Bahsul Masail Dengan Pendekatan Bahasa Indonesia

Ini sudah jadi tradisi dan saya berharap tradisi ini terus saya lanjutkan. Sudah ada tiga ujian promosi doktor dari dosen IAI Al-Qolam yang saya ikuti, dan masing-masing darinya saya buatkan tulisan.

Ketiga doktor yang saya sebutkan dimulai sejak Pak Husni, Cak Adib, dan Cak Gus Dur. Nah, kemarin (12-08-2021) Ketua Prodi Tadris Bahasa Indonesia di IAI Al-Qolam, Pak Kholik, melakukan ujian disertasi.

Dalam poster yang beredar di media sosial, Pak Kholik harus mempertahankan disertasinya di hadapan 6 penguji, yakni Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd., Dr. Nurchasanah, M.Pd., Dr. Roekhan, M.Pd., Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd., dan Dr. Ardianto, M.Pd.

Dengan tekad yang sudah dijelaskan di muka, saya membuat tulisan tentang ujian doktoral Pak Kholik. Tulisan ini saya anggap berfungsi seperti papan ucapan selamat atas keberhasilannya. Keberhasilan di bidang apa? Saya lebih tertarik keberhasilannya dalam berkarya daripada keberhasilannya mendapat gelar tertentu.

Tulisan ini, seperti sebelum-sebelumnya, saya usahakan hanya ringan-ringan saja. Tujuannya agar kisah tentang ujian disertasi adalah kisah yang gampang ‘dikunyah’ oleh kalangan non akademis. Kita tahu bersama, banyak orang merasa bahwa tulisan akademis di kampus-kampus terlalu menyundul langit, susah dipahami. Anggapan seperti ini tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak bisa disalahkan begitu saja. Ada alasan historis dan sosiologis yang melatarbelakanginya.

Pak Kholik melakukan ujian secara daring sebagai efek dari pemberlakuan PPKM. Meskipun daring, ujian itu dilakukan secara tertutup, hanya para undangan saja yang bisa mengikutinya selain promovendus, promotor dan para penguji. Kenyataan itu membuat tulisan ini sempat macet, sebab saya tidak tahu apa-apa mengenai isi disertasi Pak Kholik.

Andai dilakukan secara terbuka, para peserta biasanya dikasih ringkasan disertasi. Dari situ saya bisa tahu secara ringkas apa dan bagaimana gagasan sang promovendus dipertahankan. Kasus Pak Kholik ini lain. Saya sama sekali tidak tahu.

Untungnya, belakangan Pak Kholik berbaik hati memberi saya ringkasan disertasinya yang berupa slide power point. Dengan sangat bersemangat saya membaca ringkasan itu.

Pak Kholik mengambil program doktoral Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Malang. Untuk merampungkan studinya, dia meneliti fenomena kebahasaan dalam konteks Bahsul Masail (BM) di beberapa forum bahsul masail di Jawa Timur. Dengan demikian, Pak Kholik berusaha konsisten dengan konteks keilmuan di kampus tempatnya mengabdi, IAI Al-Qolam Malang, yang sudah sejak lama mendaku sebagai kampus berbasis pesantren.

Bagi pembaca yang belum akrab dengan istilah bahsul masail, perlu kiranya dipahami bahwa kegiatan ini berfungsi untuk membuat keputusan hukum secara kolektif. Keputusan hukum yang dihasilkan melalui bahsul masail dipercaya oleh kalangan pesantren sebagai memiliki kesahihan yang lebih terpercaya daripada keputusan hukum yang dibuat secara individu.

Persoalan hukum yang dibahas dalam bahsul masail berangkat dari pertanyaan seseorang (sā’il) atau dari kejadian yang dianggap penting (wāqi’ah). Dalam proses pembahasan itu, para peserta dibagi menjadi beberapa peran. Ada yang berperan menjadi (1) “moderator”, ada yang jadi (2) “perumus”, ada yang jadi (3) “muṣahhih”, dan sisanya disebut sebagai (4) “anggota sidang”.

Sebuah riset ilmiah dituntut untuk menyoroti objeknya dengan sangat spesifik. Riset tentang bahsul masail bukan berarti suatu penjelasan tentangnya selengkap-lengkapnya, melainkan hanya mengambil satu aspek saja darinya, lalu satu aspek itu dijelaskan serinci mungkin. Ini juga berlaku pada disertasinya Pak Kholik. Dia mengangkat topik tentang bahsul masail sebagai sebuah fenomena bahasa. Yang dia sorot cuma bahasa tutur yang digunakan oleh para peserta bahsul masail. Sespesifik itu.

Agar bahasa tutur para peserta bahsul masail bisa dijelaskan secara ringkas, Pak Kholik perlu menghimpunnya menjadi beberapa kategori. Penghimpunan semacam itu penting, sebab apa yang dituturkan oleh para peserta bahsul masail itu sangat banyak, dan jika tidak dihimpun dalam kategori-kategori maka yang harus diurai oleh Pak Kholik menjadi sangat banyak sekali. Itu sangat tidak efisien. Dengan upaya penghimpunan ini, kita berarti telah memasuki sesuatu yang khas riset ilmiah: kerangka teori. Sebuah teori sangat dibutuhkan oleh seorang peneliti, sebab ia bisa membantu si peneliti untuk berurusan dengan data dalam cara yang sangat mudah.

Salah satu teori yang digunakan oleh Pak Kholik untuk berurusan dengan data yang dimilikinya adalah Teori Tindakan Komunikatif. Teori ini dia pinjam dari Jürgen Habermas, salah satu filosof yang pemikirannya sangat kondang di Indonesia. Teori ini dituangkan Habermas dalam bukunya, The Theory of Communicative Action, yang pertama kali terbit tahun 1981 dan belakangan sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Berkat teori ini, Pak Kholik mengelompokkan datanya, yakni data tentang bahasa tutur peserta bahsul masail, ke dalam tiga kelompok klaim validitas: (1) klaim kebenaran, (2) klaim ketepatan, dan (3) klaim kejujuran. Saat ngomong bagaimana para peserta bahsul masail itu masuk dalam klaim-klaim itu? Saya tidak tahu pasti. Saya belum bisa menjawab pertanyaan ini karena rinciannya ada dalam disertasi Pak Kholik, dan sialnya belum bisa saya akses hingga saat ini. Namun untuk mengangksesnya cuma tinggal menunggu waktu, karena Universitas Negeri Malang biasanya mengunggah disertasi mahasiswanya ke direktori daringnya.

Selain menggunakan teori tindakan komunikatifnya Jürgen Habermas, Pak Kholik juga meminjam teori Argumentasi milik Stephen Toulmint dan teori Wacana Kritis milik Norman Firclough. Keduanya adalah teori yang baru saya kenal. Lagi-lagi, saya tidak bisa bicara banyak mengenai dua teori ini karena saya belum bisa mengakses disertasinya secara utuh. Biar bagaimanapun, disertasi Pak Kholik adalah salah satu sumbangan ilmiah dalam bidang kepesantrenan. Kita semua berharap agar hasil riset Pak Kholik ini kelak bisa diakses dengan lebih mudah, entah melalui buku atau melalui media lain, lalu didiskusikan dalam beberapa forum ilmiah.[]

Baca juga:
Doktor Husni dan Aksaranya
Doktor Antropolinguistik Itu Bernama Gusdur

Muhammad Hilal

Dosen IAI Al-Qolam. Penggemar filsafat. Penikmat kopi, buku, dan kesunyian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.