya sambil menggendong bayi. Oh.. ternyata pasangan muda.

Di luar supermarket, kulihat tidak ada mobil atau kendaraan yang terparkir. Itu berarti pasangan muda tadi berjalan kaki atau menaiki angkutan umum. “Mbak tau tidak dimana tempat penitipan anak?” dua orang yang kuperhatikan tadi menghampiriku saat aku masih melamun dan istrinya menyodori pertanyaan kepadaku “oh, maaf saya tidak tahu. ” aku menjawab.

“Pak, tadi ada promo di supermarket jadi hanya bayar setengah. Ini kembaliannya sekaligus nota.” sesampainya di toko aku memberikan kembalian dan nota pada bos ku yang tampak menghitung penghasilan hari ini di meja kasir. “kamu ambil kembaliannya buat adik-adikmu. Juga, ini ada sedikit sembako buat ibumu di rumah. Kamu boleh pulang Esti, sudah malam dan karyawan lain sudah pulang dari tadi.” Aku terkejut dan berusaha menolak pemberian Pak Ronal. “Tidak Pak, saya sudah ada kok. Saya juga selalu merepotkan bapak.” Bos ku masih keukuh “Ambil saja kalau tidak besok kamu tidak saya perbolehkan berkreasi dengan resepmu.” Terpaksa, aku menerimanya dengan perasaan bersyukur.

Memang tidak mudah menemukan seseorang seperti Ronal. Dia memang tajir tapi dermawan dan tak membeda-bedakan status sosial. Setelah aku keluar dari toko, aku bertemu dengan keramaian orang-orang yang tampak menuntun paksa seorang laki-laki dan perempuan. Saat lewat tepat di depanku, aku baru sadar jika laki-laki dan perempuan itu adalah pasangan muda yang aku temui tadi di supermarket. “ada apa pak? Kok mereka seperti dipaksa pergi?” aku bertanya pada salah seorang yang juga melihat peristiwa itu. “mereka nikah muda dan perempuannya hamil pra-nikah. Kemudian sehari-hari mereka memanfaatkan bayinya sebagai objek belas kasihan. Bayi kecil itu disiksa sebelum mengemis agar menangis saat mereka beraksi. Tapi karena akhir-akhir ini banyak yang mengetahui motif kelicikan mereka suami-nya ingin membuang bayi tersebut ke panti. Agar kelicikan mereka tidak terbukti dan mereka bisa menenggelamkan faktanya.

Kasus seperti itu tidak terjadi satu dua kali. Dan terjadi pada banyak kaum miskin terutama di kota-kota besar. Mereka memiliki alasan melakukan hal tersebut. Yang punya jabatan menghiraukan bahkan tidak mencari jalan keluar. Siapakah sebenarnya yang menciptakan kemerdekaan bagi mereka?

Kakek di angkutan umum.
Para pekerja sudah merayap di jalanan menuju rumah masing-masing tak terkecuali aku. Berjalan di trotoar berlubang bersama dengan sesame pekerja lain membuatku merasakan bahwa aku tidak sendirian di dunia ini untuk merasakan hal yang sama. Asap motor yang memenuhi udara, bunyi klakson dari pengendara tak sabar di jalanan, serta suara telpon kekasih di hp orang-orang yang sedang menunggu di halte bus. Hangat terasa karena aku memeluk tubuh malangku sendirian.

Angkutan umum berhenti ketika aku melambai tangan lantas aku memasukinya. Kulihat hanya ada satu penumpang kakek-kakek di dalamnya. Kursi yang panjang berhadapan tampak lengang. Kulempar senyum manis di hadapannya disusul balasan anggukan. Kopyah lusuh berwarna oranye, seragam veteran yang juga lapuk dimakan usia serta sepatu kulit hitam yang sudah pudar mengindikasikan bahwa dia seorang veteran.

“pulang kerja nak?” kakek tersebut bertanya padaku seolah paham bahwa aku memperhatikannya dari awal. Menyadari hal itu, aku yang semula bersandar pada jendela langsung mengubah posisi duduk menjadi tegak. “iya kek. Kakek darimana atau mau kemana malam-malam?” aku mencoba agar tidak terlihat kikuk.

“ya beginilah kehidupan veteran. Setelah memperjuangkan kemerdekaan teman kakek kehilangan segalanya dan tadi pagi ia kehilangan nyawanya. Padahal teman kakek adalah gerilyawan brilian yang selalu sukses menebus pertahanan lawan. Kakek bisa kasih kamu cerita banyak tentang masa revolusi. Main ke rumah kakek. Sepertinya kamu butuh inspirasi.”

Kakek itu menghentikan supir angkot di Jl. Veteran. Kakek tersebut menunjuk rumah di pojokan sambil berkata “itu rumah saya nak. Hati-hati di jalan.” Aku membalas dengan anggukan dan seulas senyum. Kuperhatikan rumahnya dengan singkat. Rumah bercat coklat kusam, langit teras dari kayu yang tampak mengelupas, serta rumput hijau liar yang tumbuh di halaman.

Sudah hampir 75 tahun Indonesia genap merdeka, namun melihat realita yang terkadang membuat kata ‘merdeka’ itu sendiri tampak bias dengan kesulitan yang dihadapi setiap orang di negeri ini, membuatku bingung bagaimana kemerdekaan bisa rata kita rasakan. Seperti para pejuang (veteran) yang boro-boro dapat kehidupan nyaman mereka malah dapat pukulan kenyataan dari negara yang acuh pada hidup mereka. Mereka sudah membela negeri ini hidup dan mati namun apa balasan kita pada mereka?

Judul di Akhir Cerita.
Sudah genap dua bulan aku libur kuliah. Itu berarti aku akan hengkang dari tempatku bekerja. Pengalaman dua bulan di toko kue milik Ronal itu selalu tak bisa kulupakan. Berkenalan dengan banyak pelanggan, bertemu dengan macam-macam orang yang membawa karakter berbeda, serta pelajaran hidup luar biasa.

Setahun yang lalu, statusku terpaksa menjadi yatim karena ayah kami meninggal setelah penyakit ganas yang merenggut nyawanya. Beruntung kuliahku ditanggung beasiswa karena prestasiku di sekolah. Sejak kecil aku lahir sebagai anak orang kaya yang semua tersedia. Dan setelah ayahku meninggal, semua harta kami direnggut oleh saudara-saudara ayah. Ujian hidup bukan untuk dikeluhkan melainkan untuk dirasakan seraya meraba masa depan. Menyerah untuk berjuang atau tetap bertahan memperjuangkan masa depan. Hanya itu pilihannya.

Senang rasanya melihat sekitar rumahku dihiasi bendera merah putih bergelantungan. Meski hidup di gang sempit, rumah berhadapan dengan jarak hanya kurang dari dua meter, serta asap pabrik tekstil yang menghiasi langit kampung kami, aku selalu bersyukur diberi karunia untuk mengambil pelajaran ditiap jengkal peristiwa. Esok, hari kemerdekaan dan pak RT sudah mengumumkan agar setiap rumah mengeluarkan 1 perwakilan yang akan dijadikan panitia lomba Agustusan di desa.

Aku ditunjuk sebagai ketua panitia. Malam hari, aku bersama teman-teman di kampung menyusun serangkaian acara yang akan kami adakan. Mulai dari upacara, lomba-lomba, serta doa bersama di balai desa. Aku memberi usulan pada panitia yang lain agar mengundang veteran sebagai tamu dan untuk mengenang kembali jasa mereka yang telah memerdekakan bangsa ini. Tak lupa, aku juga mengundang kakek veteran yang kutemui di angkutan umum lepas minggu.

Sesampainya di depan rumah kakek tersebut, aku mengetuk pintu rumahnya. Tidak ada tanda-tanda orang di dalamnya. Bau rumah kuno keluar dari sela jendela merayapi lubang hidungku. Tak terasa, kakiku terasa gatal oleh semut kecil yang menggigit betis ku. Ternyata aku menginjak gerombolan semut yang merubungi irisan roti bolu.

“mbak, mau cari siapa?” tiba-tiba ada teriakan dari luar pagar sambil setengah berteriak.
Aku sedikit berlari ke arah perempuan yang menyeru kepadaku. “saya mau cari kakek-kakek yang tinggal di rumah ini kak.” Aku menyatakan tujuanku.
“oh, tadi sih saya lihat kakek Dar pergi membawa rangkaian bunga satu ikat menuju arah taman makam pahlawan di ujung gang.”
“kakek Dar? Nama lengkapnya?” aku bertanya
“ya, Dar. Asalnya dari suara bom meledak sewaktu dia perang. Dar! Seperti itu.” Perempuan di depanku ini sedikit mengajakku bercanda. Tapi mungkin memang benar itu namanya.

Undangan kepada veteran sudah kukirimkan pada yang bersangkutan. Dan hari ini, upacara kmerdekaan akan dilaksanakan. Tidak sabar menunggu barisan veteran yang akan berjajar, aku sengaja menunggu Dar di pinggir lapangan. Sudah hampir lima belas menit dan upacara akan segera dilaksanakan, namun di barisan veteran tak kutemukan dia.

Salah satu temanku menyeret tubuhku dan memberi tahuku bahwa upacara akan segera dilaksanakan. Mungkin Dar akan menyusul. Namun nyatanya, setelah upacara selesai, tidak ada penampakan dari Dar. Aku meninggalkan lapangan dan menuju rumah Dar meminjam sepeda kayuh temanku. Kugedor pintu rumahnya, namun yang kutemui surat dengan kertas merah putih di sela jendela. Tertulis:
‘DIRGAHAYU INDONESIA YANG KE 75. Akhirnya, hari ini tiba dan aku bisa merdeka seutuhnya dengan tanpa mengharap lagi belas kasihan dari orang yang tak pernah menganggap kami. Kepada pewaris negeri ini, kutitipkan seluruh nikmat hasil perjuangan kami untuk kau rawat dan kau singgahi dengan baik. Bawalah negeri ini ke ujung nasib yang kita impikan bersama. Yaitu merdeka secara lahir dan batin.’

Berita di Koran muncul sehari setelah hari kemerdekaan RI. Berita utama, orang yang kemaren aku cari muncul sebagai berita utama dengan berita mengejutkan. Dar ditangkap karena dianggap sebagai tokoh PKI yang bersekutu sebaga veteran. Kasus 60 menyeret sebuah fakta palsu yang dijadikan dasar atas penangkapannya. Yakinku, tak mungkin kakek tua itu bergabung dalam partai komunis. Dan hingga kini jika negara masih takut rahasia-nya terungkap, lantas apa tujuan menghabisi rakyat yang tak bersalah? Di akhir cerita selalu ada hal yang ingin kurenungkan kembali. Apakah kemerdekaan hanya melulu soal derajat, jabatan, atau kekayaan? Sungguh jika memang benar itu adalah kemerdekaan yang fana.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.