Tentang SEMA dan DEMA IAI Al Qolam ….!

Penulis : Moh. Sholeh

Keberadaan kampus tidak dapat kita pisahkan dari adanya organisasi, pasalnya kampus selama ini digadang-gadangkan sebagai miniatur dari negara. Tuntutan sebagai mahasiswa tidak hanya difokuskan pada belajar-mengajar, namun mahasiswa dituntut untuk ikut serta berperan aktif dalam meningkatkan kualitas kampus, dengan cara memberi atau menyampaikan aspirasinya melalui stakeholder terkait.

Oleh karena itu ketika kita ada diperguruan tinggi maka kita akan merasakan suasana yang berbeda daripada lembaga pendidikan yang lain.

Diperguruan tinggi kita akan banyak mengenal ORMAWA (Organisasi Mahasiswa) yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu; SEMA, DEMA dan UKM. Setiap organisasi pastinya memeliliki fungsi dan tugasnya masing-masing, mulai dari unit yang paling kecil hingga paling besar.

Dari beberapa organisasi yang berada diperguruan tinggi SEMA dan DEMA ada organisasi yang memiliki peranan sangat penting, karena dua organisasi ini relasinya melibatkan hajat seluruh masyarakat kampus, dimana SEMA sebagai struktur organisasi kemahasiswaan mempunyai tanggung jawab sebagai lembaga legislatif yang mempunyai tugas pokok merumuskan peraturan organisasi mahasiswa, menampung dan menyalurkan aspirasi mahasiswa.

Sedangkan DEMA selaku organisasi eksekutif memiliki kewajiban untuk melakukan ketetapan dari SEMA dalam mengatur kegiatan mahasiswa, selain itu DEMA juga memiliki tugas pokok untuk mengkoordinir dan mengintrusikan kegiatan mahasiswa dengan organisasi yang ada dibawah naungannya.

Oleh karena itu jika kedua organisasi tersebut tidak berperan dengan sebagaimana mestinya maka sedikit banyak akan berpengaruh kepada mahasiswa dan organisasi yang lainya, karena kedua organisasi tersebut yang menjadi penyambung suara dari mahasiswa kepada petinggi kampus (Rektorat).

Setidaknya dari beberapa perguruan tinggi, IAI Al-Qolam adalah salah satu perguruan tinggi yang merasakan dampak dari ketidak-aktifan kedua ORMAWA tersebut (SEMA dan DEMA), khusunya didua dekade terakhir ini.

DEMA IAI Al-Qolam masa bakti 2019 – 2020 bisa dibilang jauh dari apa yang diharapkan oleh mahasiswa, pasalnya sudah satu periode bahkan lebih sejak terpilihnya pimpinan DEMA (Presma dan Wakil Presma) pada tanggal 24 Juli 2020, tidak ada kejelasan progam kerja yang dilaksanakan oleh pihak DEMA sendiri, hal ini dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak DEMA, hampir semuanya atas intruksi dari pihak rektorat, hal yang seperti ini membuat membuat DEMA sama seperti OSIS hanya sebagai pelaksana kegiatan.

Disisi lain hal yang sama terjadi pada SEMA IAI Al-Qolam, ORMAWA yang satu ini juga tidak tampak kontribusinya terhadap kampus, sudah dua periode lebih pengurus SEMA IAI Al-Qolam menduduki jabatannya, namun sampai saat ini belum terlihat apa sebenarnya fungsi SEMA di IAI Al-Qolam.

Ketidakjelasan progam kerja SEMA dan DEMA IAI Al-Qolam juga berpengaruh terhadap eksisitensi dari kedua organisasi tersebut. Hal ini terbukti dengan ada atau tidak adanya kegiatan yang dibuat oleh kedua ormawa tersebut mahasiswa IAI Al-Qolam tidak merasakan sesuatu yang kurang di kampus, bahkan tidak jarang beberapa mahasiswa IAI Al-Qolam tidak mengenal apa itu SEMA dan DEMA.

Kinerja SEMA dan DEMA IAI Al-Qolam periode 2019 – 2020 juga menjadi pertanyaan besar karena belakangan ini kedua organisasi tersebut sebagai wakil dari seluruh mahasiswa IAI Al-Qolam tidak lagi nampak eksistensinya, hal ini menimbulkan banyak pertanyaan, masih adakah DEMA dan SEMA di IAI Al Qolam, jika ada..

Kemana SEMA dan DEMA saat adanya COVID – 19..…?

Ditahun 2020 dunia pendidikan mengalami perubahan yang sangat signifikan dalam proses belajar mengajar, adanya COVID – 19 membuat proses belajar mengajar harus dilakukan secara daring (dalam jaringan) dengan alasan untuk mecegah penularan COVID – 19.

Banyak mahasiswa yang merasa keberatan dengan proses belajar yang baru ini, karena banyak mahasiswa yang menganggap kegiatan ini lebih identik dengan tugas online, belum lagi biaya yang mahasiswa keluarkan masih tetap seperti kuliah pada hari normal, serta banyaknya mahasiswa yang meminta tuntutan untuk tunjangan kuota.

Namun ketika adanya COVID – 19 yang membuat polemik dikampus tidak ada upaya yang dilakukan untuk mencari jalan keluar dari problem yang ada pada saat pandemi oleh pihak SEMA dan DEMA sebagai penyambung lidah mahasiswa kepada pihak rektorat.

Bagaimana Nasib HMJ sebagai organisasi yang ada dibawah naungan DEMA..?

HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) adalah sebuah organisasi yang berada dibawah pengawasan pihak DEMA dan SEMA, namun karena ketidak jelasan DEMA dan SEMA hingga saat ini HMJ harus menghadapi ketidakjelasan tentang organisasi, hal ini bisa dilihat setelah pemilihan serentak ketua dan wakil HMJ periode 2019 – 2020 hingga saat ini belum dilantik, padahal sebelumnya pengurus DEMA sudah menjanjikan pelantikan serentak kepada pengurus HMJ, Namun hal tersebut sempat terkendala karena adanya COVID – 19, tetapi sayangnya hingga saat ini setelah pemerintah memperbolehkan untuk melakukan kegiatan di luar rumah tidak ada tindak lanjut terkait pelantikan HMJ.

Apakah progam kerja untuk kedepannya..?

Jika memang SEMA dan DEMA di IAI Al-Qolam masih ada apakah program kerja mereka saat ini, disemester ganjil tahun ini IAI Al – Qolam sudah melaksanakan kegiatan perkuliahan secara luring (luar jaringan), namun sudah hampir setengah semester ini tidak ada progam kerja yang dilakukan oleh SEMA dan DEMA hingga hari ini. Jika memang tidak ada progam kerja yang perlu direalisasikan sampai kapan SEMA dan DEMA periode tahun ini akan berlalu.

Mengapa hanya bertahan jika hanya sebatas struktur mati…?

Jika kita melihat kembali persetujuan yang di buat pada forum MUBES yang diadakan ditahun lalu telah disepakati bahwa periode SEMA dan DEMA hanya berlaku selama satu tahun. Namun hingga saat ini kepengurusan DEMA dan SEMA masih tetap bertahan pada pengurus yang lama, meskipun periode mereka saat ini seharusnya telah berakhir. Entah apa yang menjadi pertimbangan dari pengurus SEMA dan DEMA sehingga mereka menunda estafet kepengurusannya hingga saat ini, padahal sudah kita ketahui bersama SEMA dan DEMA saat ini layaknya seonggok bangkai tak bernyawa.

Nampaknya patut kita tunggu langkah apa yang akan diambil oleh lembaga organisasi tertinggi mahasiswa tersebut. Apakah dengan besar hati dan juga sikap kesatria mereka dengan sadar diri mengakui bahwa dalam pemerintahannya telah gagal dan segera membentuk suatu proses transisi estafet kepemimpinan. Atau malah dengan bebal dan dan tak tau malu dengan percaya dirinya terus mempertahankan status quo ini lebih lama lagi?

Nah, apabila pilihan kedua yang akan diambil, maka mereka hari ini tak lagi punya hak untuk berbicara keadilan, amanah, anti korupsi, dan mengutuk pemerintahan yang ada. Karena faktanya dalam lingkup kecil mereka melakukan dan mempraktekkan apa yang dilakukan oleh penguasa hari ini mulai dalam kungkungan oligarki, sikap bebal, dan seterusnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.